Suara.com - Venus sering dijuluki "kembaran Bumi". Alasannya sederhana, karena ukuran dua planet yang bersisian ini hampir sama. Tetapi Anda tak bisa hidup di Venus, karena atmosfer planet itu penuh racun dan suhu permukannya mencapai 864 derajat - cukup untuk melelehkan logam.
Tetapi 3 miliar tahun silam situasinya berbeda, demikian kata para ilmuwan dari Instute Studi Antariksa Goddard, sebuah lembaga riset di bawah badan antariksa Amerika Serikat (NASA).
Para ilmuwan NASA itu menggunakan model komputer - yang sebelumnya dikembangkan untuk memprediksi perubahan iklim di Bumi - menerapkannya pada Venus dan menemukan bahwa dulunya Venus lebih layak didiami. Lebih dari itu, Venus muda lebih mirip Bumi.
Mereka yakin bahwa miliaran tahun silam Venus memiliki sebuah lautan dangkal dan suhu di permukaanya lebih sejuk. Selama sekitar 2 miliar tahun di awal terbentuknya, langit Venus selalu ditudungi awan-awan tebal yang melindungi permukaan planet dari panas dan radiasi.
Belajar dari kekeliruan
Tetapi karena Venus lebih dekat dengan matahari ketimbang Bumi, maka air di permukaannya lebih mudah menguap, hidrogen-hidrogennya lepas ke angkasa, dan memerangkap karbon dioksida di atsmofer. Ini mengakibatkan efek rumah kaca yang berkepanjangan dan membuat atsmofer Venus penuh racun.
Topografi Venus juga dibentuk oleh letusan gunung api, sehingga lembah dan cekungan dipermukannya perlahan-lahan, selama miliaran tahun, ditimbun dan tak menyisakan ruang untuk air.
Berdasarkan temuan ini, para peneliti Venus terdahulu, cenderung menyederhanakan planet itu. Mereka cenderung menjiplak Bumi dan topografinya dan menempatkannya di orbit Venus.
Tetapi tim peneliti NASA yang dipimpin oleh Michael Way, ingin menciptakan sebuah model 3 dimensi Venus memanfaatkan data-data topografi terbaru planet tersebut.
Berdasarkan studi-studi lama, Way dkk mengetahui bahwa beberapa faktor pendukung kehidupan di Venus adalah kecepatan rotasi dan topografinya. Venus diketahui berotasi lebih pelan dan berlawanan dengan arah rotasi Bumi atau planet lainnya. Para ilmuwan menduga ini disebabkan oleh atsmofernya yang tebal.
Tetapi sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa meski atsmofer Venus lebih tipis, kecepatan dan arah rotasinya akan tetap lebih pelan.
Asal-muasal kehidupan?
Berdasarkan model inilah Way dkk kemudian menemukan bahwa Venus muda memang lebih sejuk dan lebih mirip Bumi. Tetapi apakah ia memiliki kehidupan?
"Air tak berarti ada kehidupan," tekan Way, "Kami yakin bahwa air bisa mendukung kehidupan. Tetapi Venus bukan tempat yang mudah untuk memulai kehidupan. Pada awalnya suhu Venus hangat dan lembab, tetapi 4 miliar tahun kemudian ia adalah planet mati," jelas Way kepada CNN.
"Tetapi pemodelan yang kami bangun menunjukkan bahwa, Venus bisa jadi merupakan tempat yang tepat untuk mencari asal-muasal kehidupan," kata Way.
Kemungkinan ini diperbesar dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa Bumi dan Venus memiliki komposisi yang sama. Venus memiliki siklus dan struktur karbon yang sama dengan yang terdapat pada lempengan tektonik Bumi. Selain itu, keduanya juga kaya akan karbon dioksida.
Way mengatakan misi penelitian pada masa depan akan membuktikan jumlah air di Venus, bagaimana air itu lenyap, dan berapa lama proses lenyapnya air itu berlangsung. Tak hanya itu, penelitian di Venus juga bisa menunjukkan material lain di permukaan Venus selain air.
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Pokemon Evolusi Mega ex Hadir dalam Format Starter Deck Siap Main
-
OLX Luncurkan Kategori Barang Gratis untuk Mempermudah Berbagi Selama Ramadan
-
Harga dan Spesifikasi Huawei Band 11 Series Resmi di Indonesia, Layar AMOLED 1,62 Inci
-
4 HP OPPO RAM 8 GB Paling Murah Februari 2026 Mulai Rp2 Jutaan
-
Ampverse Resmi Ekspansi ke Indonesia, Andalkan AI dan Gaming Intelligence
-
Alasan ASUS ExpertBook P1 P1403 Cocok untuk Pebisnis UMKM
-
5 HP Kamera Bagus untuk Lebaran Mulai Rp3 Jutaan, Hasil Foto Jernih Tak Perlu Sewa iPhone
-
Indosat HiFi Air Resmi Hadir, Internet Rumah Tanpa Kabel Bisa Dibawa Mudik dan Langsung Aktif
-
27 Kode Redeem FF 27 Februari 2026: Ada Skin SG2, Angelic, Hingga Bundle Jujutsu Kaisen
-
25 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 27 Februari 2026: Klaim Pemain OVR 117 dan Ribuan Gems Gratis