Ancaman Siber Era Kuantum Mengintai, Indonesia Perlu Siapkan Perlindungan Data Sejak Sekarang

Kamis, 22 Oktober 2026 | 10:51 WIB
Wakil Presiden Direktur sekaligus CTO dan Co-Founder ITSEC Asia, Marek Bialoglowy (kiri) dalam melalui AICX 2026. [Itsec Asia]
BACA 10 DETIK
  • PT ITSEC Asia Tbk menyelenggarakan forum AICX 2026 di Bali pada 20 Oktober 2026 guna membahas ancaman komputasi kuantum terhadap keamanan data.
  • Ancaman strategi harvest now dan decrypt later menuntut organisasi untuk segera memperkuat sistem pertahanan siber dan menerapkan post-quantum cryptography sejak dini.
  • BRIN, KORIKA, dan akademisi menilai penguatan riset, talenta, serta kolaborasi industri sangat penting untuk mengantisipasi perkembangan teknologi kuantum secara nasional.

Suara.com - Indonesia perlu mulai memperkuat pertahanan siber untuk mengantisipasi ancaman komputasi kuantum yang berpotensi melemahkan sistem enkripsi konvensional.

Meski komputer kuantum belum mampu memecahkan enkripsi RSA secara luas, risiko terhadap keamanan data sudah muncul sejak sekarang.

Ancaman tersebut berkaitan dengan strategi harvest now, decrypt later, yakni ketika pelaku kejahatan siber mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk dibuka pada masa mendatang, ketika kemampuan komputasi kuantum sudah berkembang lebih jauh.

Risiko ini menjadi perhatian dalam forum Artificial Intelligence, Cybersecurity and Quantum (AICX) 2026 yang diselenggarakan PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali, pada 20 Oktober 2026.

Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan pelaku industri untuk membahas kesiapan Indonesia menghadapi perubahan lanskap keamanan digital seiring perkembangan teknologi kuantum dan kecerdasan artifisial (AI).

Persoalannya bukan hanya kemampuan komputer kuantum untuk memecahkan sistem enkripsi pada masa depan.

Data sensitif yang dicuri atau dikumpulkan hari ini dapat tetap menjadi sasaran selama bertahun-tahun, terutama jika informasi tersebut masih memiliki nilai strategis ketika teknologi dekripsi semakin maju.

Karena itu, organisasi perlu mulai memetakan sistem kriptografi yang digunakan, mengidentifikasi data yang membutuhkan perlindungan jangka panjang, serta menyusun rencana migrasi menuju teknologi enkripsi yang dirancang untuk menghadapi ancaman komputasi kuantum.

Wakil Presiden Direktur sekaligus CTO dan Co-Founder ITSEC Asia, Marek Bialoglowy mengatakan, persiapan menghadapi ancaman kuantum tidak seharusnya menunggu sampai teknologi tersebut benar-benar mampu menembus sistem keamanan yang digunakan saat ini.

“Persiapan menghadapi ancaman kuantum harus dimulai sekarang, bukan menunggu hingga komputer kuantum mampu memecahkan sistem enkripsi yang kita andalkan,” ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (22/10/2026).

Menurut Marek, proses transisi menuju post-quantum cryptography (PQC) membutuhkan waktu. Karena itu, langkah awal perlu dilakukan dengan mengidentifikasi sistem kriptografi dan aset digital yang paling kritis.

Perlindungan juga perlu mempertimbangkan model AI dan data yang tengah dikembangkan organisasi. Seiring meningkatnya pemanfaatan AI, keamanan data dan sistem yang menopangnya menjadi bagian penting dari ketahanan digital jangka panjang.

Komputasi Kuantum Bisa Berkembang Lebih Cepat dari Perkiraan

Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Andriyan Bayu Suksmono menilai Indonesia perlu mempersiapkan diri dengan mempertimbangkan kemungkinan perkembangan teknologi kuantum yang lebih cepat dari perkiraan.

Sejumlah prediksi memperkirakan terobosan komputasi kuantum akan terjadi pada periode 2030–2035, meski terdapat pula proyeksi yang memperkirakan waktunya lebih lama.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com