/
Selasa, 04 Oktober 2022 | 19:24 WIB
coretan berisi kekecewaan menghiasi dinding Stadion Kanjuruhan Malang, tragedi kanjuruhan (Suara.com/Dimas Angga)

SuaraBandung.id - Eko Arianto sudah memiliki tiket. Dia memang niat benar untuk menyaksikan pertandingan Arema vs Persebaya.

Namun pada akhirnya, Eko tidak masuk stadion untuk menyaksikan laga Arema vs Persebaya.

Dia memilih untuk menikmati malam dan gemuruh Aramenia dari luar stadion

Eko lebih memilih menikmati suasana malam itu dengan menyeduh kopi yang ada di kios tak jauh dari stadion.

Tak lama dari sana, Eko mendengar suara menggelegar dari dalam Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu 1 Oktober 2022.

Semua yang ada di sekitaran Eko mendadak terdiam. 

Saling tatap, dan akhirnya gelombang kemarahan dan ketakutan terasa kuat dari dalam stadion.

Saat itu Eko berhenti memberikan kesaksian tentang malam tragis itu. 

Tubuhnya melunglai hingga rebah di pangkuan Yuli yang ada di sampingnya.

Baca Juga: Imbas Tragedi Kanjuruhan, Kiper Persib Bandung Harap Bisa Cepat Pulih

“Gak kuat aku mas,” tuturnya.

Aremania dari distrik Dau itu menangis meraung-raung. 

Yuli Sumpil lantas mengusap-usap punggungnya, menenangkan.

“Yang kuat… gak apa-apa, ceritakan saja,” kata Yuli.

Eko dan Yuli hadir sebagai saksi dalam konferensi pers Federasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tidak Kekerasan, Malang, Senin 3 Oktober 2022.

Mereka adalah penyintas tragedi Kanjuruhan dua hari sebelumnya, yang mengakibatkan ratusan Aremania meninggal dunia. 

Load More