Suara.com - Salah satu platform media sosial Twitter tak selalu berisi tentang cuitan "receh" kaum milenial, tetapi juga topik serius seperti saat memperingati hari penting di Indonesia. Salah satunya adalah Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober 2018 kali ini.
Warganet beramai-ramai memosting cuitan Hari Kesaktian Pancasila lengkap dengan tagarnya yang kini menjadi trending topic pertama Indonesia.
Hari Kesaktian Pancasila sendiri lahir ketika dulu pada tanggal 30 September 1965 terjadi insiden yang dinamakan Gerakan 30 September (G30S). Insiden ini masih menjadi perdebatan di tengah lingkungan akademisi mengenai siapa penggiatnya dan apa motif di belakangnya.
Akan tetapi, otoritas militer dan kelompok keagamaan terbesar saat itu menyebarkan kabar bahwa insiden tersebut merupakan usaha PKI mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis. Pada hari itu, enam Jenderal dan satu Kapten serta beberapa orang lainnya dibunuh oleh oknum-oknum yang digambarkan pemerintah sebagai upaya kudeta.
Gejolak yang timbul akibat G30S sendiri pada akhirnya berhasil diredam oleh otoritas militer Indonesia. Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Oleh karena itu, dengan total lebih dari 7.000 tweet, berbagai lapisan masyarakat ikut serta meramaikan tagar #HariKesaktianPancasila. Tak hanya warganet, bahkan akun Twitter TMC Polda Metro Jaya juga mengucapkan selamat Hari Kesaktian Pancasila.
"Para pendahulu kita telah berhasil menjaga Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Kini giliran kita menjaganya! Selamat Hari Kesaktian Pancasila," tulis pemilik akun GeneralMoeldoko.
"Biarkan masa lalu tentang pemberontakan #G30SPKI menjadi tonggak sejarah bahwa bangsa Indonesia harus bisa lebih bersatu melawan bahaya laten PKI sampai kapan pun. Kami ingin selalu menjadi NKRI sebagai bangsa yang berdaulat dengan Pancasila dan bendera merah putih sepanjang masa. #HariKesaktianPancasila," tulis akun BangPino_.
"Hal yang paling terpenting dalam suatu negara adalah bukan siapa pemimpinnya melainkan Persatuan dan Kesatuan Seluruh Warga Indonesia. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Pancasila adalah penyatu kita. Pancasila adalah kita. #HariKesaktianPancasila," tambah akun Alfredo_Kaway.
Baca Juga: Ini 5 Tips Manfaatkan Twitter dalam Keadaan Darurat
"Sementara itu di tempat yang sama, petugas upacara pembaca doa berharap di Hari Kesaktian Pancasila menjadi momen untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa," tulis SastroKecil.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
The Blanket Cats: Ketika Kehadiran Kucing Menjadi Obat bagi Luka Hati
-
Krisis Imigran Maroko ke Spanyol Disorot, Dugaan Ada Campur Tangan Israel
-
Kisah Haru Lia di Sekolah Rakyat, Untuk Pertama Kalinya Mengenakan Seragam Baru
-
Harga Cuma Rp1 Jutaan, 5 HP Ini Punya Kamera di Atas Ekspektasi
-
Telan Anggaran Rp 3,82 Triliun, Purbaya Minta Fasilitas Sekolah Rakyat Layak Dipakai
-
Kapal Mutiara Sentosa Terbakar di Perairan Madura, Penumpang Terjun ke Laut
-
Kinerja Ekspor Industri Tekstil RI Diproyeksi Moncer pada 2027, Tumbuh hingga 4%
-
Disumbang Pemerintah, Laba Bersih Pupuk Indonesia Meroket 250,3% di Semester I-2026
-
Pemda Guyur Anggaran Rp 500 Juta buat Alokasi Pendidikan
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri