"Masuknya manusia ke habitat satwa liar serta berkurangnya dan rusaknya habitat akibat ini, ditambah dengan transportasi, penyimpanan, dan perdagangan satwa liar menciptakan kondisi yang ideal bagi penyebaran pathogen di antara spesies yang sebelumnya tidak memiliki kontak langsung."
"Beberapa bukti menunjukkan risiko wabah zoonotik, atau wabah penyakit yang bersumber dari hewan, namun loncat ke manusia meningkat seiring dengan destruksi habitat," kata Tanshi.
Membunuh kelelawar tidak akan melindungi kita dari virus corona. Sebaliknya, membunuh kelelawar secara massal dan menyingkirkan mereka dari habitatnya justru bisa memperburuk suasana, kata konservasionis.
"Sekitar 70 persen dari lebih dari 14.000 spesies kelelawar adalah insektivora, yang berarti mereka hanya makan serangga dan binatang arthropoda lainnya [jenis hewan yang tidak memiliki tulang belakang, dengan kulit luar yang keras, tulang-tulang kakinya menyatu, dan tubuh yang terbagi dalam beberapa bagian yang berbeda]," kata Dr Webala.
"Banyak serangga terbang dan nokturnal yang dimakan kelelawar adalah vektor untuk patogen yang relevan dengan kesehatan manusia," katanya. Dengan kata lain, mereka membawa penyakit yang bisa menyebar ke manusia, seperti demam berdarah dan malaria.
Dengan menargetkan dan mengusir kelelawar, maka jumlah penyakit juga berpotensi meningkat.
Bagaimana kelelawar menguntungkan manusia?
"Jika pakaian Anda terbuat dari katun, jika Anda meminum kopi atau teh, atau jika Anda makan makanan yang berasal dari jagung, atau satu makanan yang berasal dari peternakan, maka Anda telah bersentuhan dengan kelelawar setiap harinya," kata Dr Webela.
Kelelawar menyediakan jasa ekosistem yang vital, seperti sebagai polinator (pembawa serbuk sari ke putik), penyebar biji, dan pengendali hama. Semua hal, dari makanan sampai kosmetik, furnitur, dan obat-obatan, membutuhkan jasa kelelawar.
Baca Juga: #GerakanOtomotifNasional oleh Tokopedia dan Kemenperin RI
Tanpa kelelawar, Indonesia tidak akan panen durian dengan sukses, Madagaskar akan kehilangan pohon ikonik baobab, dan perkebunan makadamia akan rusak.
"Kelelawar menyebarkan jumlah biji lebih dari dua kali lipat lebih banyak dari burung," kata Dr Webela, "sehingga memungkinkan alur gen dan reforestasi yang vital bagi hutan-hutan yang telah terfragmentasi di wilayah tropis."
Menurut beberapa studi, di Amerika Serikat saja, kelelawar membantu petani berhemat pestisida dan mengurangi kerusakan panen bernilai miliaran dolar setiap tahunnya.
Apa lagi yang membuat kelelawar begitu spesial?
"Kelelawar ternyata adalah binatang yang sukses: mereka ditemukan di semua benua kecuali Antartika," kata Tanshi. "Sebagai periset kelelawar, saya telah menjelajah gua-gua, hutan, pegunungan, dan sabana."
Kelelawar berhasil dalam adaptasi evolusi, tambahnya.
"Jari-jari yang menjadi sayap, navigasi berdasarkan ekolokasi, dan visi yang luar biasa menjadikan mereka sukses menjajah langit malam. Jika menjadi mamalia adalah seni, maka kelelawar adalah karya seni besar!"
Dr Webala memiliki antusiasme yang sama dan menjabarkan alasan kenapa mereka harus dilindungi.
"Baru diketahui bahwa kelelawar mungkin memiliki sistem kekebalan yang sangat baik, yang diadaptasi khusus untuk dapat menoleransi patogen dan penyakit.
Ketahanan yang luar biasa ini... dapat berpotensi menghasilkan terapi baru untuk meningkatkan sistem pertahanan anti-virus pada manusia."
Berita Terkait
-
Menembus Silicon Valley dari Kampus UDEL: Tamparan Pedas Sarjana Kertas
-
Pemerintah Genjot PNBP: Jangan Sampai Tarif Naik, Layanan Publik Jalan di Tempat
-
Aturan Prabowo: Lepas dari Status WNI Wajib Bayar Rp5 Juta
-
Bukan 350 Tahun Dijajah: Membongkar Mitos Besar dalam Sejarah Indonesia
-
Kritik Novel Bukan Perawan Maria: Antara Gagasan Berani dan Narasi Tanggung
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
-
Kecewa Ditinggal Begitu Saja, Ojol Jakarta Murka Massa Pati Langsung Pulang Usai dari DPR
-
Rupiah Tersengat Sentimen Demo, Ditutup Anjlok ke Level Rp17.744
-
Ojol Bawa Bendera One Piece ke DPR Dicegat Polisi: Ini Simbol Lawan Koruptor
-
Demo DPR Memanas! Mahasiswa Rusak Pagar Gerbang Utama dan Bakar Ban
Terkini
-
Sinopsis "Mo Papa!", Drama Jepang Terbaru Hara Nanoka dan Tsutsumi Shinichi
-
Di Balik Sensasi Cekit-Cekit Ampoule Wondermis: Kenalan dengan Natural Microneedle Technology
-
Prabowo di Hadapan Ulama: Percaya Sama Saya, Beberapa Tahun lagi Indonesia Bangkit
-
Masuk Bursa Dirjen WHO, Menkes Budi Ungkap Instruksi Prabowo
-
Life of Pi dan Kerinduan kepada Tuhan di Tengah Ketidakpastian
-
Mahasiswa Mundur Tertib Pukul 18.00 WIB, Massa Lain Masih Bertahan di DPR
-
Gaet Tiara Andini hingga Enau, Whisnu Santika Hadirkan Musik Berbeda Lewat Album Map Of Feelings
-
Gegara Demo, Investor Asing Cabut Dana Rp113,45 Miliar dari Bursa Saham
-
Apa Bedanya Elemen Api, Air, Udara, dan Tanah dalam Mempengaruhi Sifat Zodiak?
-
Bisnis Tak Bisa Lagi Cuma Hitung Cuan, Risiko Politik Juga Harus Dibaca