Tekno / Internet
Senin, 23 Februari 2026 | 09:42 WIB
Ilustrasi AI (Pexels.com/Abet LIancer)
Baca 10 detik
  • Tren karikatur AI populer mendorong pengguna membagikan data pribadi detail kepada sistem kecerdasan buatan.
  • Profil digital rinci ini dapat dimanfaatkan penjahat siber untuk membuat serangan *phishing* yang meyakinkan.
  • Data unggahan pengguna, termasuk foto dan instruksi, berpotensi tersimpan dan mendukung rekayasa sosial di masa depan.

Suara.com - Tren membuat karikatur menggunakan kecerdasan buatan (AI) tengah membanjiri media sosial.

Ribuan pengguna membagikan foto pribadi lalu meminta AI membuat ilustrasi versi animasi diri mereka, lengkap dengan profesi, keluarga, hingga “semua yang diketahui AI” tentang kehidupan mereka.

Feed Instagram, TikTok, hingga LinkedIn dipenuhi gambar AI yang menampilkan seseorang di kantor, bersama pasangan dan anak, atau mengenakan atribut sesuai pekerjaannya.

Namun di balik kreativitas tersebut, ancaman serius mengintai.

AI Bukan Sekadar Filter Lucu

Pakar keamanan siber dari Kaspersky menegaskan bahwa tren ini jauh lebih kompleks daripada sekadar filter visual biasa.

Alih-alih hanya mengolah foto, banyak pengguna secara sadar memberikan instruksi seperti, “Buatkan karikatur tentang saya dan pekerjaan saya berdasarkan semua yang Anda ketahui tentang saya.”

Permintaan semacam ini mendorong sistem AI mengakses dan mengolah sebanyak mungkin informasi yang tersedia. Bukan hanya foto, tetapi juga nama perusahaan, logo tempat bekerja, jabatan, kota domisili, rutinitas harian, hobi, dan informasi keluarga.

Setiap potongan data tersebut membentuk profil digital yang sangat detail.

Baca Juga: Bocoran Samsung One UI 9, Hadirkan Fitur Ask AI Berbasis Android 17

Ketika gambar, teks, kebiasaan, relasi, lokasi yang sering dikunjungi, hingga tanggung jawab profesional digabungkan, hasilnya bukan sekadar ilustrasi, melainkan blueprint digital yang bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.

Dengan data sedetail itu, penipu dapat membuat pesan phishing yang terasa sangat personal. Email atau pesan palsu yang menyebut nama perusahaan korban, jabatan spesifik, bahkan anggota keluarga, akan terdengar jauh lebih meyakinkan.

Risikonya pun meningkat: korban lebih mudah percaya dan terdorong membagikan informasi sensitif atau bahkan mentransfer uang.

Ancaman ini disebut sangat nyata, terutama di kawasan Asia Pasifik.

Data menunjukkan tingkat adopsi AI di wilayah ini mencapai 78 persen profesional yang menggunakan AI setiap minggu, lebih tinggi dari rata-rata global 72 persen. Namun, literasi teknis dasar belum merata, sehingga celah rekayasa sosial dan phishing semakin lebar.

Data Tidak Benar-Benar Hilang

Masalahnya tidak berhenti pada gambar akhir yang dibagikan di media sosial.

Ilustrasi Media Sosial (Pixabay)

Bergantung pada kebijakan privasi platform, data berikut juga berpotensi tersimpan foto asli, instruksi teks yang ditulis pengguna, riwayat penggunaan, alamat IP, informasi perangkat, dan pola interaksi.

Sebagian data ini dapat disimpan untuk operasional layanan, peningkatan performa, atau pelatihan model AI. Artinya, konten yang diunggah tidak serta-merta hilang setelah karikatur selesai dibuat.

Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik di Kaspersky, memberikan peringatan tegas.

“Tren viral pembuatan karikatur kehidupan kita ini mungkin tampak seperti hiburan yang tidak berbahaya, tetapi sebenarnya merupakan informasi sukarela bagi penjahat siber,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (23/2/2026).

Ia menambahkan bahwa setiap detail yang diberikan pengguna bisa menjadi senjata bagi pelaku kejahatan.

“Setiap kali pengguna di Asia Pasifik memberikan detail tentang diri mereka kepada AI hanya untuk melihat ilustrasi yang cerdas, mereka menyerahkan cetak biru untuk serangan rekayasa sosial yang sempurna.”

Menurutnya, kombinasi adopsi AI yang tinggi namun literasi digital yang belum merata menciptakan kondisi berbahaya.

“Pada dasarnya kita memberi penipu ‘konteks’ yang mereka butuhkan untuk mengubah email phishing generik menjadi penipuan yang sangat personal dan meyakinkan sehingga memungkinkan untuk melewati pertahanan pengguna yang berhati-hati sekalipun,” tegas Hia.

Load More