TANTRUM - Hujan hampir setiap hari terjadi dan bersifat persisten atau berlanjut dari siang hingga malam hari bahkan tengah malam di sejumlah kawasan di Jawa bagian barat.
Mengapa hujan masih intensif terjadi setiap hari di wilayah Jawa bagian barat sepanjang bulan Oktober 2022? Kawasan Jawa Barat yang dimaksud termasuk wilayah Banten dan Jabodetabek.
Padahal kata Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, di belahan bumi utara Samudra Pasifik, saat ini terbentuk setidaknya empat rangkaian bibit siklon tropis.
"Dampakya menarik awan-awan konvektif di atas wilayah Indonesia sehingga sebagian besar wilayah di selatan dan tenggara Indonesia saat ini minim awan," ujar Erma, ditulis Selasa, 18 Oktober 2022.
Menurut Erma, minimnya awan tidak menyebabkan frekuensi hujan harian menjadi berkurang untuk wilayah Jawa Barat. Hal ini terjadi karena terdapat beberapa lokasi yang menjadi hotspot hujan di Jawa Barat.
Hotspot hujan merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahwa pada lokasi tersebut titik permulaan hujan terbentuk sekaligus bersifat menjalarkan atau meluaskan hujan ke wilayah-wilayah lain di sekitarnya.
Seperti diketahui, wilayah Jawa Barat bagian selatan merupakan dataran tinggi yang terdiri dari banyak gunung.
"Topografi pegunungan di selatan Jabar inilah saat ini yang memiliki peran menjadi hotspot hujan dengan penguatan yang signifikan dalam menghasilkan hujan yang memanjang dan meluas ke utara," kata Erma.
Berdasarkan pantauan terhadap data hujan dari Satellite-Based Disaster Early Warning System (SADEWA) resolusi tinggi (1 km), terdapat setidaknya empat hotspot utama hujan di Jawa Barat, yaitu Gunung Salak, Gunung Gede Pangrango, Gunung Burangrang, dan Gunung Tangkuban Parahu.
Baca Juga: Terungkap di Dakwaan, Tembakan Penghabisan Ferdy Sambo ke Yosua
Gunung Salak dan Gede menjadi hotspot hujan yang berperan dalam menghasilkan hujan dan segera bermigrasi atau meluas ke utara yaitu ke wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.
Tak jarang hujan yang dihasilkan dari kedua gunung tersebut mengalami penggabungan sehingga membentuk suatu sistem badai yang besar dan luas.
"Ketika badai tersebut menjalar ke utara (Depok dan Jakarta), sistem tersebut kembali bergabung dengan hujan dari pesisir barat Banten sehingga menimbulkan perluasan dan penggandaan sel hujan. Inilah yang membuat hujan persisten (menerus) hingga malam hari," jelas Erma.
Demikian pula yang terjadi dengan hotspot hujan Burangrang dan Tangkuban Parahu yang juga berperan dalam perluasan area hujan peningkatan intensitas dan durasi bagi hujan di wilayah Purwakarta dan Bandung.
Hujan di Purwakarta sering meluas dan menjalar menuju Karawang, Cikarang, bahkan hingga ke Pamanukan.
Sementara itu, hujan dari hotspot Tangkuban memodulasi hujan di Bandung yang dapat mengalami perluasan hingga wilayah di Cimahi, Padalarang, Cileunyi, dan selatan Bandung.
"Hal ini membuat Bogor dan Bandung berpotensi menjadi dua wilayah di dekat pegunungan yang saat ini mengalami hujan terus menerus dan tak jarang sedang hingga lebat karena efek aliran hujan dari pegunungan terdekat yang menjadi hotspot hujan," ucap Erma.
Untuk kondisi yang minim awan di selatan Indonesia pun, hotspot utama tersebut tetap berperan penting dalam mengonsentrasikan dan mendistribusikan hujan di Jawa Barat.
Caranya yaitu dengan meningkatkan intensitas hujan dari hujan ringan atau sedang menjadi hujan lebat melalui pembentukan awan konvektif kuat (deep convective cloud) yang berpotensi membangkitkan badai.
Selain itu, pegunungan tersebut juga berperan dalam memicu gelombang gravitas di atmosfer sehingga penjalaran hujan terjadi lebih cepat, yang memungkinkan penggabungan banyak sel-sel hujan menjadi satu sistem badai berskala meso atau radius puluhan hingga kurang dari 100 km.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Tanker Gas Amerika Serikat di Mesir Diserang Drone, Meledak Keras
-
Apakah Chemical Sunscreen Cocok untuk Kulit Berminyak? Ini 5 Rekomendasinya yang Terbaik
-
BRIvolution Reignite Percepat Transformasi dan Perkokoh Kontribusi Danantara untuk Ekonomi Nasional
-
Bupati Pemalang Minta Maaf Tapi Bantah Jual Beli Jabatan: Nggak Ada Itu
-
52 Ribu Hektare Mangrove Rusak Tiap Tahun, Kondisinya Kian Mengkhawatirkan
-
Transformasi BRIvolution Reignite Melaju Pesat, Perkuat Kontribusi Danantara bagi Perekonomian
-
2 Kopi Lokal Berbahaya Temuan BPOM, Mengandung Obat Keras dan Pakai Izin Edar Palsu
-
BRIvolution Reignite Jadi Transformasi BRI, Perbesar Kontribusi Danantara terhadap Ekonomi Nasional
-
BRIvolution Reignite Kian Akseleratif, Perkuat Peran Danantara dalam Mendorong Ekonomi Nasional
-
BRI Percepat BRIvolution Reignite untuk Tingkatkan Daya Saing dan Kontribusi Ekonomi Nasional