Suara.com - Sebagian besar dari kita mungkin tak pernah benar-benar memikirkan alasan mengapa tangan kanan menjadi lebih dominan dalam aktivitas sehari-hari. Namun menurut sejumlah penelitian, kebiasaan ini bukan sekadar soal kenyamanan atau budaya—ada jejak biologis dan sejarah panjang yang membuat manusia cenderung lebih mahir menggunakan tangan kanan.
Mengutip Popular Science (14/11/2025), sekitar 85 hingga 90 persen penduduk dunia adalah pengguna tangan kanan, sementara hanya 10 hingga 15 persen yang kidal, ditambah sedikit kelompok yang mampu menggunakan kedua tangan sama baiknya.
Angka tersebut relatif stabil di berbagai negara dan tak ditemukan satupun populasi di mana orang kidal lebih banyak daripada pengguna tangan kanan.
Paul Rodway, pengajar senior psikologi di University of Chester, menjelaskan bahwa kondisi lingkungan memang dapat mempengaruhi preferensi seseorang. Di sejumlah negara Asia, Arab, hingga Afrika, penggunaan tangan kiri masih dianggap tidak pantas dalam kegiatan tertentu. Akibatnya, anak yang dominan kiri sering mendapat tekanan untuk beralih ke tangan kanan.
“Tekanan budaya seperti ini memang membuat jumlah pengguna tangan kiri menjadi lebih rendah,” ungkapnya, mengutip Popular Science pada Senin, 17 November 2025.
Meski begitu, bahkan masyarakat yang tidak memberi stigma pada tangan kiri tetap menunjukkan pola serupa: orang kidal tetap minoritas. Menurut para peneliti, pola ini mengarah pada pengaruh biologis yang sudah terbentuk sejak manusia masih berada dalam kandungan.
Clyde Francks, profesor genomik pencitraan otak di Max Planck Institute dan Radboud University Medical Center, mengatakan bahwa kecenderungan dominasi tangan sudah tampak pada janin.
Dalam pemindaian ultrasound, janin berusia sekitar 10 minggu terlihat lebih banyak menggerakkan tangan kanan, dan pada minggu ke-15 kebanyakan cenderung menghisap ibu jari kanan. “Kemungkinan besar tangan kanan adalah hasil bawaan dari perkembangan awal otak yang diprogram oleh genom,” jelas Francks.
Penelitian menunjukkan bahwa puluhan gen—mungkin hingga 40 gen—berperan membentuk kecenderungan ini. Gen-gen tersebut tidak menentukan secara mutlak tangan mana yang akan dominan, namun membentuk otak dengan pola yang biasanya mengarah pada dominasi tangan kanan.
Namun, jika tangan kanan adalah pengaturan bawaan, mengapa sebagian orang menjadi kidal?
Baca Juga: Rahasia Perbedaan Wajah Neanderthal dan Manusia Modern Akhirnya Terungkap
Francks menjelaskan bahwa sebagian besar kasus kekidalan kemungkinan muncul karena variasi acak dalam proses perkembangan otak. Ia mencontohkan fluktuasi acak pada konsentrasi molekul tertentu di fase penting pembentukan otak. Perubahan kecil ini bisa mempengaruhi kecenderungan seseorang menulis, melempar, atau memegang benda dengan tangan kiri di kemudian hari.
Selain faktor genetik dan perkembangan janin, beberapa ilmuwan menilai sejarah evolusi juga memberi kontribusi. Salah satu teori mengaitkan dominasi tangan kanan dengan kemampuan menggunakan alat.
Gerakan terampil yang diwariskan dari generasi ke generasi diyakini memperkuat kecenderungan penggunaan tangan kanan. Bukti arkeologis bahkan menunjukkan bahwa manusia telah menggunakan tangan kanan secara dominan saat memakai alat sejak setidaknya 500.000 tahun lalu.
Rodway dan rekan-rekannya juga mengusulkan teori lain: dominasi tangan kanan mungkin dulu memberikan keuntungan saat berhadapan dengan lawan menggunakan senjata tajam. Ketika dua orang bertarung, pengguna tangan kanan lebih mungkin menyerang bagian kiri dada lawan—wilayah di mana sebagian besar organ jantung berada.
Dengan demikian, secara evolusioner, pengguna tangan kanan mungkin memiliki peluang bertahan hidup lebih tinggi. Keuntungan kecil namun konsisten seperti ini bisa membuat kelompok pengguna tangan kanan semakin mendominasi dari generasi ke generasi
Menariknya, orang kidal juga memiliki keunggulan tersendiri. Karena jumlahnya sedikit, gerakan mereka cenderung lebih sulit diprediksi. Di medan pertempuran maupun olahraga, ketidakbiasaan lawan terhadap gaya gerak orang kidal dapat menjadi keuntungan. Kondisi ini diduga menjadi alasan mengapa kelompok kidal tetap bertahan dalam populasi manusia sepanjang sejarah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Moto Buds 2 Bersiap ke Pasar Asia, Bawa Baterai Tahan Lama dan Fitur ANC
-
The Economist Milik Siapa? Kritik Keras Prabowo, Ada Grup Rothschild dan Agnelli
-
Tebus Kesalahan, Devil May Cry Season 2 Dapat Sambutan Positif di Netflix
-
Sony Siapkan Headphone Premium: Pesaing AirPods Max, Harga Diprediksi Tembus Rp11 juta
-
5 HP Honor RAM Besar Termurah, Kuat untuk Multitasking Berat Mulai Rp2 Jutaan
-
Honor Robot Phone Siap Meluncur: Bawa Modul Kamera Gimbal dan Sensor 200 MP
-
Deepfake dan Phishing AI Mengancam Perbankan, Industri Diminta Waspada
-
Xiaomi 17 Andalkan Kamera Leica dan HyperAI, Patricia Gouw Bikin Konten Fashion Ala Editorial
-
Xiaomi 17 Max Resmi Meluncur 21 Mei, Bawa Kamera Leica 200MP dan Baterai 8000mAh
-
Samsung Galaxy Z Flip 8 Disebut Jadi HP Lipat Clamshell Terakhir, Ini Penyebabnya