- Pengamat Alfons Tanujaya menyatakan bahwa tanggung jawab pengguna sangat krusial dalam penggunaan kecerdasan buatan.
- TikTok telah melabeli lebih dari 3 miliar video buatan kecerdasan buatan di seluruh dunia untuk menjaga transparansi konten.
- Sejak November 2025, program literasi kecerdasan buatan TikTok telah berhasil meraih lebih dari 200 juta tayangan edukatif.
Suara.com - Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini makin diminati masyarakat Indonesia. Media sosial bahkan mulai dibanjiri konten berbasis AI.
Namun seperti alat lainnya, manfaat AI bergantung pada cara pengguna dalam implementasinya. Jika digunakan secara transparan dan bertanggung jawab, AI dapat mengubah cara orang mengekspresikan kreativitas, menemukan minat baru, dan menjaga keamanan.
Pengamat Teknologi Informasi dan Ahli Keamanan Siber, Alfons Tanujaya mengatakan bahwa tanggung jawab pengguna menjadi semakin penting seiring berkembangnya kemampuan AI.
"Kecepatan perkembangan AI generatif jauh melampaui kecepatan masyarakat beradaptasi mengenalinya. Dulu, membuat sebuah video kreatif butuh waktu yang cukup lama, tapi sekarang, siapa pun bisa menghasilkan gambar atau video yang nyaris tidak terbedakan dari aslinya hanya dalam hitungan detik. Di titik inilah tanggung jawab pengguna dan transparansi dari platform menjadi lini pertahanan utama, bukan lagi pilihan tambahan," ujar Alfons, Jumat (16/10/2026).
Berikut lima tips dari kreator untuk konten AI agar lebih bijak di media sosial.
AI Itu Asisten, Bukan Pengganti Manusia
AI dapat membantu mengembangkan ide dan membuka lebih banyak kemungkinan dalam berkarya. Namun perspektif, pengalaman, dan intuisi manusialah yang memberikan identitas dan makna pada setiap karya.
AI mengolah pola dari data yang tersedia, sementara manusia membawa cerita hidup dan pemahaman atas konteks ke dalam proses kreatif.
“Di balik setiap informasi atau konten yang dihasilkan dengan bantuan AI, tetap dibutuhkan campur tangan manusia. Nilai tambah yang sesungguhnya lahir ketika kita memberikan perspektif, empati, serta keahlian analitis untuk mengubah data mentah dari AI menjadi solusi yang bermakna dan berdampak positif bagi publik," kata Alfons.
Jadi, jangan serahkan semua ke AI dan tinggal pergi. Pastikan setiap karya yang dihasilkan masih mencerminkan suara dan keputusan orisinal kamu. Hindari juga pakai AI untuk meniru gaya atau konten orang lain.
Kreatif Boleh, Tapi Tetap Jujur
AI bisa bantu kamu kerja lebih cepat dan lebih efisien, tapi kualitas hasil akhir tetap ada di tangan kamu. Jangan lupa untuk selalu evaluasi.
Kreator TikTok, Theresa (@theresalearns) juga menekankan bahwa AI bisa menjadi alat pendukung kreativitas kalau dipakai dengan benar dan bertanggung jawab.
Theresa menambahkan bahwa perlu bagi setiap kreator untuk memberikan transparansi atas konten yang dibuat dengan bantuan AI.
Demi mendorong kebiasaan berkarya yang transparan bagi para kreator sekaligus membantu pengguna memahami konteks konten yang mereka temui, TikTok terus menghadirkan berbagai fitur dan teknologi transparansi AI di platform.
Dua tahun lalu, TikTok menjadi platform video pertama yang menerapkan Kredensial Konten C2PA—teknologi transparansi AI terkemuka yang membantu pengguna mengenali konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI.
Hingga saat ini, TikTok telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi Content Credentials, Creator Labeling Tools, dan Invisible Watermarking. Cek panduan di bawah ini untuk mengetahui cara mengaktifkan Label AI saat mengunggah konten buatan AI di TikTok.
Gunakan Tools AI Sesuai Kebutuhan
Pemanfaatan AI dalam dunia kreatif sangatlah beragam dan kreator dapat memilih sesuai dengan kebutuhan mereka. Mau cari inspirasi? Ada tools-nya. Mau belajar edit gambar? Ada tools-nya juga.
Tapi mengandalkan satu tools untuk segalanya bisa bikin hasilnya jadi enggak optimal. Jadi, silakan pilih beberapa opsi tools AI yang cocok.
Kabar baiknya, TikTok sudah punya perangkat AI kreatif yang bisa langsung kamu manfaatkan. Kerangka AI (AI Outline) bisa bantu kamu dari ide mentah jadi outline, judul, hashtag, sampai hook yang menarik. Sementara Pemotongan Cerdas (Smart Split) siap ubah video panjangmu jadi beberapa klip pendek yang lebih snackable.
Hati-hati konten AI
AI makin canggih, tapi bukan berarti semua hasilnya akurat. Kreator TikTok, Evelyn Hutani (@hutanhutani) mencontohkan bahwa seringkali kita langsung bereaksi pada video-video yang terlihat menarik dan lucu dan ingin membagikan informasi tersebut.
Namun sebelum itu, pengguna mesti kenali apakah konten dibuat atau diubah menggunakan AI, pahami konteksnya, dan periksa sumber tepercaya jika diperlukan.
Kedua, jangan terburu-buru mempercayai atau membagikan konten yang masih meragukan. Ketiga, pengguna bisa memanfaatkan fitur pelaporan jika menemukan konten yang melanggar aturan platform.
Evelyn dan juga Tommy Teja (@tommythings) membagikan tips agar pengguna dapat menyesuaikan pengalaman mereka di TikTok. Caranya, pengguna dapat mengatur seberapa banyak konten buatan AI yang ingin dilihat dengan membuka Pengaturan dan Privasi → Preferensi Konten → Kelola Topik → Konten Buatan AI.
Pengguna Tak Boleh Kalah dari AI
Seiring berkembangnya peran AI dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman kita tentang teknologi ini juga harus ikut berkembang. Oleh karena itu, edukasi memegang peranan penting agar kita dapat memegang kendali atas pengalaman AI.
Untuk mendukung hal tersebut, TikTok terus bekerja sama dengan mitra industri seperti NAMLE dan Henry Ajder untuk menyusun panduan baru yang membantu komunitas TikTok menggunakan alat AI secara bertanggung jawab.
TikTok juga terus berinvestasi untuk menghubungkan para ahli tepercaya dengan komunitas TikTok, termasuk membantu organisasi seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation mendorong literasi AI melalui konten TikTok.
Sejak diluncurkan pada November 2025, program ini telah membantu berbagai organisasi ahli meraih lebih dari 200 juta tayangan melalui konten yang membantu masyarakat memahami dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, AI hanyalah alat, hasil terbaiknya tetap bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Dengan tujuan yang jelas, alat yang sesuai, sentuhan manusia, kebiasaan memeriksa kembali, dan kemauan untuk terus belajar, siapa pun dapat menikmati manfaat AI untuk belajar dan berkreasi secara lebih percaya diri dan bertanggung jawab.