Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan ketertiban digital diperlukan. Menyusul kerusuhan yang meluas pada akhir Juni yang dipicu kematian seorang remaja oleh polisi.
"Kita harus melindungi anak-anak dan remaja kita dari layar dan menghapus konten yang menyerukan kekerasan. Kita membutuhkan ketertiban digital untuk mencegah ledakan ini," kata Macron kepada media TF1 dan France 2 dalam konferensi pers bersama saat mengunjungi Kaledonia Baru, Senin 24 Juli 2023.
Dia menyebut para pengunjuk rasa menggunakan media sosial untuk mengatur pertemuan dan kerusuhan, menambahkan "negara kami perlu kembali ke otoritas di setiap level, mulai dari keluarga."
Macron menyoroti bahwa penyebab aksi para pemuda selama kerusuhan berasal dari latar belakang sosial mereka, termasuk keluarga mereka dan situasi ekonomi.
“Bukan urusan pendidikan nasional, apalagi polisi untuk menyelesaikan masalah. Kita harus pergi ke akar dan membuat keluarga sadar akan tanggung jawab mereka," tambahnya.
Presiden Prancis itu juga berterima kasih kepada Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin dan otoritas setempat atas upaya mereka untuk memulihkan ketertiban umum setelah kerusuhan selama empat hari di akhir Juni.
"Menteri Dalam Negeri melakukan pekerjaan luar biasa, dan selama kerusuhan, kami melihat pekerjaannya yang efektif sebagai kepala kementerian," puji Macron.
Kerusuhan di Prancis
Aksi protes dimulai di Prancis pada akhir Juni ketika seorang polisi menembak mati remaja 17 tahun keturunan Aljazair Nahel M, saat pemeriksaan lalu lintas di kota pinggiran Paris, Nanterre. Insiden tersebut dilaporkan terjadi setelah ia mengabaikan perintah berhenti.
Baca Juga: Heboh Video Viral Minyak Telon Gadis SMP, Ini 5 Bahaya Memasukkan Benda Asing ke Miss V
Menyusul tewasnya Nahel, ribuan orang turun ke jalan-jalan di Prancis.
Selama aksi protes yang terjadi beberapa kota, termasuk Paris, Marseille, dan Lyon, terjadi insiden perampokan dan penjarahan.
Macron menunjuk kemungkinan intervensi pada media sosial jika insiden seperti itu terjadi di masa depan, yang banyak dikritik oleh partai oposisi.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
8 Drama China yang Tayang Februari 2026, Genre Misteri hingga Komedi
-
Tutorial Jadi Generasi Sandwich: Kenyang Makan Hati, Dompet Diet Ketat
-
Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
-
Manajer Bongkar Pendapatan Fajar SadBoy Setahun, Cuma Segini
-
Jadwal Imsakiyah Kota Padang Hari Ini, Sabtu 28 Februari 2026
-
Cerita Wayne Rooney: Lagi Kesal dengan Sir Alex Eh Lihat Kelakuan Anomali Diego Maradona
-
Demo Mahasiswa di Bulan Ramadan, Polisi Turunkan Tim Sholawat untuk Pengamanan
-
Polemik Akses Musala di Cluster, Pengembang Buka Suara Usai Diusir Komisi III DPR
-
Jadwal Imsakiyah Kota Malang Sabtu 28 Februari 2026
-
Negosiasi AS-Iran Gagal! Ancaman Perang Bisa Terjadi dalam 15 Hari ke Depan