Suara.com - Facebook meminta maaf kepada peneliti karena memberikan informasi salah, data tersebut cacat dan tidak lengkap untuk pekerjaan mereka.
Bertentangan dengan apa yang dikatakan perusahaan kepada para peneliti, data yang disediakan Facebook tampaknya hanya mencakup informasi untuk sekitar setengah dari penggunanya di AS, tidak semuanya.
Dilansir dari The Verge, mengutip The Times, Senin (13/9/2021), melaporkan bahwa anggota tim Penelitian dan Transparansi Terbuka Facebook menemui para peneliti untuk meminta maaf atas kesalahan tersebut pada Jumat (10/9/2021).
Beberapa peneliti mempertanyakan apakah kesalahan itu disengaja untuk menyabotase penelitian atau sekadar kelalaian.
Cacat dalam data pertama kali ditemukan oleh seorang peneliti di Universitas Urbino Italia, yang membandingkan laporan Facebook yang dirilis secara publik pada Agustus dengan data yang diberikan hanya kepada para peneliti.
Dia menyampaikan ke Times bahwa kumpulan data tidak cocok.
Facebook tidak segera membalas permintaan komentar dari The Verge, Sabtu (12/9/2021), tetapi seorang juru bicara mengatakan kepada Times bahwa kesalahan itu adalah hasil dari kesalahan teknis.
perusahaan secara proaktif memberi tahu mitra yang terkena dampak tentang dan bekerja dengan cepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Laporan dari 18 Agustus yang digunakan peneliti Universitas Urbino dalam perbandingannya dirilis untuk kepentingan "transparansi," menunjukkan konten yang paling banyak dilihat di Umpan Berita publik Facebook antara April dan Juni tahun ini, kuartal kedua.
Baca Juga: Facebook Luncurkan Produk Kacamata Pintar, Komisi Perlindungan Data Tanyakan Keamanan
Namun, Times menemukan bahwa Facebook telah mengesampingkan laporan tentang kuartal pertama. Facebook akhirnya merilis laporan yang ditangguhkan.
Juga pada Agustus, Facebook melarang peneliti akademis dari proyek Observatorium Iklan Universitas New York dari platformnya, setelah plugin browser Pengamat Iklan grup menyoroti masalah.
Penelitiannya menemukan Facebook gagal mengungkapkan siapa yang membayar beberapa iklan politik di situsnya.
Berita Terkait
-
Studi Terbaru Ungkap Berita Bohong di Facebook Lebih Populer
-
Teknologi AI Sebut Orang Kulit Hitam Primata, Begini Respons Facebook
-
Cekcok Dituduh Selingkuh di FB, Istri Bacok Suami hingga Tewas di Atas Ranjang
-
Persempit Ruang Gerak, Ini Cara Facebook Perangi Konten Radikal atau Terorisme
-
Waspada Facebook Palsu Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Digitalisasi Desa Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Teknologi Buka Peluang Usaha
-
Apple Lobi AS agar Bisa Pakai Chip RAM China, Harga DRAM Samsung Naik 100% Picu Ancaman Pasokan
-
Cara Membuat Username WhatsApp, Bisa Chat Tanpa Nomor HP
-
Komdigi - Meta Berantas Spam Judi Online, Bentuk Tim Khusus Lawan Bot di Instagram dan Facebook
-
5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
-
Bocoran Xiaomi 18: Baterai 7.200mAh, Snapdragon 2nm, dan Fast Charging 100W Siap Gebrak Pasar
-
Apa Bedanya Pad sama Tablet? Ini Perbedaan Sistem Operasi, Hardware, hingga Harga
-
Bocoran Tablet Gaming iQOO Terungkap, Usung Layar 8,8 Inci dan Snapdragon Terbaru
-
Game Lokal Maple Haven City Rush Buka Pre-Registrasi, Rilis 21 Juli 2026
-
Harga RAM Global Diperkirakan Terus Melonjak Sepanjang 2026, Tahun Depan Makin Parah?