/
Rabu, 28 Desember 2022 | 16:47 WIB
gedung BNI

TANTRUM - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dan PT Gunung Raja Paksi (GRP) bekerja sama dalam inisiatif strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) guna mewujudkan ekonomi berkelanjutan.

GRP sebagai anggota Gunung Steel Group, salah satu pembuat baja swasta di Indonesia ini menjadi pabrik baja pertama yang mendapatkan Sustainability Linked Loan (SLL) sebesar 32 juta dolar AS atau setara Rp 500 miliar melalui BNI.

Chief Financial Officer GRP Roymond Wong mengatakan, kredit bilateral lima tahun yang telah ditandatangani sejak Juni 2022 ini akan digunakan untuk mendanai salah satu inisiatif keberlanjutan GRP, yang mencakup proyek Light Section Mill (LSM) yang baru saja diresmikan. 

Roymond menyampaikan hal ini merupakan lanjutan dari rangkaian inisiatif perusahaan setelah peresmian ESG Strategy Handbook bulan Oktober lalu yang proses nya berkolaborasi dengan PT ERM Indonesia.

Proses penilaian ESG Risk Rating ini pun dilakukan oleh pihak independen dan berskala internasional, dengan diserahkannya kedua laporan ini kepada pihak bank, perusahaan akan mendapatkan insentif ekonomi lebih lanjut.

Perseroan berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi operasional melalui penurunan konsumsi energi sehingga diharapkan mampu berkontribusi positif pada pengurangan emisi karbon. 

Terlebih, GRP berkomitmen mendukung program pemerintah dalam mewujudkan net zero emission (NZE) pada 2060 melalui Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Net Zero Hub.

"Kami mengapresiasi dukungan BNI ini. Tentunya, langkah strategis bersama ini tidak hanya mendorong metode produksi yang berkelanjutan bagi GRP, tetapi juga memungkinkan Indonesia untuk mempercepat upaya dekarbonisasi,” kata Roymond.

Direktur Enterprise & Commercial Banking BNI Muhammad Iqbal mengatakan, GRP adalah pelaku industri yang cukup terdepan dalam menerapkan metode produksi yang berkelanjutan.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Hp Iphone untuk Gaming yang Murah dan Mumpuni

Iqbal memaparkan BNI sebagai pionir green banking di Indonesia berharap dapat terus mendorong perubahan menuju masa depan kegiatan usaha yang berkelanjutan serta kerja sama bisnis yang menyeluruh dengan GRP.

"Kami sangat berterima kasih karena diberikan kesempatan ikut bersama berkontribusi dalam mewujudkan green ekonomi," katanya.

Adapun proyeksi baru-baru ini oleh PwC dan Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) mengungkapkan penggunaan baja di Indonesia telah mencapai 18,1 juta ton, meningkat 7,6 persen dibandingkan tahun 2021.

Studi yang sama juga memproyeksikan bahwa perkiraan konsumsi baja oleh 2050 adalah 125 juta ton, yang sebagian besar didorong oleh sektor konstruksi yang dengan sendirinya menyumbang hingga 75 persen dari permintaan baja.

Load More