Suara.com - Sekitar 11.000 dan 5.000 tahun lalu, setelah zaman es terakhir berakhir, Gurun Sahara mengalami perubahan. Vegetasi hijau tumbuh di atas bukit pasir dan curah hujan yang meningkat, mengubah gua-gua gersang menjadi danau.
Sekitar 9 juta kilometer persegi Afrika Utara berubah menjadi hijau dan menarik hewan-hewan datang. Namun, kondisi subur seperti itu sudah lama hilang dan para ahli bertanya-tanya apakah Gurun Sahara bisa kembali seperti dulu.
Sebagian besar ahli percaya hal itu bisa terjadi. Green Sahara juga dikenal sebagai African Humid Period disebabkan oleh rotasi orbit Bumi yang terus berubah di sekitar porosnya, pola yang berulang setiap 23.000 tahun.
Karena sebuah wildcard, yaitu emisi gas rumah kaca ulah manusia yang menyebabkan perubahan iklim, tidak ada kejelasan kapan Sahara yang saat ini merupakan gurun panas terbesar di dunia akan berubah menjadi hijau.
Pergeseran hijau Sahara terjadi karena kemiringan Bumi berubah. Sekitar 8.000 tahun lalu, kemiringan mulai bergerak dari sekitar 24,1 derajat ke 23,5 derajat pada hari ini.
Variasi kemiringan itu membuat perbedaan besar. Sekarang, Belahan Bumi Utara paling dekat dengan Matahari selama bulan-bulan musim dingin. Namun selama Sahara hijau, Belahan Bumi Utara paling dekat dengan matahari selama musim panas.
Hal ini menyebabkan peningkatan radiasi Matahari di Belahan Bumi Utara selama bulan-bulan musim panas. Kenaikan radiasi Matahari memperkuat monsun Afrika, pergeseran angin musiman di wilayah tersebut yang disebabkan oleh perbedaan suhu antara daratan dan lautan.
Panas yang meningkat di Sahara menciptakan sistem tekanan rendah, mengantarkan uap air dari Samudera Atlantik ke gurun tandus. Peningkatan kelembapan ini mengubah Sahara yang sebelumnya berpasir, menjadi rumput dan padang rumput yang tertutup semak.
Untuk memahami perubahan kemiringan Bumi, para ilmuwan menganalisis tetangga Bumi di tata surya.
Baca Juga: Berusia Hampir 40 Ribu Tahun, Beruang Zaman Es Ditemukan
"Rotasi aksial Bumi terganggu oleh interaksi gravitasi dengan Bulan dan planet yang lebih masif yang bersama-sama menyebabkan perubahan periodik di orbit Bumi," kata Peter de Menocal, direktur di Center for Climate and Life at Lamont-Doherty Earth Observatory, New York, seperti dikutip Live Science, Selasa (29/9/2020).
Menurut Menocal, salah satu perubahan tersebut adalah "goyangan" di poros Bumi. Goyangan itulah yang memposisikan Belahan Bumi Utara lebih dekat ke Matahari di musim panas setiap 23.000 tahun, yang oleh para ilmuwan disebut insolasi musim panas Belahan Bumi Utara maksimum.
Berdasarkan penelitian yang pertama kali diterbitkan dalam jurnal Science pada tahun 1981, para ahli memperkirakan bahwa Belahan Bumi Utara mengalami peningkatan 7 persen dalam radiasi Matahari selama Green Sahara dibandingkan dengan sekarang.
Peningkatan ini dapat meningkatkan curah hujan monsun Afrika sebesar 17 persen hingga 50 persen, menurut sebuah penelitian tahun 1997 yang diterbitkan dalam jurnal Science.
Hal menarik lainnya tentang iklim Green Sahara adalah bagaimana itu tiba-tiba muncul dan menghilang. Menurut para ilmuwan, pengakhiran Green Sahara hanya membutuhkan waktu 200 tahun.
Perubahan radiasi Matahari terjadi secara bertahap, tetapi lanskap berubah secara tiba-tiba. Itu merupakan contoh nyata perubahan iklim yang terjadi secara tiba-tiba.
Insolasi musim panas Belahan Bumi Utara berikutnya, ketika Green Sahara dapat muncul kembali, diproyeksikan akan terjadi lagi sekitar 10.000 tahun dari sekarang. Tetapi yang tidak dapat diprediksi oleh para ilmuwan adalah bagaimana gas rumah kaca akan mempengaruhi siklus iklim alami ini.
Sementara itu, ada cara lain untuk mengubah sebagian Sahara menjadi lanskap hijau. Menurut penelitian tahun 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Science, jika pembangkit tenaga surya dan angin secara masif dipasang di sana, curah hujan dapat meningkat di Sahara dan wilayah di sekitarnya.
Peningkatan curah hujan dapat menyebabkan pertumbuhan vegetasi, menciptakan umpan balik positif. Namun, upaya besar ini belum diuji di Gurun Sahara karena terbatasnya dana untuk melakukan pengujian.
Berita Terkait
-
Bahaya! Suhu Bumi Akan Naik 7,5 Derajat 2070 jika Tak Dikendalikan
-
6 Momen Seru Nikita Willy di Marrakesh, Naik Unta Keliling Gurun Sahara
-
Penelitian Mengungkap Hewan Laut Misterius di Gurun Sahara
-
Ilmuwan Temukan Alasan Punahnya Hewan Unik Unicorn Siberia
-
Ditemukan Mumi Serigala Zaman Es, Berusia 50 Ribu Tahun
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
Terkini
-
Bocoran Game Call of Duty 2026, Modern Warfare 4 Dalam Pengembangan?
-
5 Rekomendasi HP Murah Kamera Jernih buat Ngonten Mulai Rp1 Jutaan
-
Viral TV Iran Umumkan Khamenei Tewas: Presenter Menangis, Sebut Capai Syahid di Ramadan
-
Ali Khamenei Tewas: Iran Trending di X, Publik Khawatir Picu Perang Dunia 3
-
51 Kode Redeem FF Terbaru 1 Maret 2026, Masih Ada Gloo Wall Ramadan Gratis
-
34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 1 Maret 2026, Klaim Pemain Ramadan 115-117 dan 2.000 Gems
-
Terpopuler: 6 HP Tahan Banting buat Jangka Panjang, Samsung Galaxy S26 Bisa Dicicil Rp600 Ribu
-
Link Download Kumpulan Nada Dering Alarm Sahur dengan Suara Unik
-
35 Kode Redeem FF Terbaru 28 Februari 2026: Banjir Skin SG2, Bundle Langka, hingga Diamond Gratis
-
Huawei Watch Ultimate 2 Segera Rilis di Indonesia: Selam 150 Meter dengan Fitur Pesan Bawah Laut