Celah Kode Makin Menumpuk, AWS Andalkan AI untuk Temukan hingga Perbaiki Kerentanan

Kamis, 17 September 2026 | 11:04 WIB
AWS (Amazon Web Services) [Antara]
  • Bryce Boland dari AWS menyatakan dalam acara 15 September 2026 bahwa kecerdasan buatan mempercepat penemuan kerentanan software sehingga penumpukan patch perusahaan meningkat.
  • AI mempercepat eksploitasi celah keamanan oleh penyerang, yang diungkapkan pada laporan kenaikan laporan CVE tahun 2025 dan 2026.
  • AWS meluncurkan layanan berbasis AI bernama Continuum untuk membantu menemukan, memvalidasi, dan memperbaiki risiko keamanan secara otomatis.

Suara.com - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat celah keamanan pada software semakin cepat ditemukan. Masalahnya, kemampuan perusahaan memperbaiki kerentanan belum tentu mampu mengejar kecepatan tersebut.

Head of Security Solutions Architecture, APJC, Amazon Web Services (AWS), Bryce Boland, mengatakan waktu yang dimiliki penyerang untuk mengeksploitasi kerentanan juga semakin pendek.

“Penemuan kerentanan semakin cepat, waktu untuk membuat eksploit semakin singkat, sementara ritme penambalan dan tumpukan patch yang harus ditangani perusahaan tidak mampu mengikuti percepatan tersebut,” kata Bryce dalam temu wartawan secara daring, belum lama ini.

Menurut Bryce, jumlah CVE yang dilaporkan mencapai sekitar 48.000 pada 2025, naik 20 persen secara tahunan. Pada 2026, lajunya kembali meningkat, dari sekitar 5.000 CVE per bulan pada kuartal I menjadi sekitar 10.000 per bulan pada kuartal III.

Di sisi lain, banyak perusahaan masih mengandalkan patching bulanan. Akibatnya, daftar kerentanan yang harus ditangani dapat semakin menumpuk.

AI Bisa Membantu Penyerang dan Defender

AI tidak hanya mempercepat pekerjaan tim keamanan. Teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan penyerang untuk mencari celah dan membuat eksploit.

“AI modern menghadirkan kemampuan luar biasa untuk pertahanan maupun serangan siber. Kemampuan yang membantu tim keamanan menemukan kerentanan lebih cepat juga dapat membantu penyerang menemukannya lebih cepat,” ujar Bryce.

Karena itu, AWS menilai pertahanan siber juga harus mampu bekerja dengan kecepatan mesin.

AWS Andalkan Continuum

Untuk menjawab tantangan tersebut, AWS mengembangkan AWS Continuum, layanan berbasis AI yang dirancang menangani siklus kerentanan mulai dari penemuan hingga perbaikan. AWS menjelaskan Continuum dapat menemukan, memprioritaskan, memvalidasi, dan membantu memperbaiki risiko keamanan dalam batasan yang ditentukan pengguna.

“Continuum adalah agen frontier yang secara otomatis meninjau keamanan aplikasi, menemukan kerentanan, dan bahkan dapat melakukan pengujian penetrasi berdasarkan konteks sesuai permintaan,” kata Bryce.

Continuum dapat membantu melakukan threat modeling, design review, code review, dan penetration testing. Sistem juga dapat menentukan prioritas berdasarkan dampak bisnis, memvalidasi apakah celah benar-benar dapat dieksploitasi, serta membantu menghasilkan perbaikan.

Namun, AI tidak langsung diberi kendali penuh.

“Perusahaan sebaiknya memulai dengan persetujuan manusia untuk tindakan berisiko tinggi, kemudian secara bertahap mengurangi pengawasan ketika agen menunjukkan bahwa mereka mampu bekerja secara efektif dan dapat dipercaya,” jelas Bryce.

Dengan pendekatan tersebut, AWS ingin menggeser keamanan dari proses yang bergantung pada pemeriksaan berkala menjadi penanganan kerentanan yang lebih berkelanjutan.

Ilustrasi serangan siber dengan kecerdasan buatan. [Gemini AI]

Di tengah jumlah celah yang terus bertambah, tantangannya bukan lagi sekadar menemukan kerentanan, tetapi memastikan validasi dan perbaikannya bisa bergerak secepat ancaman.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com