/
Minggu, 14 Agustus 2022 | 15:16 WIB
Ferdy Sambo & Bharada E. (Suara.com)

SuaraBandung.id - Sangat mengerikan situasi di saat Brigadir J dicabut nyawa oleh rekan sekamarnya, Bharada E atas perinta Irjen Ferdy Sambo.

Mantan kuasa hukum Bharada E, Deolipa Yumara, mengatakan jika Bharada E sudah menceritakan situasi terakhir jelang meninggalnya Brigadir J.

Saat itu mereka sedang berada di rumah Dinas Jalan Saguling, Duren Tiga Barat, Pancoran, Jakarta Selatan. 

Deolipa Yumara mengatakan, jika Brigadir J sempat diminta untuk naik ke lantai atas, namun Joshua menolak.

Namun, karena panggilan tersebut adalah perintah dari Irjen Ferdy Sambo, akhirnya Brigadir J menurut. 

Tak lama dari panggilan Brigadir J, Irjen Ferdy Sambo kemudian memanggil Bharada E ke lantai atas.

Di sana, Bharada E sudah melihat Brigadir J yang sudah berlutut di depan Ferdy Sambo. 

Saat itu juga Bharada E melihat Ferdy Sambo sedang memegang pistol sambil memakai sarung tangan. 

“Di atas itu sudah ada kejadian, si Yoshua berlutut di depan Sambo," kata Deolipa Yumara. 

Baca Juga: Sakit Jantung, Hidup Roy Kiyoshi Divonis Sisa 2 Tahun: Aku Mau Terus Berbuat Baik

Dari keterangan Bharada E, Ferdy Sambo memegang senjata api dengan sarung tangan. 

"Kalau menurut keterangan Richard, kan Richard pegang pistol. Sambo juga pegang pistol. Tapi Sambo pakai sarung tangan. Biasa kan, namanya mafia kan, suka pakai sarung tangan,” kata Deolipa. 

Di saat Brigadir J berlutut dan sudah meminta ampun, kemudian muncul perintah pada Bharada E untuk menembak Brigadir J.

Atas perintah itu, Bharada E tidak bisa menolak. Dia kemudian menembak Brigadir J sebanyak tiga kali.

“Dalam posisi itu, ada perintah dari Sambo untuk si Richard, ‘woy sekarang woy.. tembak, tembak woy…," kata Deolipa Yumara.

"Ya namanya perintah kan Richard ketakutan. Karena kalau Richard nggak nembak, mungkin dia ditembak," jelas Deolipa Yumara. 

Load More