/
Jum'at, 22 Juli 2022 | 11:27 WIB
Peta Indonesia. (PVMBG)

TANTRUM - Indonesia harus serius mengembangkan pendidikan manajemen risiko bencana yang terintegrasi dengan sistem informasi geografis dan penginderaan jauh. Ini penting dilakukan karena segala potensi bencana ada di Indonesia. Bahkan Indonesia menjadi supermarketnya bencana. 

Hal itu terungkap dalam Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Prodi PSL) Sekolah Pascasarjana IPB University yang mengadakan acara Simposium Internasional UN4DRR, yang dikutip dari IPB University, Jumat (22/7/2022).

Ketua University Network for Disaster Risk Reduction (UN4DRR) IPB University, Widiatmaka, seluruh kegiatan UN4DRR IPB University telah dilakukan sejak tahun 2020 dan akan berakhir pada tahun 2023 mendatang. 

“Beberapa komponen kelompok kegiatan tersebut antara lain peningkatan kurikulum, peningkatan kapasitas, pengembangan laboratorium dan peralatan serta sosialisasi kepada pemangku kepentingan nasional dan internasional,” ujarnya.

Bagi Indonesia, topik pengurangan risiko bencana sangat penting dan relevan mengingat tingginya potensi bencana di Indonesia. Letak Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik geologi menyebabkan secara geografis Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. 

“Di Indonesia, merupakan negara supermarket bencana artinya cukup banyak bencana yang ada di Indonesia, mulai dari bencana geologi, bencana hidrometerologi sampai bencana akibat ulah manusia seperti kebakaran hutan dan lahan,” ujar Prof Widiatmaka. 

Kegiatan UN4DRR dilakukan secara daring, diikuti oleh 108 peserta dan akan ada 100 peserta presentasi lisan yang berasal dari Indonesia dan luar negeri. UN4DRR sendiri merupakan konsorsium yang terdiri dari 9 universitas dari 7 negara yaitu Vrije Universiteit Brussel (Belgia), Universitat Politecnica de Valencia (Spanyol), Universitas Nicosia (Siprus), Universitas Zagreb (Kroasia), Universitas Nasional Maladewa, Universitas Paradeniya (Sri Lanka), Universitas Colombo (Sri Lanka), IPB University dan Universitas Syiah Kuala. 

Acara ini dibuka oleh Rektor IPB University Prof Arif Satria. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan, “Kita telah banyak belajar bahwa wabah COVID-19 sejak tahun 2020 telah mengubah dunia termasuk kehidupan kita sehari-hari yang dikenal dengan tatanan new normal. Para lmuwan, peneliti, mahasiswa, praktisi, pembuat kebijakan, dan pelaku bisnis telah berhasil beradaptasi dengan kondisi new normal saat ini. Kita harus menjaga kontak dengan sesama dan membuat aktivitas dapat dilakukan melalui berbagai cara antara lain secara daring seperti hari ini,” kata Arif Satria.

Ia menambahkan, acara ini merupakan forum yang sangat baik bagi mereka yang terlibat dalam disiplin ilmu multidisiplin tentang isu-isu dan tren yang muncul dalam manajemen bencara dan ilmu lingkungan. 

Baca Juga: Buat Konten Perceraian Jadi Bahan Lelucon, Pasangan Ini Tuai Hujatan

“Pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana dan pengelolaan lingkungan jangka panjang harus dimanfaatkan untuk mendidik masyarakat terutama untuk masa depan dalam pengelolaan bencana alam akibat ulah manusia”, katanya.

Rektor menyampaikan harapannya, acara ini dapat menghasilkan perspektif baru untuk memperkuat agenda pembangunan berkelanjutan yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan sebagaimana tertuang dalam 17 Sustainable Development Goals (SDGs).

Load More