Suara.com - Calon Gubernur Jakarta Dharma Pongrekun sempat ditertawakan serta dicibir usai mengungkap berbagai teori konspirasi, termasuk AI adalah mata-mata. Meski banyak yang menganggap remeh, potensi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk menjadi mata-mata pernah diungkap oleh salah satu dosen di Harvard's Kennedy School.
Dosen Harvard tersebut 'seolah sependapat' mengingat ia sudah mengemukakan teori yang mirip sebelumnya. Acara debat Pilgub Jakarta 2024 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta Pusat, Minggu (6/10/2024) mempunyai warna tersendiri usai Dharma mengungkap berbagai teori konspirasi.
Pantauan melalui Trends24.in, 'Dharma' bahkan sempat trending di X selama dua hari berturut-turut. Raut wajah hingga kegemaran melontarkan teori unik membuat netizen menilai bahwa Dharma Pongrekun mirip Rangga Sasana, petinggi Sunda Empire.
Saat berada di acara debat, Dharma menilai bahwa Indonesia harus mandiri internet. "Jadikan Indonesia mandiri internet. Selama internetnya tidak mandiri, maka selama itu bocor semua. 1.000 kali kita mengganti password, apapun yang kita lakukan bocor. Jadi tidak ada satupun ruang cyber ini yang aman," kata Dharma.
Bahkan ketika membahas AI atau kecerdasan buatan, Dharma menilai bahwa itu adalah mata-mata. "Artificial Inteleijen artinya apa? Alat intelijen. Alat yang memata-matai tanpa kita sadari, dosa kita ada semua di gadget. Makanya kalau ada kasus diambil gadgetnya, stresnya setengah mati," ungkap Dharma.
Tak hanya itu, mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara ini juga menilai bahwa pandemi merupakan agenda terselubung dari asing.
Cuplikan video mengenai teori konspirasi dari Dharma langsung viral di X. Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi juga memberikan sindiran untuk Dharma.
"Kata Dharma, AI itu Artificial Intelligence. Dari kata 'intelijen' alias 'mata-mata'. Jadi AI itu alat mata-mata buatan, untuk mengawasi kita. Problem Jakarta yang kompleks dihadapi dengan teori konspirasi," tulis Ismail Fahmi.
Dosen Harvard Ungkap Potensi AI Jadi Mata-mata
Baca Juga: Viral! Pegawai Tim Hortons Dipecat Usai Bongkar Praktik Rekrutmen yang Diduga Diskriminatif
Peneliti keamanan terkenal, Bruce Schneier, mengungkap bahwa AI dapat memicu 'era mata-mata massal'. Bruce Schneier bukan orang sembarangan.
Ia merupakan dosen tamu di Harvard's Kennedy School - Harvard University, teknolog, kriptogafer, pegiat keamanan komputer, anggota dewan EFF, dan Kepala Arsitektur Keamanan di Inrupt, Inc. Schneier terdaftar di laman resmi Harvard University dan sering dijuluki "Security Guru".
Bruce Schneier telah menulis banyak buku tentang keamanan komputer dan kriptografi. Dikutip dari Arstechnica, teknolog ini pernah berpendapat bahwa model AI dapat memungkinkan era baru mata-mata massal melalui artikel yang diunggah tahun lalu.
Kecerdasan buatan memungkinkan perusahaan dan pemerintah untuk mengotomatiskan proses analisis serta peringkasan data percakapan dalam jumlah besar. Itu pada dasarnya menurunkan hambatan terhadap aktivitas mata-mata yang saat ini memerlukan tenaga manusia.
Schneier mengatakan, metode mata-mata saat ini seperti penyadapan telepon atau pengawasan fisik, membutuhkan banyak tenaga kerja. Tetapi munculnya AI mengurangi kendala tersebut secara signifikan.
"Sistem AI generatif semakin mahir dalam meringkas percakapan yang panjang dan memilah-milah kumpulan data besar. Pengintaian ini tidak terbatas pada percakapan di ponsel atau komputer kita. Sama seperti kamera di mana-mana yang memicu pengawasan massal, mikrofon di mana-mana akan memicu pengintaian massal. Siri, Alexa, dan 'Hai, Google' sudah selalu mendengarkan," tulis Bruce Schneier.
Dosen di Harvard's Kennedy School itu menekankan bahwa AI harus dipayungi regulasi pemerintah yang ketat agar tidak berpotensi menjadi mata-masa massal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Kolom Komentar Instagram Dipenuhi Spam Judi Online, Pakar Siber Minta Platform Bertindak Tegas
-
OPPO Find X9s vs iPhone 17 Pro: Saat Flagship Compact Paling Affordable Menantang iPhone
-
TikTok Buka Suara soal Isu PHK Tokopedia, Benarkan Restrukturisasi Divisi R&D
-
Marvel Blade Batal, Microsoft Dirumorkan PHK Ribuan Karyawan Xbox
-
Update Harga iPhone Juli 2026, Seri Apa Saja yang Naik?
-
Resmi Rilis, Booster Pack Ancaman Bayangan Bawa Strategi Baru Pokemon TCG
-
Gigabyte Resmi Rilis AORUS GeForce RTX 5080 INFINITY dan INFINITY WOOD, Punya Desain Premium
-
7 Rekomendasi HP Murah Rp 1 Jutaan, Solusi Produktivitas Basic hingga Driver Ojek Online
-
GrabUnlimited Gandeng NPD, Member Kini Bisa Nikmati Pengalaman Eksklusif di Luar Diskon
-
ITSEC Asia Investasi AI Rp11 Miliar, Bidik Pertumbuhan Bisnis Software hingga 2031