Cerita Nino Dapat Izin Orangtua Jadi Atlet Esports, Pintar Bagi Waktu Belajar dan Main

Jum'at, 18 September 2026 | 20:25 WIB
Atlet Timnas Esports Indonesia untuk game Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), Syauki "Nino" Fauzan. (Instagram/ae.ninoo)
BACA 10 DETIK
  • Atlet Timnas Esports Indonesia, Syauki Nino Fauzan, mendapat izin orangtua menekuni esports saat pandemi Covid-19 di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
  • Nino berhasil meyakinkan orangtuanya dengan cara disiplin belajar dari pagi hingga pukul 13.00 WIB sebelum bermain game.
  • Pelatih fisik Maleakhi Patty menyatakan pembagian waktu dan perawatan tubuh sangat penting bagi atlet esports untuk menghindari stres.

Suara.com - Bermain game sering kali masih dianggap sebagai aktivitas yang bisa mengganggu pendidikan anak. Tak sedikit orangtua bahkan khawatir anak yang bercita-cita menjadi gamer profesional tidak memiliki masa depan yang jelas.

Namun, Atlet Timnas Esports Indonesia untuk game Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), Syauki "Nino" Fauzan, punya pengalaman berbeda. Ia justru mendapatkan izin dari orangtuanya untuk menekuni esports karena mampu membagi waktu antara belajar dan bermain game.

Nino mengatakan, kunci mendapatkan kepercayaan orangtua adalah mengetahui kapan waktunya belajar dan kapan waktunya bermain game.

"Dulu aku masuk esports itu waktu itu ada pandemi Covid-19. Nah, itu tuh aku diizinkan orangtua gara-gara ya, aku tahu takarnya kapan harus main game dan kapan harus belajar," ujar Nino PB ESI saat konferensi pers Salonpas "We Got Your Back!" di Jakarta, Selasa (15/9/2026)

Pemain yang juga dikenal sebagai salah satu andalan Alter Ego Esports itu mengaku memiliki jadwal yang cukup teratur saat mulai serius bermain game.

Ia mengatakan dirinya terbiasa belajar sejak pagi hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Setelah kewajiban belajar selesai, barulah ia menggunakan waktu untuk bermain game.

Media briefing PB ESI dan Salonpas "We Got Your Back!" di Jakarta, Selasa (15/9/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

"Jadi kita, terutama aku sih, aku belajar dulu dari pagi sampai jam 1, habis itu aku main game," katanya.

Nino kemudian membagi waktu bermain game dalam beberapa sesi. Ia bermain selama dua jam, kemudian beristirahat sebelum kembali bermain.

"Dua jam, dua jam sih ada istirahatnya kan, jam 1 sampai jam 3, jam 4 sampai jam 6, jam 7 sampai jam 9," tutur Nino.

Pola tersebut menunjukkan bahwa menjadi gamer profesional tidak selalu berarti bermain game tanpa batas waktu. Bagi Nino, kemampuan mengatur prioritas justru menjadi bagian penting agar orangtua dapat memberikan kepercayaan.

Apalagi menjadi gamer profesional berarti ia harus berlatih dengan disiplin. Sehingga anggapan menjadi atlet espors hanyalah seperti bermain, itu hanyalah isapan jempol belaka.

"Walaupun kota suka bermain game, tapi kalau hobi main game itu jadi karir atau pekerjaan itu bisa menjadi sumber stres. Maka berlatih dan membagi waktu alias merawat tubuh bagi atlet espors adalah keharusan," ungkap Pelatih Fisik Timnas Esports Indonesia, Maleakhi Patty.

Adapun Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) memiliki ekosistem yang mencakup berbagai bidang dan berupaya membangun pembinaan atlet esports secara berjenjang.

PB ESI melalui Akademi Garudaku bahkan telah mengembangkan pembinaan talenta dan pembekalan hard skill maupun soft skill bagi anggota komunitas esports mulai dari tingkat SMP, SMA, dan SMK hingga atlet profesional.

Pada 2024, misalnya, Akademi Garudaku dan PB ESI bekerja sama dalam program ekstrakurikuler esports yang melibatkan 420 pelajar dari 14 sekolah tingkat SMP dan SMA/sederajat di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com