Suara.com - Penguasaan teknologi satelit yang dimiliki Indonesia berada di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura maupun Vietnam, kata Deputi Teknologi Dirgantara LAPAN, Rika Andiarti dalam sosialisais pemanfaatan teknologi Satelit LAPAN A2/Orari di Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/8/2015).
Saat ini negara melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN, Indonesia mencoba mengejar ketertinggalan tersebut dengan terus mengembangkan teknologi satelit, katanya.
"Negara kita sedang gencar-gencarnya mengejar ketertinggalan setelit, seperti Vietnam sudah membeli satelit optik dari Amerika, begitu juga dengan Thailand juga sudah membeli dari Eropa, bahkan Malaysia sudah membangun fasilitas IT satelit untuk negaranya," ia mengatakan.
Rika mengatakan, sejak awal 2003 Indonesia sudah mulai mengembangkan satelit mikro lebih dulu dibanding negara-negara sahabat. Pengembangan satelit ini dilakukan bekerja sama dengan negara luar, yakni Jerman.
Langkah tersebut mulai ditiru oleh negara-negara tetangga, seperti Malaysia pun sudah mengembangkan satelit mikro yang bekerja sama dengan Inggris. Kini Malaysia sudah memiliki dua satelit masing-masing berbobot 200 kg dan 1.000 kg.
"Ternyata setelah langkah Indonesia melakukan pengembangan satelit dengan bekerja sama di luar, banyak negara-negara lain setelah itu juga mulai mengembangkannya bahkan lebih aktif lagi dibanding kita," katanya.
Singapura yang ikut meniru cara Indonesia memulai kerja sama membuat satelit di luar, bahkan sudah lebih cepat dengan membuat satelit kelas 500 kg yang diluncurkan 2015 ini.
"Singapura juga membuat fasilitas AIT," kata dia.
Selanjutnya Thailand juga sudah membeli dua satelit operasional dari Francis dengan bobot 750 kg pada tahun 2008, lalu membeli lagi satelit kedua dengan bobot yang sama. Menyusul Vietnam yang awalnya membeli satelit sudah jadi, kini sudah membangun fasilitas produksi satelit di dalam negeri.
"Vietnam sebelumnya sudah meluncurkan dua satelitnya, sekarang mereka sedang mengembangkan satelit radar dengan Jepang," katanya.
Ia mengatakan, saat ini Indonesia sedang bersaing dengan negara-negara tetangga, yang sudah lebih jauh perkembangan teknologi satelitnya. Mengejar ketertinggalannya, LAPAN mencoba membuat satelit tidak hanya satelit operasional tetapi satelit lainnya.
"Kita akan menguasai satelit pengindaran jarak jauh dan komunikasi. Ini akan mengejar ketertinggalan kita," katanya.
Saat ini Indonesia sudah mengembangkan satelit mikro dengan bobot 100 kg, dan membangun fasilitas AIT yakni perancang, pembangunan dan pengujian satelit. Tahap kedua, akan dikembangkan satelit operasional dalam negeri yang dapat diluncurkan di Indonesia menggunakan roket pegasus dari Biak.
Menurut Rika, kendala yang dihadapi dalam pengembangan teknologi satelit adalah anggaran. Karena pembuatan satelit membutuhkan anggaran yang sangat besar, terutama untuk pengembangan satelit operasional.
Ia mengatakan, dukungan pemerintah terhadap pengembangan teknologi satelit sudah cukup bagus, khususnya untuk satelit sekelas mikro. Anggaran yang diberikan oleh pemeirntah cukup terencana sampai 2019 yakni mulai dari satelit LAPAN-A1 sampai LAPAN-A5.
"Tetapi untuk satelit generasi selanjutnya yang merupakan lompatan besar ke arah satelit operasional, kita harus berjuang mendapatkan anggaran, meyakinkan pemerintah bahwa satelit penting dan pemanfaatannya untuk kepentingan nasional," katanya.
Rika menambahkan, upaya yang dilakukan LAPAN untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam teknologi satelit, ada beberapa tahapan yang dilakukan yakni dengan cara lambat, moderat dan agresif.
"JIka kita tidak mendapat anggaran yang cukup besar, maka dibuat cara moderat, membentuk konsorsium, LAPAN akan bekerja sama dengan perguruan tinggi, mengerahkan semua potensi yang ada, dengan anggaran yang tidak terlalu besar, tapi mungkin akan memakan waktu, tapi kita optimistis Indonesia bisa," katanya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
5 HP Tahan Banting dengan Layar Gorilla Glass Victus, Mulai dari Rp3 Jutaan
-
26 Kode Redeem FC Mobile, Cek Bug Event Songkran dan Klaim 500 Permata Gratis
-
4 HP Fast Charging 100W Terbaik Mulai Harga Rp3 Jutaan
-
41 Kode Redeem FF 2 April 2026, Waspada April Mop dari Garena
-
6 HP RAM 12 GB Paling Murah untuk Multitasking Lancar Gaming Mulus
-
Budget Rp2 Jutaan Mending Beli HP Apa? Ini 5 Pilihan Paling Gacor dan Awet
-
RRQ dan ONIC Terpilih Masuk Jajaran 40 Klub Esports Elit Dunia, Terima Suntikan Dana Segar
-
Fujifilm Rilis instax WIDE 400 JET BLACK untuk Pecinta Fotografi Analog
-
Poco X8 Pro Series Meluncur di Indonesia, Siap Jadi Senjata Gamer Naik Kelas
-
BMKG Klarifikasi Peringatan Dini Tsunami Maluku Utara untuk Keamanan Masyarakat