- CapCut menggelar AI Content Fest 2026 di CGV Grand Indonesia pada Kamis, 17 September 2026.
- Sepuluh film pendek karya kreator lokal diputar di layar lebar melalui kampanye #CapCutFilmNaikLayar.
- Kreator memanfaatkan fitur kecerdasan buatan CapCut untuk mengembangkan ide, visual, hingga penyuntingan film.
Sutradara Mouly Surya, mengatakan teknologi dapat membantu proses kreatif sejak tahap awal, termasuk mengeksplorasi ide, mencari referensi, dan memvisualisasikan konsep sebelum produksi.
“Teknologi bisa membantu kita mengeksplorasi ide lebih awal, mencari referensi, memvisualisasikan sebuah konsep, hingga mencoba berbagai arah kreatif sebelum masuk ke produksi,” kata Mouly.
Menurutnya, ketika sejumlah proses dapat dilakukan dengan lebih efisien, tim punya lebih banyak waktu untuk fokus pada visi besar karya dan keputusan-keputusan kreatif yang menentukan hasil akhirnya.
Artinya, kemampuan AI bukan hanya soal membuat sesuatu menjadi lebih cepat. Bagi kreator, nilai lainnya ada pada kesempatan untuk mencoba lebih banyak ide tanpa harus langsung masuk ke tahap produksi penuh.
AI Tetap Jadi Alat, Bukan Pengganti Kreator
Pandangan serupa disampaikan aktor Lukman Sardi. Menurutnya, teknologi dapat membantu proses persiapan dan eksplorasi karakter sehingga aktor memiliki lebih banyak ruang untuk mendalami interpretasi perannya.
Sementara itu, Gustav menilai efisiensi yang diberikan AI justru dapat memberi kreator lebih banyak kesempatan untuk bereksperimen.
Benang merah dari diskusi tersebut cukup jelas: AI membantu memperluas kemungkinan, tetapi arah kreatif tetap berada di tangan manusia.
Hal itu juga tercermin dari kolaborasi CapCut dengan musisi Raim Laode. CapCut bersama Raim membuat video musik berbasis AI untuk single “Dunia Yang Nanti”, yang ditayangkan perdana dalam AI Content Fest 2026.
Dari Aplikasi Edit Video ke Ruang Eksplorasi
Perkembangan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana aplikasi penyuntingan video mulai memperluas perannya.
CapCut tidak hanya menawarkan fungsi dasar seperti trimming, transitions, keyframes, filters and effects, atau auto captions.
Platform ini juga membawa fitur berbasis AI untuk membantu pengembangan ide, storyboard, eksplorasi visual, hingga penyempurnaan hasil akhir.
CapCut juga menyebut menerapkan sejumlah langkah transparansi, termasuk invisible watermark dan Content Credentials dari C2PA, untuk mendukung proses kreasi yang lebih bertanggung jawab.
Bagi kreator, perubahan tersebut membuka kemungkinan baru. Ide yang sebelumnya mungkin berhenti sebagai konsep atau konten digital kini punya jalan untuk dikembangkan menjadi karya yang lebih sinematik.
AI Content Fest 2026 pada akhirnya bukan sekadar soal 10 film yang berhasil masuk ke layar lebar.
Festival ini menunjukkan satu perubahan yang lebih besar, yakni jarak antara kreator digital dan produksi film mulai semakin pendek ketika teknologi membuat proses eksplorasi menjadi lebih mudah.