- Ilmuwan mengolah protein darah untuk membuat penawar bisa ular derik.
- Kombinasi protein darah menghasilkan penawar bisa ular derik yang kuat.
- Riset ini membuka era baru produksi penawar bisa ular derik.
Suara.com - Masalah gigitan ular berbisa ternyata masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang sangat serius namun sering terabaikan. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), ular berbisa diperkirakan membunuh sekitar 80.000 hingga 140.000 orang setiap tahunnya di seluruh dunia.
Tak hanya itu, ratusan ribu korban selamat lainnya harus hidup dengan cacat permanen akibat kerusakan jaringan jaringan tubuh yang parah. Sebagian besar dari mereka yang terdampak berada di daerah pedesaan yang sulit mendapatkan akses pengobatan cepat.
Namun, penemuan terbaru justru menghadirkan angin segar dari arah yang tak disangka-sangka.
Dikutip dari Science Daily, para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Sean B. Carroll dari University of Maryland, berkolaborasi dengan Elda Sánchez dari National Natural Toxins Research Center di Texas A&M University-Kingsville serta rekan peneliti lainnya seperti Fiona Ukken dan Yetunde Ayinuola, berhasil mengungkap rahasia besar yang tersimpan di dalam darah ular.
Hasil studi yang didanai oleh Howard Hughes Medical Institute dan Viper Resource Center ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences.
Pertahanan Alami yang Tersembunyi dalam Darah Ular Berbisa
Selama lebih dari seratus tahun, para ilmuwan sebenarnya sudah mengetahui lewat berbagai cerita dan pengamatan bahwa kelompok Ular Derik tidak mempan oleh bisa mereka sendiri.
Namun, alasan pasti mengapa darah mereka kebal terhadap racun mematikan tersebut selalu menjadi misteri besar.
Jawaban itu mulai terkuak pada tahun 2022 saat laboratorium pimpinan Carroll menemukan sebuah protein bernama FETUA-3 pada ular dering (western diamondback rattlesnake).
Protein ini diketahui mampu menghambat metalloproteinase, yaitu salah satu rumpun racun paling mematikan dan merusak yang terkandung di dalam “bisa” ular.
Mengejutkan!, Kombinasi Beberapa Protein Mampu Menetralkan Racun Mematikan Dari Ular
Melalui penelitian terbarunya, para ahli mendalami fungsi masing-masing protein dari keluarga FETUA tersebut. Menariknya, jika berdiri sendiri, satu jenis protein FETUA tidak sanggup mencegah kematian akibat gigitan.
Satu protein mungkin hanya bisa meredam pendarahan, sedangkan protein lain hanya mampu mengganggu kerja enzim racun tertentu. Keadaan berubah ketika beberapa jenis protein FETUA ini dikombinasikan dengan tepat.
Memastikan kombinasi yang pas memang bukan suatu hal yang mudah, mengingat satu jenis “bisa” ular saja bisa mengandung sekitar 100 jenis racun yang berbeda.
Saat formulasi protein penawar ini dioptimalkan di laboratorium, hasilnya luar biasa mengagumkan.
Campuran protein alami tersebut mampu menetralkan racun mematikan dari Ular Derik hingga 10 kali lipat lebih kuat dibandingkan penawar racun biasa berbasis antibodi domba yang digunakan saat ini.
Hebatnya lagi, ramuan penawar ini juga memberikan perlindungan luas terhadap racun dari berbagai spesies ular lainnya, bahkan pada spesies yang telah terpisah oleh evolusi selama puluhan juta tahun.
Harapan Menjadi Antivenom Jenis Baru
Penemuan ini menjadi titik balik penting dalam dunia medis. Selama ini, pembuatan penawar racun ular dilakukan dengan cara menyuntikkan racun ke hewan besar seperti kuda atau domba untuk kemudian diambil antibodinya.
Metode tradisional tersebut membutuhkan biaya besar, kualitas hasilnya bervariasi, serta berisiko memicu reaksi imun atau alergi yang parah pada tubuh manusia.
Dengan memanfaatkan pertahanan alami yang sudah dirancang oleh alam selama lebih dari 50 juta tahun evolusi, para ilmuwan kini optimis dapat memproduksi penawar “bisa” berbahan dasar buatan laboratorium (rekombinan).
Metode baru ini dinilai jauh lebih aman, konsisten, berbiaya murah, dan sanggup diproduksi massal dalam jumlah sangat besar.
Sebagai langkah awal, penawar racun generasi baru berbasis bahan alami ini diperkirakan akan diterapkan terlebih dahulu untuk pengobatan di dunia kedokteran hewan sebelum nantinya dikembangkan lebih lanjut untuk menyelamatkan jiwa manusia.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah