/
Senin, 06 Maret 2023 | 21:26 WIB
Jason Arday belum bisa membaca hingga usia 18 tahun. ((The Guardian))

Tekad dan semangat Arday membuatnya bisa menempuh pendidikan dan berkuliah.

Di usia 19 tahun, Jason mulai giat belajar membaca. Saat siang hari ia bekerja mengajar sebagai guru olahraga, dan malam harinya ia habiskan untuk menempuh berbagai pendidikan tambahan.

Selama kuliah, perjalanan Arday tidaklah mulus. Menurut pengakuan Arday, ia tidak pernah memiliki mentor yang mengajarinya menulis secara akademis.

Arday juga seringkali mendapat penolakan dari beberapa pihak.

“Semua yang saya serahkan ditolak mentah-mentah. Proses peer review sangat kejam, hampir lucu. Namun, saya menerima itu semua sebagai pengalaman belajar, dan saya mulai menikmatinya,” tutur Arday kepada The Times.

Dalam menghadapi kesulitan, dia sangat bertekad mengubah pasang surut kehidupan menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Usaha tidak mengkhianati hasil

Dia melanjutkan proses untuk mendapatkan dua kualifikasi master setelah menerima gelar dalam pendidikan jasmani dan studi pendidikan dari University of Surrey.

Arday akhirnya berhasil meraih gelar PhD dari Liverpool John Moores University pada 2016.

Baca Juga: Musim Depan Persib Terancam Kehilangan 1 Pemain Naturalisasi

Arday menerbitkan makalah ilmiah pertamanya pada 2018, menjadi salah satu profesor termuda di seluruh Inggris ketika ia mendapatkan pekerjaan di Sekolah Pendidikan Universitas Glasgow.

"Pekerjaan saya berfokus pada bagaimana kita dapat membuka pintu dan kesempatan bagi lebih banyak orang dari latar belakang yang kurang beruntung. Saya benar-benar memberikan kebebasan dalam ranah pendidikan," ucap profesor bidang Sosiologi Universitas Cambridge tersebut.

Jason yang dulu dicap bodoh, kini telah berubah menjadi sosok jenius dan menerima gelar profesor dari 3 universitas. (*/editor zahran)

Load More