/
Selasa, 11 April 2023 | 19:20 WIB
Simak pendapat Probowatie Tjondronegoro, terkait dugaan AG alami trauma pelecehan seksual hingga jadi korban Statutory Rape Mario Dandy, berikut ini. (Instagram/@probowatietjondronegoro)

SUARA BANDUNG - Hebohnya potongan rekaman video sidang putusan Agnes Gracia (AG) yang dibacakan oleh Hakim Tunggal, Sri Wahyuni Batubara di PN Jaksel, Senin (10/4/2023), kian menjadi bola liar.

Pasalnya, dalam rekaman audio sidang tertutup untuk AG tersebut, tekuak fakta bahwa gadis 15 tahun itu merasa dilecehkan oleh Cristalino David Ozora. Namun, setelah itu ia juga melakukan hubungan badan dengan Mario Dandy hingga 5 kali.

Publik lantas beramai-ramai memperbincangkan kelakuan AG yang dinilai berbohong, karena mengaku trauma atas dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh David Ozora.

Sebab pada faktanya, AG bisa berhubungan badan dengan Mario Dandy sebanyak yang telah disebutkan oleh hakim tunggal.

Namun, ada pula warganet yang menduga bahwa bisa saja gadis tersebut alami trauma, hingga menjadi korban Statutory Rape oleh Mario Dandy.

Hal itu disampaikan salah satunya oleh pengguna Twitter @senjatanuklir saat mengomentari rekaman audio, yang kini telah dihapus oleh si pengunggah.

"Dandy melakukan statutory rape. Agnes di bawah age of consent, gbs u blg “suka sama suka." Sebenarnya sangat amat mungkin hypersexuality terjadi sbg trauma response but yeah," cuitnya 

Lantas, benarkah trauma korban pelecehan seksual anak bisa berdampak seseorang mengalami hiperseks? Begini pendapat Psikolog RS Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro.

"Iya memang bener, bukan hiperseks, karena dia sudah melakukan itu (hubungan badan) pertama, sehingga dia (AG) melakukan itu (lagi) tanpa rasa bersalah," jawab Probowatie Tjondronegoro, kepada tim bandung.suara.com melalui sambungan telefon, Selasa (11/4/2023).

Baca Juga: Jadi Model Tas Branded, Kecantikan Luna Maya Disanjung Netizen

Menurut Probowatie, dalam bahasa psikolog, kumpulan kebiasaan akan membentuk perilaku yang dianggap lazim, karena sudah dilakukan berulang oleh orang tersebut.

Termasuk dalam kasus dugaan traumatis yang dialami AG, yang diduga pula berefek sampai menjadi korban Statutory Rape oleh Mario Dandy.

"Mungkin waktu dia dengan David, itu ada tekanan, sensasi baru, gitu kan. Sehingga dia melakukan dengan Mario Dandy,'ah ora papa ah' (ah, nggak apa-apa, ah). Jadi mereka melakukan tanpa beban apa-apa" ujarnya.

Probowatie menegaskan bahwa dirinya tidak bisa serta merta melabeli dugaan-dugaan liar yang beredar di masyarakat terkait kasus tersebut.

Namun, apabila benar adanya paksaan dari hubungan badan AG dengan David, lantas gadis itu bisa kembali melakukannya dengan Mario Dandy, bisa saja memang bentuk efek dari trauma.

Karena setiap kejadian yang pernah dialami seorang sudah pasti direkam oleh memori, terlepas apakah hubungan intim AG dengan David kala itu suka sama suka atau ada paksaan.

"Kita tidak bisa memprediksi, apakah mungkin terjadi pelecehan waktu pertama, kita nggak ngerti. Namun memori mereka berdua kan sudah ada gambaran tentang apa yang telah dilakukan.'

'Saat dia ketemu dengan Mario, umur kan sudah bertambah. Ada stimulus dari si Mario, sedangkan AG sudah punya daftar pustaka di kepalanya. Kan bisa berulang," kata Probowatie.

Ia juga menambahkan bahwa kebanyakan kasus pelecehan seksual yang terjadi pada anak, bisa berefek pada tindakan traumatis yang mempengaruhi pola kehidupan si korban di masa mendatang.

Padahal, beberapa korban anak sewaktu mengalami pelecehan seksual, masih belum mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya.

Namun memori kejadian yang pernah dialami, masih rapat tersimpan di dalam kepala korban. Sehingga, penting adanya perhatian khusus bagi para korban, demi kesembuhan traumatisnya.

Seperti cinta dan kontrol dari keluarga, hingga lingkungan tumbuh kembang yang mendukung penyembuhan psikologis korban.

Sebab, efek traumatik korban pelecehan anak pada umumnya, dikatakan Probowatie justru dapat mendorong seseorang untuk melakukannya berulang kali, karena telah merasakan sensasinya.

Selain itu, efek berbeda seperti menutup diri dan merasa bersalah, hingga ada pula yang sengaja menceburkan diri ke dunia-dunia prostitusi, ketika beranjak dewasa karena alasan ekonomi.

Semua tergantung bagaimana orang terdekat dan lingkungan si korban dalam membentuk kepribadiannya, saat bertambah umur. (*)

Sumber: Psikolog RS. Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro

Load More