News / Nasional
Senin, 01 Juni 2026 | 22:48 WIB
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat diwawancarai awak media di Bandar Udara London Stansted, Inggris, sebelum lepas landas menuju Swiss, Rabu (21/1/2026). [Suara.com/Novian]
Baca 10 detik
  • Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan kunjungan luar negeri Presiden Prabowo merupakan strategi diplomasi untuk memperkuat hubungan internasional.
  • Tujuan utama kunjungan tersebut adalah membangun kepercayaan serta kedekatan antarpemimpin guna menghadapi ketidakpastian kondisi global secara lebih efektif.
  • Presiden Prabowo bersama Menteri Luar Negeri menentukan prioritas pertemuan diplomatik berdasarkan kepentingan nasional serta perkembangan situasi yang mendesak.

Suara.com - Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari strategi diplomasi untuk memperkuat hubungan dengan para pemimpin dunia di tengah situasi global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.

Pernyataan itu disampaikan Teddy sebagai tanggapan atas sejumlah masukan yang sebelumnya disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, terkait aktivitas perjalanan luar negeri Presiden.

Menurut Teddy, hubungan antarpemimpin negara tidak bisa dibangun secara mendadak ketika krisis terjadi. Karena itu, Presiden perlu menjalin kedekatan dan kepercayaan sejak awal melalui komunikasi yang intensif dengan kepala negara lain.

"Setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan, tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan dan begitu pula sebaliknya," kata Teddy.

Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memimpin Indonesia di tengah berbagai gejolak internasional yang terjadi di sejumlah kawasan. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut peran aktif kepala negara dalam menjaga komunikasi dan membangun jejaring diplomatik secara langsung.

Teddy juga menegaskan bahwa agenda Presiden disusun berdasarkan kebutuhan strategis, baik yang telah direncanakan jauh hari maupun yang muncul karena perkembangan situasi nasional dan internasional.

Selain melalui pertemuan resmi yang diketahui publik, hubungan diplomatik juga kerap dibangun melalui komunikasi personal yang tidak selalu diumumkan secara terbuka.

Menanggapi usulan Dino agar Presiden lebih memanfaatkan forum internasional untuk bertemu banyak pemimpin negara sekaligus, Teddy mengatakan keputusan mengenai pertemuan bilateral maupun kunjungan khusus sepenuhnya ditentukan oleh Presiden bersama Menteri Luar Negeri berdasarkan prioritas kepentingan nasional.

"Beliau lah yang mengetahui mana yang prioritas, mana pertemuan yang harus diutamakan. Mana pertemuan yang bisa langsung ataupun cukup menggunakan telpon, mana pertemuan yang perlu diberitakan, mana yang tidak diberitakan," terang Teddy.

Baca Juga: Bukan Sekadar Seremonial, Seskab Teddy Beberkan 7 Prestasi Diplomasi Prabowo: Investasi Rp 2.430 T

Ia menambahkan, diplomasi tidak selalu harus dilakukan melalui kunjungan tatap muka. Dalam kondisi tertentu, komunikasi dapat berlangsung melalui sambungan telepon maupun jalur diplomatik lainnya yang dianggap lebih efektif.

Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, menyoroti sejumlah aspek terkait perjalanan luar negeri Presiden Prabowo, mulai dari pembiayaan kunjungan, jumlah rombongan yang menyertai, transparansi agenda perjalanan, hingga frekuensi kunjungan ke berbagai negara selama sekitar satu setengah tahun masa pemerintahan. Dino juga mengusulkan agar pertemuan dengan kepala negara lain lebih banyak dilakukan di sela-sela forum internasional untuk meningkatkan efisiensi diplomasi.
 
 
 

Load More