/
Kamis, 11 Mei 2023 | 18:46 WIB
Anak laki-laki dan perempuan yang mulai menyukai lawan jenis. (Pexels Artem Podrez)

SuaraBandungBarat.idAnak-anak sebenarnya sudah memiliki seksualitas walaupun belum memasuki masa pubertas karena mereka merupakan manusia normal dan organ-organ tubuhnya tengah berada dalam masa pertumbuhan, namun berbeda dengan orang dewasa yang sudah mencapai kematangan organ, anak-anak belum bisa berhubungan tubuh dengan lawan jenis selayaknya orang dewasa.

“Karena seksualitas itu bukan hanya tentang hubungan ranjang aja, tapi juga tentang relasi sama orang lain. Termasuk kalo mereka punya “crush” atau ngakuin temennya jadi pacar mereka. Apa artinya mereka beneran naksir? Belum tentu makna naksir mereka tuh sama loh dengan yang kita anggap,” jelas psikolog Inez Kristanti dalam caption Instagramnya.

Di dalam masyarakat, peristiwa di mana anak-anak yang menyukai teman seusianya dinamakan dengan cinta monyet atau perasaan romantis yang muncul pada saat kematangan usia belum sempurna.

Jika anak yang usianya jauh di bawah usia pubertas mengalami hal ini maka disebut dengan platonic love artinya kasih sayang atau rasa cinta yang tidak bersifat romantis, namun lebih mengarah pada perasaan sayang kepada teman lawan jenisnya, mungkin saja di pikiran mereka sekadar: Aku seneng main sama dia, makanya dia pacar aku.

Dilansir dari akun Instagram Inez Kristanti pada Kamis (11/5/2023) terdapat hal-hal yang perlu ditangani dengan bijak terutama oleh orangtua bila anak mengalami cinta monyet yaitu:

Pertama hindari menjodoh-jodohkan anak dengan anak lain sebelum waktunya, walaupun mereka seusia dan terlihat menggemaskan jika tengah bermain bersama.

Apabila dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan dampak yang kurang baik sebab belum sesuai dengan tahap perkembangan mereka, selain itu hal ini bisa membuat anak bingung dengan makna pertemanan dan cinta yang sesungguhnya.

Kedua, hindari meledek anak jika mereka tengah mengalami cinta monyet, salah satu dampak jangka panjang yang kurang baik bagi anak seperti tidak merasa aman untuk terbuka pada orangtuanya.

Bila anak mengalami cinta monyet, beri respon yang lebih tepat seperti, “Wah keliatan kalian seneng main bareng ya. Dia asik ya buat diajak berteman?” respon demikian membuat anak bisa melihat orangtuanya sebagai tempat yang aman untuk bercerita dan merasa nyaman untuk terus bercerita hingga ia dewasa kelak, “Akhirnya kita gak perlu diem2 kepoin love life-nya juga setelahnya hehehe,” kata Inez Kristanti.

Baca Juga: CEK FAKTA: Link Full Video Dewasa Virgoun dengan Selingkuhannya Tersebar, Cek Sebelum Dihapus?

”Terussss, kalo misal nih mereka bilang “naksir” atau ada “cinta2”-an monyet sama temennya, jangan malah kita ledekin terus “cie cie” gituuuu. Sungguh dulu gue pernah digituin dan malu banget. Jadi malu cerita sama orang dewasa di sekitar gue, dan akhirnya jadi cenderung jarang cerita ke ortu soal love life sampai udah dewasa hahaha,” ketiknya.(*)

Sumber: Instagram @inezkristanti

Load More