/
Kamis, 22 September 2022 | 20:25 WIB
Ustadz Adi Hidayat. (Tangkapan layar/Youtube/Adi Hidayat Official)

SuaraBandung.id – Dalam salah satu kajian, Ustadz Adi Hidayat pernah mengungkapkan mengenai asal usul peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bulan Rabiul Awal tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal merupakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW atau dikenal sebagai Maulid Nabi. Di tahun 2022, peringatan Maulid Nabi akan jatuh pada 7 Oktober 2022. 

Namun, memperingati Maulid Nabi, bagi sebagian kalangan umat Islam masih menjadi kontroversi.

Ustadz Adi Hidayat pun mengungkapkan asal usul peringatan Maulid Nabi.

Seperti dilansir SuaraBandung.id dari kanal YouTube Cahaya Hijrah, Kamis (22/9/2022), berikut ulasannya.

Mengenai sejarah Maulid Nabi, terdapat beberapa versi mengenai tepat pada tahun keberapa Maulid nabi mulai dilakukan.

Ustadz Adi Hidayat mengungkapkan mengenai awal mula sejarah Maulid Nabi, ada yang mengatakan dikisaran tahun 362-567 Hijriah adapula yang mengatakan dikisaran tahun 549-630 Hijriah dan adapula yang mengatakan sekitar tahun 567-640 Hijriyah.

Pendapat pertama mengataka bahwa sejarah maulid Nabi dicetuskan di kota Mesir oleh Abu Tamim pada saat Dinasti Ubaid.

“Jadi saat itu perayaan Maulid Nabi hanyalah sebuah perayaan saja dikisaran tahun 326-567 dan ada pendapat yang menyatakan haluannya adalah Syiah,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Baca Juga: Pernah Mimpi Bertemu Buya Yahya, Seorang Jamaah Bertanya, Ternyata Ini Maknanya

Adapun beberapa pendapat mengungkapkan bahwa Maulid Nabi dimulai pada tahun 549-630 di Irak, tepatnya di Kota Irbil. Dan yang mencetukannya adalah Gubernur Irbil Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri.

Saat itu, ia mengumpulkan para pemuda, ulama, dan para ahli untuk menjelaskan mengenai keutamaan, kemuliaan, hingga perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

“Jadi pada waktu itu menurut beberapa pendapat Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, mengumpulkan para ulama, ustadz, hingga pemuda disekitar Irbil untuk diberi pemahan oleh para ulama dan ahli mengenai perjuangan Nabi Muhammad SAW, hal ini dilakukan karena keprihatinan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri terhadap umat Muslim pada zaman itu yang mulai melupakan nilai-nlai yang diajarkan Rasullullah,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

Pendapat yang terakhir menyatakan bahwa Maulid Nabi dihidupkan kembali sekitar tahun 567-640 hijriyah oleh Sultan Shalahudin Al-Ayyubi.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan semangat jihad kaum muslimin pada saat itu dalam menghadapi perang salib melawan kaum salibis dari Eropa dan merebut Yerussalem dari tangan kerajaan Salibbis.

Dari ketiga pendapat tersebut, yang harus diambil adalah bukan perayaan dalam bentuk pestanya, melainkan untuk mengingatkan kita pada sosok Nabi Muhammad SAW, pada ajarannya, pada kemuliaanya, dan pada perbuatannya yang harus diteladani.

Load More