Suara.com - Fenomena dua angka yang tampak sederhana 67 resmi dinobatkan sebagai Word of the Year 2025 oleh Dictionary.com.
Keputusan ini memicu perdebatan, mulai dari orang tua yang kebingungan hingga generasi muda yang menjadikannya bagian dari percakapan sehari-hari. Tanpa makna jelas, istilah ini justru menjadi salah satu tren internet terbesar tahun ini.
Menurut laporan Grazia.co.in (3/11/2025), penggunaan “67” (dibaca “six-seven”) kini meluas di berbagai platform. Anak-anak, remaja, hingga atlet profesional mempopulerkannya lewat isyarat tangan dan komentar spontan. Meski demikian, istilah ini tidak memiliki arti pasti.
Dictionary.com menjelaskan bahwa justru ketidakjelasan itulah yang membuat “67” berbeda. Ia tidak mewakili definisi konkret—melainkan simbol di mana maknanya bergantung pada konteks pengguna.
Beberapa orang menyebut istilah ini digunakan untuk menjawab pertanyaan secara acak, mulai dari kondisi sekolah hingga pilihan makan malam. Bagi sebagian besar pengguna, “67” adalah cara untuk ikut serta dalam jokes bersama.
Pihak kamus menggambarkan tren ini sebagai bentuk “brainrot slang”, jenis ungkapan internet yang sengaja dibuat absurd dan tanpa makna.
Steve Johnson, Direktur Leksikografi Dictionary Media Group, mengatakan bahwa “67” bukan sekadar ucapan, melainkan ekspresi spontan yang melampaui makna harfiah.
Menurutnya, banyak pengguna mengucapkannya sebagai penanda mood atau gaya komunikasi yang lebih emosional dibanding informatif.
Meski kini terkenal sebagai meme global, istilah “67” sebenarnya berawal dari lagu “Doot Doot (6 7)” karya rapper asal Philadelphia, Skrilla, yang viral pada 2024.
Baca Juga: Komdigi Target 38 Kabupaten/Kota Punya Kecepatan Internet 1 Gbps di 2029, Ini Caranya
Popularitas lagu itu meningkat setelah digunakan sebagai background dalam video highlight bola basket, terutama yang menampilkan LaMelo Ball yang tingginya 6 kaki 7 inci.
Ledakan tren semakin besar ketika seorang anak laki-laki meneriakkan “67” dengan penuh semangat saat pertandingan basket remaja. Rekaman itu viral dan sosok tersebut dijuluki warganet sebagai “67 Kid”, memantapkan angka ini sebagai simbol budaya pop.
Data Dictionary.com menunjukkan lonjakan signifikan dalam pencarian kata tersebut sejak pertengahan 2025. Pada musim panas, pencarian “67” meningkat hingga enam kali lipat dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Di bulan Oktober 2025 saja, kemunculan frasa ini di media digital tercatat enam kali lebih banyak dibanding sepanjang 2024.
TikTok menjadi pusat penyebaran tren. Hashtag #67 telah digunakan lebih dari dua juta kali, dan penggunaannya memuncak saat tahun ajaran baru dimulai.
Guru-guru melaporkan bahwa murid mereka menirukan kata tersebut berulang kali, hingga beberapa sekolah mulai membuat aturan khusus terkait penggunaannya.
Beberapa pendidik bahkan membagikan pengalaman mereka secara daring. Ada yang membuat tugas matematika dengan seluruh jawaban 67 sebagai lelucon, ada pula yang menjadikannya kode diam: guru menyebut “six,” lalu siswa menjawab “seven” sebelum kembali tenang.
Istilah ini juga merambah budaya populer lain. Kostum Halloween bertema “67” muncul di berbagai unggahan, sementara acara satir televisi turut menyinggungnya lewat adegan yang menggambarkan orang dewasa kebingungan memahami tren tersebut.
Fenomena “67” menyoroti bagaimana generasi muda menggunakan internet untuk membangun identitas kolektif. Alih-alih makna literal, istilah ini menjadi sarana menunjukkan kebersamaan dalam kelompok.
Dictionary.com menyebut hal ini sebagai bukti cepatnya bahasa berubah di era algoritma dan media sosial.
Berbeda dengan istilah populer dari dekade sebelumnya yang membutuhkan waktu lama untuk menyebar, tren seperti “67” dapat muncul dan mendunia hanya dalam hitungan hari.
Atlet, komentator olahraga, dan selebritas ikut menggunakannya, menunjukkan bagaimana budaya internet kini mudah menembus berbagai lapisan masyarakat.
Para kritikus menganggap pemilihan angka sebagai Word of the Year merusak nilai linguistik penghargaan tersebut. Namun pendukungnya menilai bahwa pilihan ini justru menggambarkan realitas bahasa modern bahasa yang berkembang melalui interaksi digital, bukan aturan formal.
Kontributor : Gradciano Madomi Jawa
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
-
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur dari Menag: Isu Bursa Caketum PBNU Itu Spekulasi Liar
-
Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
Terkini
-
Ada Jejak Indonesia di Gua Australia, Dua Lukisan Kapal Jadi Kunci Misteri Ratusan Tahun
-
Mengerikan! Rekaman Banjir Bandang di Himalaya Tewaskan 98 Orang, Lebih dari 400 Hilang
-
Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?
-
Bisnis Tiba-Tiba Viral? Ini Tantangan yang Menunggu di Balik Lonjakan Pesanan
-
Saya Kurang Tidur! 3 Kata Pelatih Thailand Usai Gagal Juara Piala AFF 2026
-
Wali Murid SDIP Pamulang Murka, Sebut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Tak Cerminkan Sosok Pendidik
-
PLN ULP Ampera Jadwalkan Pemadaman Listrik 3 Jam, Cek Wilayah Terdampak
-
Muktamar NU ke-35 Memanas, 6 Kritik Tajam dari Halaqah Ulama Jombang untuk Kepemimpinan PBNU
-
Drama! Vietnam Juara Piala AFF 2026 Meski Pemain Thailand Cetak 4 Gol
-
PTBA Borong Empat Penghargaan ISEA 2026, Tegaskan Transformasi Keselamatan Kerja