Suara.com - Media sosial tidak terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Media sosial tentunya memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai upaya pemanfaatan edukasi masyarakat mengenai satwa liar. Namun, di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi pisau bermata dua, di mana media sosial dapat menjadi ancaman mematikan bagi satwa liar.
Bagi Yayasan KIARA, platform digital kini menjadi telah menjadi medan tempur baru dalam mengedukasi masyarakat tentang satwa endemik, Owa Jawa.
Ancaman di Balik Layar Saat Konten Menjadi Racun
Ahli primata dan konservasionis, Rahayu Oktaviani, menceritakan perjuangannya bersama yayasan yang ia dirikan bersama teman-temannya, yaitu KIARA dalam mengedukasi masyarakat mengenai Owa Jawa. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar terletak pada peran media sosial.
“Banyak sekali konten-konten yang bersifat non-edukasi tapi lebih ke mengeksploitasi satwa liar sebagai peliharaan,” ujar perempuan yang akrab disapa Ayu.
“Konten-konten seperti ini sebenarnya yang menjadi tantangan untuk memberikan edukasi kepada pengguna sosial media lainnya,” tambahnya.
Konten-konten tersebut kerap menjadi pemicu yang mendorong pengguna media sosial untuk ikut memelihara satwa liar tanpa memahami konsekuensinya.
“Sehingga ini menjadi tantangan, yang bisa jadi saya bilang salah satu tantangan terbesar dalam upaya konservasi terutama lewat platform media sosial.” ucap ayu.
Dilansir dari worldanimalprotection.org (23/4/2026), mengutip riset yang dilakukan oleh organisasi kesejahteraan hewan, YouTube diperkirakan telah menghasilkan hingga 12 juta dolar AS atau setara dengan 207 miliar rupiah hanya dalam tiga bulan dari konten-konten terkait penyiksaan satwa liar.
Baca Juga: Mengapa Memelihara Owa Jawa Bisa Merusak Regenerasi Hutan? Pakar Bilang Begini
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa konten eksploitasi satwa masih memiliki nilai ekomoni yang tinggi di platform digital. Bagi Rahayu, tren ini sangat tidak tepat jika terus dinormalisasi, karena merupakan tindakan yang dilarang keras oleh undang-undang perlindungan satwa.
Harga Mahal di Balik Konten Menggemaskan
Di balik setiap unggahan bayi Owa Jawa yang tampak menggemaskan di media sosial, tersimpan fakta kelam yang jarang diungkap oleh para konten kreator.
“Memelihara Owa Jawa itu artinya membunuh induknya, karena sudah pasti untuk mendapatkan bayi Owa Jawa, indukannya itu harus mati terlebih dahulu ” tegas Rahayu.
Selain itu, pemeliharaan Owa Jawa oleh manusia juga jauh dari kata menyejahterakan bagi satwa yang terbiasa hidup bebas di hutan. Bayangkan jika kita berada dalam posisi hewan tersebut, harus hidup di ruang sempit atau terkurung dalam kandang yang membatasi gerak. Pasti tidak nyaman dan terasa sesak.
Oleh karena itu, KIARA juga berupaya memberikan edukasi untuk membongkar realitas bahwa memelihara satwa liar itu bukan bentuk cinta, melainkan kontribusi nyata terhadap kepunahan mereka di alam.
Sebagai masyarakat, kita juga perlu lebih bijak dalam menyikapi konten serupa, agar dapat ditindaklanjuti dan tidak turut mendukung penyebaran konten yang merugikan satwa.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
- 4 Zodiak yang Diprediksi Hidup Lebih Tenang dan Damai di Akhir Juli 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Hasto Wanti-wanti Demokrasi Bisa Mati Tanpa Kudeta Militer, Tanda-tanda Mulai Terlihat
-
Pramono Ancam Cabut Izin Swasta yang Timbun Sampah Ilegal di Jakarta
-
Yusril Minta Polda Jabar Tingkatkan Patroli Usai Polemik Sayembara Tangkap Begal
-
Evolusi Konten GRWM: Dari Sekadar Tutorial Makeup Menjadi Ruang Curhat Paling Relatabel
-
Cak Imin Ajak Semua Parpol Revisi 108 UU demi Wujudkan Prabowonomics
-
10 Cara Menggunakan AC Inverter agar Listrik Tetap Hemat
-
BRI Peduli dan Petani Lokal di Karawang Bersinergi Tanam 24.000 Mangrove
-
Pulihkan Pesisir, BRI Peduli Tanam 24.000 Mangrove di Karawang
-
BRI Peduli Libatkan Petani Lokal Hijaukan Pesisir dengan 24.000 Mangrove
-
HIV AIDS di Sidoarjo Viral Usai Ribuan Kasus Pasien Anak Remaja, Kemenkes Buka Suara