- Fenomena meteor jatuh di Cirebon membuat heboh masyarakat hingga memicu banyak pertanyaan.
- Namun sebenarnya peristiwa astronomi seperti bintang jatuh ini bisa diprediksi.
- Bahkan sudah ada jadwal hujan meteor besar yang dapat diamati dari Indonesia sepanjang tahun 2025.
Suara.com - Langit Cirebon baru-baru ini dihebohkan oleh penampakan benda langit yang melesat jatuh, meninggalkan jejak api yang memukau sekaligus menegangkan.
Peristiwa jatuhnya meteor ini sontak viral dan memicu berbagai pertanyaan: Benda apa itu? Apakah berbahaya? Dan kapan kita bisa melihat fenomena serupa?
Kejadian di Cirebon adalah pengingat dramatis bahwa alam semesta selalu menyajikan pertunjukan tak terduga.
Namun, tahukah Anda bahwa "bintang jatuh" sebenarnya adalah fenomena yang bisa diprediksi?
Sementara meteor Cirebon adalah peristiwa tunggal yang langka, ada banyak jadwal hujan meteor rutin yang bisa kita saksikan sepanjang tahun.
Mari kita bedah perbedaannya dan siapkan kalender Anda untuk pertunjukan kosmik berikutnya.
Meteor Cirebon vs Hujan Meteor, Apa Bedanya?
Penting untuk memahami perbedaan antara dua fenomena ini. Apa yang terjadi di Cirebon kemungkinan besar adalah sebuah bolide atau fireball.
Meteor Jatuh (Bolide/Fireball)
Ini adalah meteor tunggal yang berukuran lebih besar, bisa sekecil kerikil hingga sebesar batu besar. Saat memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan super tinggi, gesekan udara membakarnya dengan sangat terang.
Baca Juga: Fakta-Fakta Hujan Meteor Draconid yang Salah Satunya Jatuh di Cirebon
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan menyebut ukuran meteor Cirebon tergolong besar. Peristiwa ini bersifat acak dan tidak dapat diprediksi.
Hujan Meteor
Ini adalah fenomena terjadwal ketika Bumi melintasi jalur orbit sebuah komet atau asteroid. Debu dan puing-puing seukuran pasir yang ditinggalkan komet tersebut akan terbakar saat memasuki atmosfer kita.
Hasilnya adalah puluhan hingga ratusan "bintang jatuh" dalam satu malam dari arah rasi bintang tertentu.
Singkatnya, meteor jatuh di Cirebon adalah satu batu besar yang jatuh secara tak terduga. Hujan meteor adalah ribuan butir pasir kosmik yang menghujani atmosfer kita secara rutin setiap tahun.
Jadwal Lengkap Hujan Meteor 2025 di Indonesia
Setelah dibuat takjub oleh meteor Cirebon, kini saatnya Anda merencanakan pengamatan langit yang lebih pasti.
Catat tanggal-tanggal penting ini agar tidak ketinggalan pertunjukan langit paling spektakuler di tahun 2025.
Berikut adalah daftar hujan meteor besar yang dapat diamati dari Indonesia sepanjang tahun 2025:
Quadrantids
- Puncak: 34 Januari
- Keterangan: Salah satu hujan meteor terkuat di awal tahun, berasal dari puingpuing asteroid 2003 EH1.
Lyrids
- Puncak: 22-23 April
- Keterangan: Dikenal karena menghasilkan jejak debu yang bersinar selama beberapa detik, berasal dari Komet C/1861 G1 Thatcher.
Eta Aquariids
- Puncak: 67 Mei
- Keterangan: Salah satu yang terbaik untuk pengamat di belahan Bumi selatan, termasuk Indonesia. Puing-puingnya berasal dari Komet Halley yang legendaris.
Delta Aquariids
- Puncak: 28-29 Juli
- Keterangan: Meskipun tidak terlalu deras, hujan meteor ini aktif dalam periode yang lama dan cocok untuk pengamatan santai di musim kemarau.
Perseids
- Puncak: 12-13 Agustus
- Keterangan: Inilah "primadona" hujan meteor. Dikenal sangat aktif, cerah, dan sering menghasilkan fireball. Berasal dari Komet SwiftTuttle.
Draconids
- Puncak: 8-9 Oktober
- Keterangan: Hujan meteor ini paling baik diamati pada malam hari setelah senja. Meskipun singkat, terkadang bisa menghasilkan ledakan aktivitas yang tak terduga.
Orionids
- Puncak: 21-22 Oktober
- Keterangan: "Kembaran" dari Eta Aquariids karena juga berasal dari sisa debu Komet Halley. Dikenal karena kecepatan meteornya yang tinggi.
Geminids
- Puncak: 13-14 Desember
- Keterangan: Dianggap sebagai raja hujan meteor. Dapat menghasilkan lebih dari 120 meteor per jam dengan warnawarni yang indah. Uniknya, ia berasal dari asteroid 3200 Phaethon.
Tips Terbaik Menyaksikan Pertunjukan Langit
Anda tidak memerlukan teleskop mahal untuk menikmati hujan meteor. Cukup dengan mata telanjang, kesabaran, dan beberapa persiapan sederhana.
- Cari Lokasi Gelap:
Pergilah ke tempat yang jauh dari polusi cahaya kota. Area pedesaan, pantai, atau pegunungan adalah pilihan ideal. - Periksa Cuaca dan Fase Bulan:
Pastikan langit cerah. Cahaya bulan purnama juga dapat meredupkan meteor yang redup, jadi periksa kalender fase bulan. - Beri Waktu untuk Adaptasi:
Mata Anda membutuhkan sekitar 2030 menit untuk beradaptasi sepenuhnya dengan kegelapan. Hindari melihat layar ponsel selama waktu ini. - Sabar Adalah Kunci:
Baringkan diri Anda di atas tikar atau kursi santai dan nikmati pemandangan langit. Meteor akan muncul secara sporadis. - Ajak Teman:
Pengamatan akan lebih menyenangkan dan aman jika dilakukan bersama teman atau keluarga.
Peristiwa meteor di Cirebon telah membangkitkan kembali rasa ingin tahu kita tentang angkasa. Jangan biarkan kekaguman itu berhenti di sana.
Jadikan sebagai pemicu untuk lebih sering menatap ke atas dan menyaksikan keajaiban kosmik yang telah diatur oleh alam semesta.
Fenomena langit mana yang paling Anda nantikan di tahun 2025? Bagikan rencana pengamatan Anda di kolom komentar di bawah
Berita Terkait
-
Fakta-Fakta Hujan Meteor Draconid yang Salah Satunya Jatuh di Cirebon
-
Misteri Dentuman Keras dan Bola Api di Langit Cirebon Terpecahkan, Ini Penjelasan Ahli dan BMKG
-
Benda Langit Misterius Meledak di Langit Cirebon, Benarkah Meteor Raksasa Jatuh di Laut Jawa?
-
Cirebon Gempar! Dentuman Keras Terdengar di Seluruh Wilayah, Ini Dugaan Penyebabnya
-
BRIN Jelaskan Penyebab Dentuman dan Kilatan Cahaya Langit Cirebon: Benar Meteor?
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
5 Pilihan Tablet RAM 16 GB Memori 512 GB Paling Murah untuk Kerja
-
Xiaomi 17T Series Lolos Sertifikasi TKDN: Bersiap ke Indonesia, Usung Chipset Anyar
-
Peta Sebaran 'Amukan' Topik Tyas dan LPDP: Lebih Banyak di X, Netizen TikTok Kurang Peduli
-
Daftar Harga iPhone Terbaru Jelang Lebaran 2026, Lengkap Semua Seri
-
69 Kode Redeem FF Aktif 24 Februari 2026: Klaim Crimson dan Gloo Wall Ramadhan Gratis
-
Begini Kebijakan Kemenkeu RI Buntut Viralnya Dwi Sasetyaningtyas, LPDP Trending
-
Infrastruktur Digital Jadi Penentu Bisnis Ritel dan F&B
-
Penampakan Xiaomi 17 Ultra Leica Edition Versi Global Terungkap Jelang Perilisan
-
17 HP Murah Redmi dan POCO dapat HyperOS 4 Berbasis Android 17, Ada Fitur Baru
-
MPL ID Season 17 Kapan Dimulai? Ini Bocoran Jadwal dan Roster Tim Mobile Legends