/
Selasa, 23 Agustus 2022 | 11:33 WIB
Foto kolase pemakaman Brigadir J yang sedang dibongkar dan foto Ferdy Sambo bersama ajudannya. (Instagram kadivpropam, istimewa)

SuaraBandung.id - Skenario Irjen Ferdy Sambo untuk menutupi kesadisanya belum semua terungkap, terusama soal barang bukti milik korban Brigadir J.

Ada barang bukti milik korban yang dinyatakan hilang sejak eksekusi mati hingga saat ini.

Dan Ferdy Sambo sebagai dalang pembunuhan yang saat ini ditahan di Mako Brimob, diduga belum memberikan pengakuan secara paripurna.

Hal itu menjadi satu kendala dalam pengungkapan kasus kematian Brigadir J, terutama soal motif mengapa korban harus dibunuh secara sadis.

Bukan itu saja, informasi terbaru adalah soal adanya operasi senyap sekitar pukul 01.00 WIB, yang dilakukan Ferdy Sambo dan sejumlah ajudan.

Operasi senyap ini dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan sejumlah barang bukti agar bau busuk si jenderal tak tercium.

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam adalah yang mengungkap soal adanya dugaan penghilangan barang bukti.

Choirul Anam mengatakan, ada penghilangan rekam jejak digital di kasus kematian Brigadir J atau Yosua Hutabarat.

Penghapusan barang bukti diduga sudah terjadi, di antaranya penghapusan tiga WhatsApp Group.

Baca Juga: Ternyata! Orang Dekat Bobotoh yang Pasang Badan agar Luis Milla Latih Persib, Nama Pelatih Lain Bertumbangan

Kemudian Anam kembali mengatakan, diduga ada upaya menghilangkan barang bukti ponsel dengan cara mengganti baru ponsel sejumlah ajudan Irjen Ferdy Sambo.

Termasuk dalam hal ini barang bukti ponsel milik Brigadir Yosua atau Brigadir J dan Bharada Richard Eliezer atau Bharada E.

Sejumlah ponsel yang digunakan korban dan ajudan di hari H pembunuhan Brigadir J pada (8/7/2022), hingga kini bahkan belum ditemukan.

Choirul Anam mengatakan, yang sangat terang benderang adalah soal jejak digital dan juga percakapan digital

"Yang kentara (barang bukti) banget adalah rekam jejak digital gak cuma ponsel, tapi percakapan digital juga gak ada," kata Anam saat berbicara RDP di Komisi III DPR, Senin (22/8/2022).

Tentang percakapan digital yang dikatakan Choirul Anam adalah berupa bukti chat di tiga grup WhatsApp.

Choirul Anam mengatakan ada tiga grup yang sebelum Brigadir J dieksekusi ada, tetapi sudah dihilangkan setelah terjadinya eksekusi mati.

"Ada tiga grup (WhatsApp) yang dulunya dia (Brigadir J) ada, jadi nggak ada. Itu penting dilacak WA (WhatsApp). Fisik HP-nya juga hilang," ungkap Anam.

Operasi senyap jam 1 pagi

Selain itu, ada hal baru yang diungkap Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik.

Dalam pendalaman yang sudah dilakukan, Ahmad Taufan Damanik membeberkan dugaan penghalangan atau perintangan penyidikan (obstruction of justice).

Upaya itu terlihat jelas, ketika adanya penghilangan barang bukti di ponsel Brigadir J.

Setelah itu kata Ahmad Taufan Damanik, selain ponsel milik Brigadir J, sang jenderal juga melenyapkan barang bukti milik aide de camp (ADC) atau ajudannya yang lain.

Ahmad Taufan Damanik penggantian ponsel milik para ajudan ini dilakukan pada waktu yang tidak normal, yakni sekitar pukul 01.00 WIB, pada (10/7/2022).

"Sebagai contoh (penghilangan barang bukti), misalnya beberapa adc itu mereka diambil handphone-nya tanggal 10, kira-kira jam 1 pagi. Mereka kemudian dikasih handphone baru," ucap Taufan menjabarkan temuannya dalam RDP di Komisi III DPR, Senin (22/8/2022).

Kemudian penggantian ponsel baru Bharada E dilakukan pada tanggal 19 Juli oleh Mako Brimob. 

Untungnya, ponsel milih Bharada E dikatakan Ahmad Taufan Damanik, sudah ditemukan.

"HP (milik Bharada E) yang antara 10 sampai 19 sudah ditemukan pak," kata Ahmad Taufan Damanik.

Di sana kata Ahmad Taufan Damanik, ada upaya membangun skenario dengan berbagai jawaban.

"Ada upaya-upaya (dilakukan Ferdy Sambo) membangun skenario. Misalnya yang jawaban-jawaban sebagai bawahan kepada atasan 'siap komandan'. Itu misalnya yang sangat kentara di situ," kata Ahmad Taufan Damanik.

Namun, yang hingga saat ini belum ditemukan adalah barang bukti berupa ponsel milik Brigadir J. 

"Termasuk pada hari H itu (ponsel Brigadir J), sampai sekarang belum ditemukan," kata Ahmad Taufan Damanik. 

Load More