- PT Sharp Electronics Indonesia meluncurkan produk Airest di Jakarta pada Rabu, 5 Agustus 2026.
- Sharp mencatat produksi 70.000 unit AC per bulan dengan tingkat komponen dalam negeri mencapai 70 persen.
- Perusahaan menaikkan target pendapatan tahunan menjadi Rp13 triliun menyusul tingginya permintaan pasar domestik.
Suara.com - Bagi masyarakat urban, AC kini bukan lagi perangkat luks, melainkan kebutuhan primer untuk menjaga produktivitas. Namun, ketergantungan pada komponen impor dan teknologi filtrasi standar menjadi titik lemah bagi industri ini.
Menjawab tantangan tersebut, PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) melakukan langkah berani dengan memperkuat kemandirian manufaktur domestik dan meluncurkan inovasi teknologi yang melampaui sekadar pendinginan.
Dominasi 25 Persen: Kemenangan Inovasi Lokal atas Gempuran Impor
Sebagai pemimpin pasar (market leader) dengan pangsa pasar mencapai 25 persen, Sharp membuktikan bahwa penguasaan teknologi manufaktur lokal adalah kunci memenangkan "perang udara" di tanah air.
Saat kompetitor mulai kesulitan menyuplai unit akibat regulasi Standardisasi Nasional Indonesia (SNA) untuk barang impor, Sharp justru memacu kapasitas produksinya hingga ke titik maksimal.
National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, mengungkapkan betapa agresifnya permintaan pasar saat ini.
"Kita produksi sampai kewalahan, 70.000 unit AC setiap bulan habis terserap pasar. Semester pertama (Januari-Juni) perjalanannya luar biasa melampaui ekspektasi kami," ujar Andry di sela-sela peluncuran AIREST di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Inovasi Material: Adaptasi Teknologi di Tengah Krisis Tembaga Dunia
Salah satu aspek inovasi yang paling tajam dari Sharp adalah kemampuan adaptasi komponen. Melonjaknya harga tembaga global hingga tiga kali lipat menjadi batu sandungan bagi banyak produsen.
Baca Juga: Sharp Airest Satukan AC dan Air Purifier, Hadirkan Teknologi MERV 14 Bikin Udara Makin Sehat
Sharp merespons krisis ini bukan dengan menurunkan kualitas, melainkan dengan melakukan rekayasa material menggunakan aluminium yang lebih adaptif secara biaya namun tetap memiliki durabilitas tinggi.
Hal ini didukung oleh nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang kini telah menyentuh angka 56 persen hingga 70 persen. Sharp mengintegrasikan seluruh proses produksi di dalam negeri, mulai dari injeksi kabinet, pemrosesan metal, hingga pembuatan evaporator secara mandiri.
"Ini adalah bentuk kemandirian teknologi. Dengan TKDN yang tinggi, kami tidak hanya mengamankan suplai bagi konsumen Indonesia, tetapi juga memastikan harga tetap kompetitif di tengah fluktuasi dolar," tambah Andry.
Anomali Pasar: Saat Kualitas Udara Menjadi Prioritas Utama
Tahun 2026 mencatatkan fenomena unik dalam perilaku konsumen Indonesia. Meskipun Sharp telah melakukan penyesuaian harga hingga tujuh kali sejak akhir tahun lalu akibat kenaikan biaya material dan fluktuasi mata uang, angka penjualan justru terus meroket.
Andry Adi Utomo menyebut fenomena ini sebagai 'Anomali Indonesia'.
Berita Terkait
-
Sharp Target Penjualan Naik 20% Lewat Promo Spektakuler di Jakarta Fair 2026
-
Tak Perlu Bongkar Dinding! Ini 4 AC Portable 1 PK Review Terbaik yang Dinginnya Semriwing
-
4 Air Cooler Sharp Termurah di Shopee, Daya Listrik Mulai 50 Watt
-
Tak Perlu Pasang AC Mahal, Ini 3 AC Portable Mini Murah di Bawah Rp1 Jutaan untuk Kamar
-
5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan