Abrams dikenal sebagai visioner yang mampu melihat potensi besar internet sebagai alat sosialisasi, meskipun tantangan teknis dan persaingan bisnis nantinya menjadi penghalang utama bagi keberlanjutan visinya tersebut.
Perjalanan Friendster: dari Kejayaan hingga Penutupan
Friendster didirikan oleh Abrams pada tahun 2002 di Mountain View, California.
Situs ini mencapai popularitas luar biasa dalam waktu singkat, mengumpulkan jutaan pengguna hanya dalam beberapa bulan.
Friendster menjadi fenomena global karena memungkinkan pengguna memperluas jaringan sosial secara daring dengan aman.
Namun, kesuksesan ini membawa masalah teknis yang pelik. Karena lonjakan pengguna yang masif, infrastruktur Friendster sering mengalami gangguan dan waktu muat (loading) yang sangat lambat.
Hal ini memicu rasa frustrasi pengguna, yang kemudian mulai beralih ke kompetitor baru seperti MySpace dan kemudian Facebook.
Meskipun sempat melakukan upaya ekspansi besar di Asia Tenggara dominasi globalnya terus merosot.
Pada tahun 2009, Friendster diakuisisi oleh perusahaan Malaysia, MOL Global.
Baca Juga: Speak Up Like Kartini: Emansipasi Perempuan di Era Media Sosial
Adapun di bawah kepemilikan baru, Friendster sempat bertransformasi menjadi situs permainan sosial (social gaming) pada tahun 2011 dan menghapus seluruh konten profil sosial penggunanya.
Sayangnya, strategi ini tidak mampu membendung arus persaingan.
Friendster akhirnya resmi menghentikan seluruh layanannya pada tahun 2015, dan perusahaan tersebut secara hukum dibubarkan pada tahun 2018.
Penutupan Friendster menandai berakhirnya era salah satu pionir terbesar dalam sejarah internet.
Kini Bangkit Lagi
Friendster secara mengejutkan bangkit kembali pada April 2026 melalui aplikasi eksklusif iOS.
Adapun di bawah naungan Friendster Labs Inc. milik programmer Mike Carson, Friendster mengusung konsep unik tanpa iklan dan algoritma.
Menariknya, sistem pertemanan diwajibkan melalui interaksi fisik seperti mendekatkan ponsel (NFC/AirDrop) guna mendorong koneksi dunia nyata.
Fokus utamanya adalah privasi dan nostalgia pengalaman positif, menjauhkan diri dari sisi negatif media sosial modern serta eksploitasi data pengguna.
Jadi, apakah Anda tertarik bermain Friendster kembali?
Kontributor : Armand Ilham
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Dari Konten Jadi Cuan, Kolaborasi Indosat, Adobe, dan Kemenekraf Buka Jalan Baru
-
47 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 16 Juni 2026: Sikat Cepat, Pemain 15 Juta Koin Menanti
-
46 Kode Redeem FF Terbaru 16 Juni 2026: Bocoran Update Anniversary dan Sikat Fist Split Eclipse
-
HP Vivo Paling Murah Seri Apa di 2026? Ini 6 Pilihan Terbaik dari Entry hingga Flagship Premium
-
ASUS ExpertCenter D5: PC Desktop Andal untuk Bisnis Modern
-
Penampakan Honor X80 Pro Max Beredar, HP Midrange Baru dengan Baterai 11.000 mAh
-
HP Samsung RAM 8 GB Apa Saja? Ini 3 Pilihan Terbaik dan Termurah sesuai Review
-
5 Kelebihan dan Kekurangan iPhone 14: 'iPhone Murah Terbaik' Pilihan David GadgetIn
-
17 Tim Peraih Juara MPL ID S1 hingga S17, Bigetron by Vitality Jadi Juara Baru
-
AI Picu Tren Ekonomi Keterampilan Manusia di Dunia Kerja