SUARA BANDUNG – Sebuah akun twitter membongkar sosok dan motif di balik pelarangan peredaran & penjualan baju bekas (thrifting) di Indonesia. Diungkap oleh akun @_palungmariana (5/4/2023), bahwa sosok dibalik itu adalah Fiki Satari.
Fiki Satari merupakan Staf Khusus Menteri Koperasi Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kreatif dan pernah mencalonkan diri sebagai Calon Wali Kota Bandung pada tahun 2017. Menurut @_palungmariana kejadian ini bermula saat Fiki & timnya di Kemenkop-UKM kena teguran Teten Masduki yang dimarahi Jokowi perihal turunnya tingkat industri tekstil UKM.
Bagimana bisa, pada tahun 2022 pemerintah telah menggelontorkan bantuan dana senilai Rp 30,7 triliun melalui APBN 2022 untuk semua sektor industri UKM, termasuk industri tekstilnya.
Belum lagi ditambah dengan bantuan pemerintah khusus untuk industri kreatif, termasuk industri kreatif tekstil (clothing) sebanyak Rp 7,67 triliun.
Tapi di akhir tahun 2020, Pendapatan Domestik Bruto di sektor tekstil & produk tekstil anjlok hingga banyak pebisnis memutuskan hubungan kerja (mem-PHK) karyawannya.
Lalu kemana dana tersebut disalurkan?
Masih dari sumber yang sama, kabarnya dana APBN khusus untuk UKM tekstil ternyata lebih banyak dimanfaatkan Fiki Satari untuk membuat program yang menguntungkan usaha pribadi & kolega bisnisnya.
“Maklum, Fiki ialah Ketua Umum ICCN, sebuah komunitas industri kreatif yg salah satu programnya ialah mengurusi industri tekstil lokal berbentuk clothing. Sedangkan Fiki sudah jadi ketua sejak 2017 hingga sekarang,” tulis @_palungmariana.
“Adapum kegiatan ICCN yg memperoleh dana besar dari pemerintah juga tak jelas. Menurut banyak sumber, kegiatan ICCN hanya berbentuk seminar, rakornas, lokakarya, dan sejenisnya yg tak berdampak signifikan pada industri tekstil UKM,” tambahnya.
Baca Juga: Indonesia Kena Apes Dua Kali, Ini Daftar Negara yang Pernah Disanksi FIFA
Fiki Satari ternyata merupakan seorang pebisnis juga. Ia memiliki usaha clothing sejak 1998. Hingga saat ini Fiki Satari sudah memiliki 94 distro di seluruh Indonesia.
Jadi menurut pemilik akun @_palungmariana, penyebab terbesar merosotnya industri tekstil UKM yang sebenernya ialah banjirnya produk pakaian jadi asal China yang menguasai pasar Indonesia hingga 80%. Oleh karena itu lah, Fiki meminta Jokowi untuk larang impor pakaian bekas (thrifting) & penjualannya.
Menurutnya, hal ini merupakan bagian dari upaya jahat Kemenkop-UKM untuk memuluskan 'jalan' impor pakaian jadi China ke Indonesia. Sebab Kemenkop-UKM punya kerjasama bisnis dengan China sejak 2015. (*)
Sumber: Twitter @_palungmariana
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
- Syifa Hadju Anak Siapa? Ayah Kandung Dikabarkan Siap Jadi Wali Nikah
Pilihan
-
Rekam Jejak Jenderal Dudung Abdurachman: Dari Pencopot Baliho Kini Jadi Tangan Kanan Presiden
-
Reshuffle Kabinet: Qodari Geser dari KSP ke Bakom, Dudung Ambil Alih Peran Strategis di Istana
-
Profil Mohammad Jumhur Hidayat, Aktivis Buruh yang Kini Jadi Menteri Lingkungan Hidup
-
Prabowo Kocok Ulang Kabinet: Jumhur Hidayat Dilantik Jadi Menteri LH hingga Dudung Jabat Kepala KSP
-
Jumhur Hidayat Tiba di Istana Dikabarkan Jadi Menteri LH: Banyak Tugas, Harus Kerja Keras
Terkini
-
Perkuat Ekosistem Bisnis, BRI Catat Lonjakan Segmen Commercial Hingga Rp61,4 Triliun
-
Jumhur Jadi Menteri LH, Rocky Gerung di Istana: Kabinet Jadi Efektif Kalau Ada Tokoh Mantan Napi!
-
Bahlil Ngaku Tak Bisa Tidur Mikirin Pasokan LPG
-
Bojan Hodak Pastikan Mental Persib Bandung Tetap Kuat Meski Poin Disamai Borneo FC
-
Purbaya Dibilang Gila Usai Sebut IHSG Bisa Tembus 28.000 di 2030
-
Waspada! 24 Warga Badui Digigit Ular Mematikan Sejak Awal Tahun
-
Pemerintah Wajibkan Dapur Makan Bergizi Gratis Kantongi Sertifikat Higiene
-
Industri Budaya dan Kreatif Sumbang 3 Persen PDB Global, Peluang Identitas Lokal RI Mendunia
-
Putusan KPPU Tuai Kritik, Metodologi Denda Pindar Dinilai Tak Jelas
-
Segmen Commercial BRI Melesat Double Digit, Strategi Transformasi Tunjukkan Dampak Nyata