/
Selasa, 23 Agustus 2022 | 09:18 WIB
Kolase foto dokumen pemakaman Brigadir J, Ketua Umum PDFI, Ade Firmansyah, dan Ferdy Sambo. (Antara, PMJ News, kadivpropam)

SuaraBandung.id - Hasil autopsi kedua pada jasad Brigadir J telah selesai dan diserahkan pada Bareskrim Polri.

Dari rentetan peristiwa hingga munculnya hasil autopsi kedua, menggambarkan kesadisan para tersangka di hadapan Brigadir J jelang dieksekusi mati.

Dari beberapa penuturan, jika pembunuhan Brigadir J sangat sadis. Di mana para tersangka, baik yang terlibat eksekusi maupun tidak, tega dan mati hati melihat Brigadir J berjongkok mengutarakan satu permintaan pada sang jenderal.

Dari kelima orang yang empat di antaranya menghadapi situasi pembunuhan eksekusi mati Brigadir J, tidak ada satupun yang mundur, apalagi berkata untuk berhenti melakukan rencana jahat menghabisi nyawa Brigadir J.

Peristiwa Jumat berdarah di rumah dinas itu satu di antaranya diungkap mantan pengacara Bharada E, Deolipa Yumara.

Pengacara berambut gondrong ini menceritakan detik-detik pembunuhan Brigadir J berdasar cerita saksi hidup di lokasi kejadian.

Saat itu Brigadir J tak kenal lelah apalagi menolak perintah sang jenderal untuk melakukan perjalanan dari rumah pribadi ke Duren Tiga, Jakarta Selatan, tempat dirinya akan dieksekusi mati.

Saat tiba di Duren Tiga TKP pembunuhan, Brigadir J tidak langsung masuk ke rumah. Brigadir J saat itu diam di taman, sedang "menunggu" ajal datang.

Deolipa Yumara mengatakan, kemudian, Brigadir J menjalankan perintah yang terakhir dari sang jenderal. 

Baca Juga: Reza Rahadian Ajak Penonton Banjiri Bioskop, Tiket Mencuri Raden Saleh Laris Manis Meski Belum Tayang

Brigadir J diperintahkan masuk ke dalam rumah dan disuruh untuk berjalan jongkok. 

Entah apa perasaan Brigadir J saat mendapat perintah. Namun yang pasti Brigadir J sudah tahu bahwa dirinya akan dihabisi sesuai ancaman "skuad lama" sehari sebelum kematiannya datang.

Saat tiba di hadapan Ferdy Sambo, rambut Brigadir J kemudian dijambak. Bharada E sang eksekutor melihat jelas bagaimana Brigadir J mengucap satu permohonan pada Jenderal Ferdy Sambo.

Ketika itu kata Deolipa Yumara, Brigadir J jelas menyebutkan permintaan terakhirnya, yakni agar Ferdy Sambo tak membunuhnya.

Akan tetapi, permintaan Brigadir J ini tidak ada yang memperdulikannya. Hingga akhirnya muncul perintah Ferdy Sambo pada Bharada E untuk menembak Brigadir J.

Sementara itu, hasil tindakan sadis dan tak berperikemanusian Ferdy Sambo dan empat tersangka lainya membuahkan jejak kengerian di jenazah Brigadir J.

Load More