SuaraBandung.id – Pengamat militer dan pertahanan, Selamat Ginting melihat
masa bakti Jenderal Andika Perkasa sebagai prajurit TNI akan berakhir pada 21 Desember 2022.
Namun menurut Ginting, masa jabatan Andika Perkasa sebagai Panglima TNI bukan berarti berakhir sesuai dengan akhir masa pensiunnya.
Kemungkinan proses pergantian Panglima TNI dinilai Ginting bisa dipercepat di bulan Oktober 2022.
Proses percepatan masa jabatan Panglima TNI ini pernah terjadi pada masa
Gatot Nurmantyo.
Ketika itu pergantian posisi Panglima TNI dari Jenderal Gatot, tiga bulan lebih cepat dari masa pensiunnya.
"Bukan tidak mungkin Jenderal Andika Perkasa mengalami percepatan selesainya jabatan (sebagai Panglima TNI),” kata Ginting dikutip dari YouTube Hersubeno Point.
“Bisa saja kalau melihat peristiwa Gatot Nurmantyo yang tiga bulan, Oktober ini menjadi penentu,” kata Ginting menambahkan.
Jika Jenderal Andika Perkasa diganti sebagai Panglima TNI, maka siapakan penggantinya?
Ginting mengatakan sebagai pengganti ada tiga kepala staf angkatan yang saat ini masih menjabat dengan masa pensiun yang masih lama.
Dikatakan Ginting, solusi potong generasi di tubuh TNI sangat kecil kemungkinan terjadi.
Hal itu dikarenakan saat ini terjadi surplus kolonel dan perwira tinggi di tubuh TNI.
"Jadi ada 150 perwira tinggi ditambah 500 kolonel. Kalau dilakukan potong generasi tidak menyelesaikan masalah malah menambah panjang daftar surplus jenderal jadi itu keputusan tidak bijak," ujar Ginting.
Ginting berkeyakinan untuk calon pengganti Andika Perkasa adalah kepala staf yang sedang menjabat saat ini.
Mereka yang saat ini masih menjabat di antaranya adalah KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo, KSAL Laksamana Yudo Margono, dan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman yang kebetulan ketiganya alumni abituren 1988.
Cuma yang membedakan adalah posisi Fadjar dan Dudung 88 B dan Yudo lebih senior 88 A. "Saya kira tidak akan lepas dari situ," tuturnya.
Namun, berkaca pada tradisi dari era SBY dan Jokowi itu, Ginting melihat Presiden lebih mempercayakan jabatan Panglima TNI ke KSAD dari pada KSAL dan KSAU.
Hal itu kemungkinan bisa terjadi Kembali dengan pertimbangan eskalasi politik nanti.
"Mungkin menghadapi eskalasi politik yang semakin panas. Sekarang hampir setiap hari ada demo penolakan kenaikan harga BBM ini akan panas terus jadi sangat mungkin akan terjadi pergantian di elit militer dalam bulan Oktober," paparnya.
"Saya memperkirakan Angkatan Laut akan kehilangan kesempatan lagi untuk menjadi Panglima TNI,” katanya.
“Karena memang ini hak prerogatif presiden bukan persoalan giliran atau rotasi Angkatan,” jelasnya.
“Jadi saya melihat peluang Dudung Abdurachman jauh lebih besar daripada Yudo Margono dan Fadjar Prasetyo," tutur Ginting.
Apalagi dalam hal lain, Ginting melihat kalkulasi politik Presiden Jokowi dalam memilih seseorang untuk mengisi jabatan, lebih suka melihat dari faktor kedekatan.
Begitupun dengan pemilihan Panglima TNI, Jokowi akan memilih pada aspek kedekatan dan ketegasan.
Kemungkinan, Ginting melihat jika faktor kedekatan itu ada pada sosok Jenderal Dudung.
Hal itu bisa dilihat saat Dudung memberikan sambutan pada acara silaturahmi nasional purnawirawan AD di Sentul.
Dudung menegaskan akan bersikap tegas, bahkan berani bersikap keras dalam menghadapi ancaman nyata, yaitu Papua.
"Tegas di depan Presiden, bagaimana reaksi Presiden mengangguk-angguk tanda kemudian menyetujui apa yang akan dilakukan Jenderal Dudung kalau ia menduduki posisi Panglima TNI,” katanya.
“Saya kira Jokowi saat ini membutuhkan figur sangat tegas untuk memimpin TNI, dan figur lapangan itu ada pada profil Jenderal Dudung. Itu yang saya amati sampai peristiwa silaturahmi nasional PPAD di Sentul," ujar Ginting.
Sumber: SuaraLampung.id | YouTube Hersubeno Point
Berita Terkait
-
Nasib Jenderal Andika Perkasa Bisa Senasib dengan Gatot Nurmantyo, Jabatan Panglima TNI Dipercepat Lagi?
-
'Seksinya' Istri Ferdy Sambo di Kasus Brigadir J, Surat Cinta Deolipa Yumara untuk Jokowi dan Kapolri: Dua Nama Jenderal Copot dari Jabatan
-
Hacker Bjorka Bikin Geger Istana, Sebut Dokumen untuk Jokowi Bocor, Orang Dalam: Penegak Hukum akan Memprosesnya
-
Jenderal Dudung 'Ditelanjangi' Anggota DPR, Ternyata Ini Kebiasaan KSAD yang Dinilai Suka Bikin Heboh
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi
-
5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna
-
Prabowo-Gibran Kompak Pakai Beskap, Pimpin Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan di Monas
-
Dari Bundaran HI, Warga Titip Harapan untuk Indonesia di HUT Ke-81 RI
-
KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya