Tekno / Game
Kamis, 05 Februari 2026 | 17:26 WIB
Trailer GTA 6. (YouTube Rockstar Games)
Baca 10 detik
  • Dokumen Epstein Files mengungkap keterlibatan mantan petinggi GTA dan Call of Duty.
  • Leslie Benzies dituduh melakukan pelecehan, namun ia membantah keras klaim tersebut.
  • Bobby Kotick terlibat diskusi kontroversial mengenai monetisasi game dan konten eksploitatif.

Suara.com - Dunia game dikejutkan dengan rilisnya 'Epstein Files' yang mengungkap jaringan kelam Jeffrey Epstein.

Dokumen ini tidak hanya menyeret nama-nama besar di dunia politik dan bisnis, tetapi juga mengguncang fondasi industri game dengan menyebut mantan petinggi dari waralaba ikonik seperti Grand Theft Auto dan Call of Duty.

Terungkapnya nama-nama tersebut membuka tabir tentang bagaimana kekuasaan, keuntungan, dan kontrol berpotongan di balik layar game yang kita mainkan setiap hari.

Fokus utama tertuju pada Leslie Benzies, mantan presiden Rockstar North dan produser veteran di balik kesuksesan seri GTA.

Dalam dokumen tersebut, salah satu korban Epstein menuduh Benzies melakukan pelecehan seksual.

Tuduhan juga menyeret nama Presiden Rockstar, Sam Houser, yang diduga mengetahui perlakuan Benzies.

"Tuduhan-tuduhan ini tidak benar, saya memiliki hubungan suka sama suka selama 3 bulan dengan orang ini, dan saya belum pernah bertemu Jeffrey Epstein," sangkal Benzies.

Meski disangkal, bayang-bayang skandal muncul tepat saat antusiasme terhadap GTA VI mencapai puncaknya.

Di sisi lain, mantan CEO Activision, Bobby Kotick, juga muncul dalam korespondensi email dengan Epstein.

Baca Juga: 7 Sumber Kekayaan Jeffrey Epstein yang Picu Skandal Epstein Files

Mengutip Kotaku dan Notebookcheck, percakapan mereka melukiskan gambaran yang aneh, membahas konsep edutainment (pendidikan melalui game) dengan cara eksploitatif.

Salah satu ide yang dibahas adalah memberi imbalan kepada anak-anak yang belajar bahasa Jepang dengan karakter "seorang putri cantik dengan payudara besar dan celana dalam thong."

Kotick menimpali dengan fokus pada monetisasi, "kuncinya adalah imbalan di dunia nyata. Belajarlah membaca: dapatkan pulsa telepon seluler, kredit iPhone, item virtual dalam permainan."

Diskusi ini menunjukkan mentalitas yang melihat pemain, bahkan anak-anak, sebagai target untuk dimonetisasi, sebuah filosofi yang selaras dengan maraknya microtransaction dalam game modern.

Terungkapnya file tersebut bukan sekadar gosip, melainkan pengingat keras bahwa industri yang kita cintai tidak kebal dari koneksi gelap dan individu bermasalah.

Itu adalah momen refleksi bagi para gamer tentang siapa yang berada di balik pembuatan game favorit mereka dan nilai-nilai apa yang sebenarnya mereka wakili.

Load More