- Kemenkeu resmi melakukan blacklist terhadap Dwi Sasetyaningtyas dan Arya Iwantoro.
- Alumni LPDP tersebut dilarang bekerja di seluruh instansi pemerintahan Indonesia.
- Dwi Sasetyaningtyas diwajibkan mengembalikan seluruh dana beasiswa beserta bunganya.
Suara.com - Dwi Sasetyaningtyas ramai menjadi pembicaraan dalam beberapa hari terakhir. Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) membuat kebijakan khusus menanggapi viral kasus Dwi Sasetyaningtyas.
Sebagai informasi, Dwi Sasetyaningtyas (Tyas) viral setelah postingan 'cukup aku saja yang WNI tapi anakku jangan' menuai respons negatif dari netizen.
Publik menilai bahwa Dwi Sasetyaningtyas menghina bangsa sendiri dengan mengutarakan dirinya bangga sang anak menjadi WNA.
Postingan viral menampilkan momen saat Tyas menerima surat dari Home Office Britania Raya terkait sang anak yang resmi menjadi warga negara Inggris.
Netizen berpendapat bahwa Tyas tak pantas mengucapkan kata seperti itu mengingat ia sudah dibiayai kuliah oleh negara melalui program dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Setelah viral serta membuat LPDP trending selama berhari-hari, Tyas meminta maaf ke publik.
"Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat 'cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan', dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut. Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan," kata Dwi Sasetyaningtyas melalui akun Instagram (@sasetyaningtyas) pada 20 Februari 2026.
Pantauan melalui Trends24.in, LPDP sempat menempati kategori 'Longest Trending' (Trending Terlama) di pekan ini. LPDP dan Sasetyaningtyas trending setelah dicuitkan lebih dari 15 ribu kali pada 24 Februari 2026.
Kebijakan Kemenkeu RI Buntut Viralnya Dwi Sasetyaningtyas
Baca Juga: Gurita Bisnis Dwi Sasetyaningtyas, Suami Disanksi Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Kemenkeu RI membuat keputusan untuk melakukan blacklist terhadap Dwi Sasetyaningtyas dan suami.
Mereka diketahui menempuh pendidikan S3 dengan memakai uang negara melalui LPDP.
Nama Dwi Sasetyaningtyas dan suami, Arya Iwantoro sudah masuk daftar hitam di instansi pemerintahan.
Itu artinya mereka tak bisa bekerja atau berkecimpung pada proyek yang berhubungan dengan pemerintahan. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN KiTa pada Senin (23/02/2026).
Menkeu Purbaya menyesalkan pernyataan Dwi Sasetyaningtyas serta meminta Tyas serta suami untuk mengembalikan uang negara.
"Nanti saya akan blacklist dia. Di seluruh pemerintahan nggak akan bisa masuk. Itu hal yang kami sesalkan. Jadi kami akan menegakkan aturan yang ada di LPDP sehingga yang bersangkutan menyelesaikan tanggung jawabnya ke LPDP. Ini Pak Dirut nih, bosnya LPDP nih, sudah bicara tadi dengan suami terkait ya, dan dia sepertinya sudah setuju untuk membayar mengembalikan uang yang dipakai oleh LPDP, termasuk bunganya lho. Jadi bukan uang yang dipakai kan kalau saya taruh uang itu di bank juga ada bunganya kan? Dengan treatment yang fair," kata Purbaya dikutip dari kanal YouTube Kementerian Keuangan RI.
Purbaya berpendapat, seseorang boleh benci dengan kebijakan negara, tetapi mereka tidak boleh menghina bangsa serta negara.
"Saya harapkan ke depan teman-teman yang dapat pinjaman LPDP, ya kalau nggak senang ya nggak senang tapi jangan menghina-hina negaralah. Itu uang dari pajak dan sebagian dari utang yang kita sisihkan untuk memastikan SDM kita tumbuh. Tapi kalau dipakai untuk menghina negara ya kita minta uangnya dengan bunganya kalau gitu. Nanti saya akan blacklist dia. Di seluruh pemerintahan nggak akan bisa masuk," pungkas Purbaya.
Berita Terkait
-
Komentari Kasus LPDP Dwi Sasetyaningtyas, Sabrina Chairunnisa Ingatkan Bahaya Pamer di Medsos
-
Buntut Pernyataan Kontroversial, Tyas Alumni LPDP Diceramahi Anggota DPR
-
Apa Sanksi bagi Penerima Beasiswa LPDP yang Tidak Pulang ke Indonesia?
-
Viral Donald Trump Minta Prabowo Pegangi Dokumen BoP dan Pulpen, Ekspresinya Jadi Sorotan
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Tensi Tinggi! Jose Mourinho Boikot Konferensi Pers Jelang Real Madrid vs Benfica
-
Gunung Dempo Masih Waspada, Warga Pagaralam Diminta Jangan Abaikan Imbauan Ini
-
Alfamart-Indomaret Tak Boleh Ekspansi, Kopdes Merah Putih Prabowo Takut Tersaingi?
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
Terkini
-
Infrastruktur Digital Jadi Penentu Bisnis Ritel dan F&B
-
Penampakan Xiaomi 17 Ultra Leica Edition Versi Global Terungkap Jelang Perilisan
-
17 HP Murah Redmi dan POCO dapat HyperOS 4 Berbasis Android 17, Ada Fitur Baru
-
MPL ID Season 17 Kapan Dimulai? Ini Bocoran Jadwal dan Roster Tim Mobile Legends
-
Viral Donald Trump Minta Prabowo Pegangi Dokumen BoP dan Pulpen, Ekspresinya Jadi Sorotan
-
Oppo Find N6 Segera Rilis: Lipatan Makin Tipis, Kamera 200MP dan Snapdragon 8 Elite Gen 5
-
50 Kode Redeem FF Terbaru 24 Februari 2026, Klaim Gloo Wall Ramadan Gratis
-
5 Cara Menghidupkan dan Mematikan Layar HP Xiaomi Tanpa Tombol
-
33 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 24 Februari 2026, Siap Sambut Event Capped Legends
-
Trailer Forza Horizon 6 'Bioma' Pamerkan Lanskap Jepang yang Spektakuler