Tekno / Internet
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 15:42 WIB
Pegawai dan wisatawan asing melihat gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). [ANTARA FOTO/Gecio Viana/sth/nz]
Baca 10 detik
  • Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores dan sekitarnya pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
  • Bencana alam tersebut menyebabkan 14 orang meninggal dunia serta merusak sejumlah fasilitas publik dan rumah warga.
  • Sebanyak 200 unit BTS telekomunikasi di sepuluh kabupaten dan kota terdampak mengalami gangguan massal akibat gempa.

Suara.com - Sabtu pagi yang tenang mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa bagi warga Nusa Tenggara Timur (NTT) (15/8/2026).

Tepat pukul 05.58 WITA (04.58 WIB), sebuah gempa bumi tektonik berkekuatan besar mengguncang wilayah Pulau Flores dan sekitarnya.

Guncangan gempa ini dirasakan sangat kuat hingga memicu kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah, bahkan ribuan warga sempat mengungsi ke area perbukitan karena khawatir akan adanya ancaman gelombang tsunami.

Kronologi Gempa M 7,7 di Flores

Basarnas bersama personel TNI dan Polri mengevakuasi warga terdampak gempa bumi di NTT, Sabtu (15/8/2026). ANTARA/HO-Kodam IX/Udayana

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa gempa bumi dangkal ini memiliki kekuatan pemutakhiran magnitudo 7,7 dengan kedalaman pusat gempa sekitar 15 kilometer.

Titik koordinat pusat gempa berada di laut pada jarak sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT.

Mengapa gempa ini bisa terjadi dengan kekuatan yang begitu dahsyat? Berdasarkan analisis dari pihak BMKG, aktivitas gempa ini dipicu oleh pergerakan sesar naik dari Sesar Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust).

Sesar ini memang memiliki catatan sejarah kelam, termasuk gempa besar pada tahun 1992 silam yang memicu kerusakan parah.

Akibat guncangan utama tersebut, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah pesisir.

Baca Juga: Kesaksian Warga Nagekeo Saat Gempa M 7 Guncang NTT: Kami Lari Bawa Lansia dan Tinggalkan Rumah

Gelombang tsunami kecil memang sempat terdeteksi di 10 area pesisir, dengan catatan tertinggi mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende, serta 0,54 meter di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Untungnya, setelah situasi dinilai aman dan tidak ada kenaikan air laut yang membahayakan, BMKG resmi mencabut peringatan tsunami tersebut pada pukul 07.30 WIB.

Hingga Sabtu siang, tercatat puluhan gempa susulan masih terus terjadi di sekitar area terdampak.

Update Jumlah Korban Jiwa dan Kerusakan Fisik

Pasien di RSUD Ben Mboi, Ruteng, Manggarai, Flores, NTT akibat gempa 7,0 pada Sabtu (15/8/2026). [Istimewa]

Guncangan kuat berskala VI MMI di Wolowae dan Kota Bajawa membuat dampak kerusakan tidak terhindarkan.

Berdasarkan data mutakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per pukul 12.30 WIB, tercatat ada 14 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana ini.

Load More