- Kaspersky melaporkan 92.000 serangan siber menyamar sebagai layanan AI populer seperti ChatGPT untuk menyebarkan berbagai jenis malware.
- Peneliti mendapati lebih dari 15.000 sampel malware menggunakan agen AI palsu sebagai umpan untuk menyerang sistem dan data.
- Pelaku kejahatan siber juga membobol komponen open source seperti pustaka Axios untuk menyusup ke rantai pasok perangkat lunak.
Suara.com - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat pekerjaan semakin cepat dan otomatis. Namun, semakin besar ketergantungan terhadap AI, semakin besar pula celah yang bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Peneliti keamanan Kaspersky memperingatkan munculnya risiko baru yang bukan semata-mata berasal dari kelemahan teknis, melainkan dari kepercayaan pengguna terhadap AI tanpa proses verifikasi yang memadai.
Kondisi ini menjadi semakin serius ketika AI berkembang dari sekadar alat pembuat konten menjadi copilot hingga agen AI yang mampu merencanakan pekerjaan, menggunakan berbagai perangkat, memanggil API, dan menjalankan tugas secara lebih mandiri.
Menurut peneliti keamanan Kaspersky GReAT, Sojun Ryu, peningkatan produktivitas justru dapat menjadi risiko ketika kecepatan kerja membuat proses verifikasi diabaikan.
“Ketika kecepatan melampaui verifikasi, kecepatan tersebut justru dapat memperbesar risiko,” ujar Ryu dalam keterangan resminya, Senin (24/8/2026).
92 Ribu Serangan Menyamar sebagai Layanan AI
Ancaman tersebut bukan sekadar teori. Peneliti Kaspersky menemukan 92.000 serangan berbahaya yang menyamar sebagai layanan AI.
Hampir separuh atau 49 persen di antaranya menyamar sebagai aplikasi ChatGPT. Sementara itu, layanan yang menyamar sebagai Claude dan Gemini masing-masing mencapai 18 persen.
Modusnya memanfaatkan kepercayaan pengguna terhadap aplikasi AI populer. Pelaku membuat aplikasi atau layanan palsu yang tampak seperti perangkat AI resmi, tetapi sebenarnya dirancang untuk membawa malware ke perangkat korban.
Baca Juga: 16 Serangan Siber per Detik Mengincar Indonesia, Naik 93 Persen dalam 6 Bulan
Masalahnya, pengguna bisa saja merasa aman karena aplikasi yang digunakan terlihat familiar.
Padahal, di baliknya dapat terdapat berbagai jenis malware, mulai dari trojan, spyware, exploit, downloader, dropper hingga backdoor.
Jika berhasil dijalankan, malware tersebut berpotensi digunakan untuk mencuri informasi internal hingga membuka akses kendali jarak jauh terhadap perangkat korban.
Agen AI Jadi Sasaran Baru
Perubahan teknologi AI juga membuat permukaan serangan semakin luas. Kaspersky menemukan lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak agentic AI. Temuan ini menunjukkan bahwa popularitas agen AI mulai dimanfaatkan sebagai umpan baru oleh pelaku serangan siber.
Risikonya menjadi lebih besar karena agen AI dirancang untuk berinteraksi dengan berbagai sistem, perangkat, API, maupun data dalam menjalankan tugas.
Berita Terkait
-
AI, Kreator, dan Livestream Jadi Senjata Baru Bisnis, Meta Bidik Pasar Asia Pasifik
-
Museum Nasional Jadi Playground Kreator, AI dan Teknologi Buka Jalan Cuan dari Karya Digital
-
Pencarian Wastra Nusantara Naik 540 Persen, AI Ubah Cara Gen Z Kenal Tradisi
-
25 Prompt AI Edit Foto Hari Kemerdekaan RI ke-81, Hasil Natural Cocok untuk Medsos
-
Laptop Gaming Bukan Cuma Buat Mabar: ASUS Bongkar Rahasia AI Lokal Biar Kerja 2x Lebih Cepat!
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
Terkini
-
Makin Canggih tapi Jangan Terlalu Percaya, 92 Ribu Serangan Menyamar sebagai Layanan AI
-
Sidang Febrie Adriansyah: Ahli UGM Sebut Trading in Influence Belum Bisa Jadi Pasal Dakwaan
-
Saksi Lihat Kepulan Asap Saat Pesawat Sukhoi Keluar Jalur, Nyaris ke Jalan Raya
-
4 Mesin Cuci Hemat Listrik Terbaik: Watt Kecil, Fitur Canggih
-
Ulasan Novel False Beat, Kisah Manajer Amatir dan Vokalis Band Berwajah Dua
-
Bukan Adegan Film! Aksi Spiderman Lompat dan Hantam Jake Lang Pelaku Pembakar Al Quran
-
Gaji PPPK Guru Bakal Dibayar Pusat, Bagaimana Nasib Nakes?
-
Bongkar Aktor Intelektual Karhutla, DPR Desak Audit Korporasi Pelaku Pembakaran Hutan
-
RAPBN 2027: Defisit Anggaran Turun, Tapi Pemerintah Tarik Utang Baru Rp 876 Triliun
-
Asap di Udara Kita, Uangnya di Bank Mereka: Hipokrasi Kebakaran Kalimantan