/
Jum'at, 03 Juni 2022 | 15:02 WIB
TANTRUM

Tetapi, arwah mereka diyakini masih bergentayangan. 

"Waktu itu di ruang tengah ada suara ramai kaya ada orang-orang lagi ngumpul, tapi ya itu, enggak ada siapa-siapa waktu dilihat," tutur Ahmad.

Salah satu pengunjung yang mengalami keanehan yaitu, Yanyan Herdiyan, mengaku mendengar cerita dari koleganya.

Dia dan koleganya itu, menjadwalkan pertemuan di cafe pengadilan cikal bakal kemerdekaan Indonesia ini. 

Yanyan bercerita dalam pertemuannya itu, koleganya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Padahal, mereka duduk saling berhadapan.

Koleganya ini hanya mengangguk dan menggeleng saat dibuka sampai berakhirnya percakapan. Yanyan heran dengan sikapnya itu, namun tidak menghiraukannya.
  
"Setelah dia pamit akan pulang, beberapa menit kemudian telepon saya berbunyi. Ternyata dari beliau, yang menghaturkan permintaan maaf atas tindakannya tadi. Namun dia bertanya, siapa orang yang beroman muka layaknya serdadu Belanda, yang duduk disamping saya ? Sontak saya menjawab, enggak ada siapa - siapa kok tadi," kata Yanyan.

Meski terdapat noni dan serdadu Belanda, gedung ini merupakan situs sejarah Indonesia yang harus tetap berdiri.

Saat itu prokalamator Soekarno muda memperjuangkan harkat dan martabat kemanusiaan, di hadapan pengadilan kolonial Belanda pada tahun 1930. Sebagai cikal bakal kemerdekaan Indonesia di kemudian hari. 

Kemudian situs ini dinamakan Gedung Indonesia Menggugat pada tahun 2005 oleh almarhum H.C. Mashudi, setelah dilakukan perbaikan secara fisik.

Gedung Indonesia Menggugat akhirnya diresmikan sebagai ruang publik pada tanggal 18 Juni 2007 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat‎. 

Load More