Suara.com - Google mengumumkan tidak akan menghapus cookie pelacakan pihak ketiga di Chrome seperti yang direncanakan sebelumnya.
Sebaliknya, ini akan memberi pengguna lebih banyak pilihan. Keputusan ini diambil di tengah pembicaraan dengan regulator dan kritik dari pendukung privasi seperti Apple dan Electronic Frontier Foundation (EFF).
EFF memperingatkan bahwa strategi baru Google, yang mencakup pengaturan privasi yang dapat dipilih pengguna, masih memungkinkan pengiklan melacak perilaku pengguna. Dengan kata lain, masalah privasi ini akan berdampak pada pengguna Google Chrome yang tercatat sebanyak 3 miliar.
Sebelumnya, Google telah berjanji untuk menghilangkan cookie pihak ketiga untuk meningkatkan privasi pengguna. Inisiatif Privacy Sandbox bertujuan untuk menemukan alternatif yang akan membuat pendukung privasi dan pengiklan senang.
Dilansir dari Gizchina pada Jumat (26/7/2024), sayangnya sulit untuk menyeimbangkan kepentingan ini, sehingga menyebabkan perubahan rencana Google. Pendekatan baru ini menawarkan kepada pengguna sebuah pilihan, antara cookie pelacakan, Topic API, dan penjelajahan semi-pribadi.
Tindakan tersebut kemudian menuai reaksi dari pesaing dan penyedia privasi. Apple mengkritik Chrome karena masalah privasinya dan mempromosikan Safari sebagai opsi yang lebih aman. EFF mengklaim bahwa Privacy Sandbox Google masih memungkinkan pengiklan menargetkan iklan berdasarkan perilaku pengguna.
Safari dan Firefox telah memblokir cookie pihak ketiga secara default sejak 2020, namun sayangnya Google tidak dapat menerapkannya pada Chrome.
Bagi 3 miliar pengguna Chrome, ini berarti pengguna akan tetap terpapar teknologi pelacakan kecuali mengelola pengaturan privasinya.
Sayangnya, sebagian besar pengguna Google Chrome cenderung tidak mengubah pengaturan default, sehingga rentan terhadap pengumpulan data.
Baca Juga: Membandingkan Google Chrome vs Apple Safari, Aman Mana?
Padahal, memberi pengguna kemampuan untuk memilih pengaturan privasi merupakan langkah menuju privasi yang lebih baik. Biasanya, nomor telepon dan cookie merupakan sasaran empuk bagi peretas.
Data tersebut dapat dikaitkan dengan berbagai informasi pribadi, sehingga meningkatkan risiko pencurian identitas. Dengan memberikan lebih banyak pilihan kepada pengguna, Google bertujuan untuk mengurangi risiko ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Pemerintah Panggil Google dan Meta agar Patuhi PP TUNAS
-
32 Kode Redeem FC Mobile 31 Maret 2026, Siap Hadapi Kiper Raksasa 270 Cm?
-
35 Kode Redeem FF 31 Maret 2026, Bocoran Event Kolaborasi Gintama dan Squad Beatz Bulan April
-
HMD Crest 2 Pro Bakal Pakai Chip Snapdragon Terbaru, Usung Baterai 6.000 mAh
-
Usai Debut di Filipina, HP Gaming Murah Nubia Neo 5 Series Bakal ke Indonesia
-
Setara Laptop Entry Level: Harga PS5 Bekas di Maret 2026 Berapaan?
-
10 Cara Mengatasi WhatsApp Pending padahal Sinyal Bagus, Coba Tips Ini
-
Mantan Petinggi Perusahaan Sarankan Disney Akuisisi Fortnite dan Epic Games
-
Poco X8 Pro Rilis 2 April, Baterai 8500mAh dan Dimensity 8500
-
REDMI 15 untuk Outdoor: Baterai Jumbo 7000mAh dan Tahan Air