Mengapa Petir Lebih Dulu Terlihat daripada Suara Guruh Halilintar? Ini Alasannya

Kamis, 24 September 2026 | 10:40 WIB
Ilustrasi sambaran petir dan kilat. (Freepik/wirestock)
BACA 10 DETIK
  • Cahaya petir terlihat lebih dulu dari suara guruh karena kecepatan cahaya merambat jauh lebih cepat di udara daripada gelombang suara.
  • Pemanasan udara yang ekstrem hingga 30.000 derajat Celsius akibat pelepasan listrik petir menciptakan gelombang kejut yang menghasilkan suara guruh.
  • Jeda waktu antara kilatan petir dan suara guruh dapat digunakan untuk memperkirakan jarak lokasi badai dari posisi pengamat.

Hal ini terjadi karena suara dihasilkan dari berbagai bagian jalur petir dan gelombang-gelombang tersebut dapat sampai ke telinga pada waktu yang berbeda.

Jeda Petir dan Guruh Bisa Menunjukkan Jarak

Jeda antara kilatan dan suara guruh dapat digunakan untuk memperkirakan seberapa jauh lokasi petir. Menurut NOAA, suara membutuhkan waktu sekitar 3 detik untuk menempuh jarak 1 kilometer.

Caranya cukup sederhana. Hitung berapa detik sejak melihat kilatan hingga mendengar guruh, kemudian bagi angka tersebut dengan tiga.

Misalnya, jika suara guruh terdengar 9 detik setelah kilatan terlihat, lokasi petir diperkirakan berjarak sekitar 3 kilometer.

Namun, perhitungan tersebut bukan berarti kondisi badai aman. NOAA menekankan bahwa jika suara guruh sudah terdengar, berarti petir berada cukup dekat untuk menjadi risiko. Saat terjadi badai petir, sebaiknya segera mencari tempat berlindung yang aman.

Jadi, alasan mengapa petir lebih dulu terlihat daripada suara guruh halilintar bukan karena keduanya terjadi pada waktu yang berbeda. Petir dan guruh berasal dari peristiwa yang sama, tetapi cahaya bergerak jauh lebih cepat daripada suara sehingga kilatan mencapai mata kita sebelum suara mencapai telinga.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com