- Batas suhu 1,5°C Perjanjian Paris diperkirakan akan terlampaui dalam beberapa tahun mendatang meskipun upaya mitigasi global telah digenjot secara berkelanjutan.
- Melampaui batas 1,5°C meningkatkan risiko perubahan permanen sistem Bumi, termasuk kepunahan terumbu karang dan potensi runtuhnya sistem hutan Amazon.
- Analisis memprediksi dunia akan melampaui batas 1,5°C sekitar tahun 2030, dengan suhu puncak mencapai 1,7°C sebelum turun jika emisi dikurangi secara agresif.
Suara.com - Bumi kini bergerak menuju sebuah kenyataan pahit yang selama satu dekade terakhir berusaha untuk dihindari: batas suhu 1,5°C yang dijadikan sebagai "garis pertahanan terakhir" dalam Perjanjian Paris diperkirakan akan terlampaui dalam beberapa tahun mendatang.
Para ilmuwan, lembaga internasional, hingga pejabat PBB kini sepakat bahwa fase overshoot (melampaui batas) ini semakin sulit untuk dicegah, meskipun upaya global terus digenjot.
Apa Artinya Jika Batas 1,5°C Terlampaui?
Selama bertahun-tahun, angka 1,5°C diperlakukan sebagai target yang tidak boleh dilewati. Namun, pemantauan terbaru menunjukkan bahwa suhu rata-rata global telah mencapai sekitar 1,3°C, dan beberapa bulan pada tahun lalu bahkan sempat berada di atas 1,5°C.
Direktur Institut Penelitian Iklim Potsdam, Johan Rockström, memperingatkan bahwa mendekati titik tersebut berarti kita sedang memasuki zona risiko yang dapat mengubah sistem di Bumi secara permanen.
“Kita menghadapi risiko nyata untuk memicu perubahan yang tidak dapat diubah kembali dalam sistem Bumi saat suhu mencapai 1,5°C,” ujarnya.
Risiko itu mencakup:
- Kepunahan terumbu karang secara global.
- Gelombang panas mematikan yang akan meningkat drastis.
- Potensi runtuhnya sistem hutan Amazon dan mencairnya lapisan es di Greenland serta Antartika.
Harapan di Tengah 'Kelebihan Emisi'
Pejabat PBB menyampaikan kekhawatiran yang serupa. Kepala Iklim PBB, Simon Stiell, menekankan bahwa meskipun dunia hampir pasti akan melewati ambang batas tersebut, tujuan 1,5°C tetap harus dipertahankan.
Baca Juga: Elon Musk Mau Blokir Matahari untuk Atasi Krisis Iklim: Solusi Jenius atau Ide Nyeleneh?
Konsep overshoot sendiri bertumpu pada asumsi bahwa setelah emisi gas rumah kaca berhasil ditekan mendekati nol, penyerap karbon alami seperti hutan dan lautan akan secara perlahan menyerap kembali polusi karbon dari atmosfer. Teknologi penangkapan karbon juga diharapkan bisa berperan, meskipun kapasitasnya saat ini masih jauh dari memadai.
“Tanpa penghilangan karbon dioksida dalam jumlah besar, mustahil untuk bisa mengelola skenario kelebihan emisi ini,” ujar Ottmar Edenhofer, Ketua Dewan Penasihat Ilmiah Eropa untuk Perubahan Iklim.
Kapan 'Bom Waktu' Ini Akan Meledak?
Ketidakpastian yang besar masih menyelimuti era ini. Para ilmuwan belum bisa memastikan kapan titik bahaya terbesar akan muncul. Yang jelas, dunia diperkirakan akan berada dalam zona bahaya ini selama beberapa dekade ke depan.
Analisis terbaru dari Climate Action Tracker memperkirakan bahwa dunia akan melewati batas 1,5°C sekitar tahun 2030. Suhu global diproyeksikan akan memuncak pada sekitar 1,7°C dan baru akan turun perlahan pada tahun 2060-an—itu pun jika seluruh negara melakukan penurunan emisi secara agresif.
Rockström mengingatkan bahwa peluang untuk bisa menghindari overshoot ini sepenuhnya sebenarnya masih terbuka satu dekade yang lalu. Namun, lambatnya tindakan global telah membuat kesempatan itu menghilang.
Meskipun overshoot kini semakin mendekat, para ilmuwan menekankan bahwa setiap tindakan pengurangan emisi sekecil apa pun tetaplah berarti. Masa depan bumi belum sepenuhnya ditetapkan, dan waktu yang tersisa harus dimanfaatkan sebelum "garis merah" itu berubah menjadi titik tanpa bisa kembali.
(Muhamad Ryan Sabiti)
Berita Terkait
-
Menteri Hanif: RI Naik Pangkat, Resmi Pimpin 'Gudang Karbon Raksasa' Dunia
-
BUMI Jadi Incaran Asing, Bukukan Net Buy Terbesar Ketiga di BEI Sepekan Terakhir
-
Bumi Berseru Fest 2025: Telkom Umumkan 42 Inovator Terbaik, Eco Produk sampai Teknologi Hijau
-
Daftar Pemegang Saham BUMI Terbesar, Dua Keluarga Konglomerat Masih Mendominasi
-
Peneliti: Pemanasan Arktik dan Antartika Bisa Picu Gelombang Penyakit di Dunia
Terpopuler
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- Bukan Hanya Siswa, Guru pun Terkena Aturan Baru Penggunaan Ponsel di Sekolah Sulbar
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
Pilihan
-
Resmi! Kemenag Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
-
Hilal Tidak Terlihat di Makassar, Posisi Bulan Masih di Bawah Ufuk
-
Detik-detik Warga Bersih-bersih Rumah Kosong di Brebes, Berujung Temuan Mayat dalam Koper
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
Terkini
-
Mulai Puasa Rabu Besok, Masjid Jogokariyan dan Gedhe Kauman Jogja Gelar Tarawih Perdana
-
Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026, Ini Penjelasan Kemenag
-
Kemenag Tetapkan 1 Ramadan Pada Kamis 19 Februari, Mengapa Beda dengan Muhammadiyah?
-
Bertemu Wakil Palestina di PBB, Menlu Sugiono Tegaskan Dukungan Indonesia
-
Getok Tarif Parkir Rp100 Ribu, Polisi Ciduk 8 Jukir Liar di Tanah Abang
-
Resmi! Kemenag Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
-
Komdigi Siapkan Aturan Penggunaan AI, Lokataru Endus Motif Kepentingan Bisnis dan Politik
-
Sambangi Kelenteng Bio Hok Tek Tjeng Sin, Rano Karno Gaungkan Pesan Keadilan di Tahun Baru Imlek
-
Lokataru Minta Masalah Kebocoran Data Nasional Dievaluasi Sebelum Bahas RUU KKS
-
Intimidasi Makin Meluas, Ibu Ketua BEM UGM dan 30 Pengurus Jadi Sasaran Teror Digital