Suara.com - NASA kembali menyoroti salah satu fenomena geomagnetik paling aneh di Bumi: pelemahan besar pada medan magnet planet yang terjadi di wilayah Atlantik Selatan.
Area melemah ini, yang dikenal sebagai South Atlantic Anomaly (SAA), terus berkembang dan berubah bentuk, memicu perhatian para ilmuwan karena dampaknya terhadap satelit dan stasiun luar angkasa.
Mengutip Science Alert (18/11/2025), fenomena tersebut sudah lama diamati, tetapi laporan terbaru menunjukkan bahwa ukuran anomali ini terus bertambah. Sejak 2014, luas SAA meningkat hingga hampir setengah dari ukuran Eropa, sementara intensitas medan magnetnya semakin melemah.
Kondisi ini tidak berbahaya bagi manusia di permukaan Bumi, tetapi menjadi ancaman nyata bagi teknologi luar angkasa yang melintasinya.
SAA digambarkan NASA sebagai “lekukan” pada medan magnet Bumi, atau seperti lubang jalan kosmik. Medan magnet yang melemah menyebabkan satelit yang melewatinya terpapar partikel bermuatan tinggi dari matahari. Ketika partikel-partikel tersebut menghantam perangkat elektronik, satelit bisa mengalami gangguan mendadak, kesalahan data, hingga kerusakan permanen.
Karena itu, banyak operator satelit harus mematikan sebagian sistem saat memasuki zona SAA untuk mencegah kerusakan. Bahkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) juga melintas melalui area ini sehingga rawan gangguan.
Di balik risiko tersebut, SAA menawarkan peluang penelitian besar. Fenomena ini dinilai penting untuk dipahami karena berkaitan langsung dengan dinamika inti Bumi yang menghasilkan medan magnet.
NASA, mengutip Science Alert (18/11/2025), mengatakan bahwa medan magnet Bumi merupakan kombinasi dari berbagai sumber arus listrik, terutama yang berasal dari pergerakan besi cair di inti luar planet. Arus ini menghasilkan medan magnet global, tetapi distribusinya tidak merata.
Di bawah benua Afrika, sekitar 2.900 kilometer di bawah permukaan tanah, terdapat struktur batuan padat raksasa bernama African Large Low Shear Velocity Province (LLSVP). Massa raksasa ini diyakini mengganggu aliran besi cair dan mengubah pola pembentukan medan magnet.
Baca Juga: Blue Origin Sukses Luncurkan Misi Mars, Gendong 2 Wahana Antariksa NASA
Geofisikawan Weijia Kuang menjelaskan bahwa di wilayah SAA muncul area kecil dengan polaritas medan magnet terbalik. Ketika area ini tumbuh, intensitas magnet di sekitarnya melemah drastis. Perubahan ini juga diperkuat oleh kemiringan sumbu magnet Bumi.
Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa SAA bukan struktur statis. Pada 2016, penelitian NASA menemukan bahwa area anomali ini bergerak perlahan. Data dari CubeSat pada 2021 kemudian mengonfirmasi pergeseran tersebut.
Menariknya, pada 2020 para ilmuwan mendeteksi bahwa SAA tampaknya mulai membelah menjadi dua bagian. Masing-masing bagian memiliki pusat pelemahan magnet tersendiri, dan keduanya bergerak dengan pola yang berbeda.
Belum diketahui apa arti pembelahan ini bagi masa depan medan magnet Bumi. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa fenomena ini jauh lebih dinamis dari dugaan sebelumnya.
Meski perubahan dalam beberapa dekade terakhir terlihat dramatis, penelitian yang dirilis pada 2020 menunjukkan bahwa pola anomali seperti SAA bukan hal baru. Fenomena ini kemungkinan pernah muncul berulang kali selama 11 juta tahun terakhir.
Jika benar, temuan tersebut menunjukkan bahwa SAA bukan tanda bahwa Bumi akan mengalami pembalikan kutub magnetik dalam waktu dekat — sesuatu yang secara alami terjadi setiap beberapa ratus ribu tahun, tetapi tidak sedang berlangsung sekarang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Harga dan Spesifikasi Marshall Monitor III ANC Cream di Indonesia
-
5 Tablet 12 Inci untuk Produktivitas Tinggi, Ringkas Dibawa Kemana Saja
-
Google Luncurkan Search Live, Bisa Cari Info Pakai Suara dan Kamera
-
Tips Bikin Konten Instagram dan TikTok Lebih Autentik Pakai Xiaomi 17 dengan Kamera Leica
-
5 Pilihan HP POCO 5G Terbaru Paling Murah di 2026, Konektivitas Cepat
-
Samsung Galaxy A37 5G Resmi Hadir: Andalkan Kamera Nightography dan AI, Cocok Buat Konten Seharian
-
Serangan Siber di Indonesia Tembus 14,9 Juta, Kaspersky Dorong SOC Berbasis AI
-
Biaya Registrasi SIM Biometrik Mahal, Komdigi Minta Keringanan ke Tito dan Purbaya
-
NextDev Summit 2026 : Telkomsel Dorong Startup AI, Tax Point Jadi Juara
-
Komdigi Buka Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, Perluas Internet ke Pelosok Daerah