TANTRUM - Siapa yang tak kenal makanan fermentasi kimchi, kombucha, dan kefir? Kemungkinan besar masyarakat kini pernah mencicipinya, minimal mendengar jenis makanan tersebut.
Makanan fermentasi ini digadang - gadang terbukti mendiversifikasi mikrobioma usus, meningkatkan pencernaan, dan menurunkan peradangan.
Meski bermanfaat bagi tubuh, tetapi ada pula pertanyaan kapan waktu yang tepat untuk menyantapnya. Apakah sebelum perut diisi makanan atau sesudahnya.
“Makanan fermentasi biasanya baik untuk dimakan saat perut kosong karena membantu mendukung pencernaan,” kata Sarah Greenfield, RD, CSSD, ahli diet obat fungsional dan spesialis kesehatan usus dikutip dari Well and Good, ditulis 9 Juli 2022.
Sarah mengatakan makanan pahit merangsang produksi empedu dan HCL, yang membantu tubuh mencerna makanan lebih efisien.
Sarah menambahkan mereka juga mengandung asetat, yang membantu memberi makan dan bahan bakar bakteri baik di usus.
Namun, ada pengecualian untuk aturan umum ini, terutama jika seseorang sensitif terhadap makanan tertentu, kondisi kesehatan, atau ketidakseimbangan usus.
Sarah mengatakan jika sensitif atau reaktif saat mengonsumsi kubis, kimchi atau asinan kubis saat perut kosong, sebaiknya hindari. Sebab hal tersebut dapat memperburuk gangguan pencernaan.
Selain itu, jika sedang berjuang dengan gangguan pencernaan atau sakit perut, Sarah memperingatkan agar tidak makan makanan fermentasi dengan perut kosong dan bahkan dalam diet secara keseluruhan.
Baca Juga: Resep Malbi Palembang Nan Gurih Dan Lezat, Olahan Daging Menu Idul Adha
"Jika mikrobioma usus Anda tidak seimbang, makanan fermentasi sebenarnya dapat membuat banyak ketidaknyamanan pencernaan dalam bentuk kembung, dan bahkan diare dan sembelit dalam beberapa kasus," kata Sarah.
Sarah juga menyebutkan bahwa mereka yang menderita sindrom iritasi usus besar juga wajib hindari mengonsumsi makanan fermentasi saat perut kosong karena ketidakseimbangan usus. Hal yang sama berlaku untuk orang yang memiliki pertumbuhan berlebih ragi.
“Saya melakukan banyak pengujian sensitivitas makanan, dan jika saya menemukan tingkat reaktivitas yang tinggi terhadap candida albicans (sejenis jamur), biasanya itu merupakan indikasi bahwa makanan fermentasi tidak akan ditoleransi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh,” ucap Sarah.
Makanan fermentasi memang memiliki sederet manfaat untuk usus. Tetapi jika berurusan dengan masalah pencernaan atau sensitivitas, mungkin yang terbaik adalah mengonsumsinya dalam jumlah sedang dan tidak dengan perut kosong.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Lebih dari Sekadar Jazz! MLDSPOT Siap Bawa Vibes 'Fresh 'N Cool' ke Java Jazz Festival 2026
-
Viral Pocong Bawa Parang Datangi Rumah Warga di Pelalawan, Polisi Turun Tangan
-
Digeruduk Yakuza Mangenes, Pengasuh Ponpes Pekalongan Ditangkap usai Diduga Cabuli 25 Santri
-
Lansia Tewas Terbakar-Suami Kritis, Polisi Tangkap 9 Orang di Bengkalis
-
TNI AL Gagalkan Penyelundupan Puluhan Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tampil Elegan di Hari Raya, Koleksi Hijab Ini Angkat Kerinduan pada Keindahan Tanah Suci
-
Giliran Plt Gubri SF Hariyanto Rombak Habis Jajaran Dinas PUPR Riau
-
Takbiran Idul Adha Berapa Hari? Ini Perbedaannya dengan Takbir Idul Fitri
-
5 HP Midrange Kamera Terbaik 2026 yang Wajib Dilirik, Hasil Foto Setara Flagship!
-
30 Menit di Neraka Azteca: Semifinal Paling Gila yang Ubah Sejarah Piala Dunia