Selain wisata dan keberagaman budayanya, Kalimantan Timur juga menyimpan banyak senjata tradisional yang cukup unik.
Bahkan, beberapa senjata tradisional ini masih sering digunakan oleh masyarakat suku tertentu seperti suku Dayak.
Lantas apa saja senjata tradisional khas Kalimantan Timur? berikut daftarnya:
1. Mandau
Dikutip dari berbagai sumber, Mandau merupakan salah satu senjata tradisional khas suku Dayak.
Mandau berbentuk seperti pedang yang biasa digunakan sebagai alat perburuan di masa lampau.
Orang Dayak memiliki teknik unik saat melakukan perburuan dengan menargetkan kepala, untuk itulah dalam tujuan perburuan ini orang Dayak menggunakan mandau.
Panjang rata-rata bilah mandau adalah sekitar 50-70 cm dan memiliki tepi yang tajam.
Biasanya lebar mandau adalah sekitar 4,5 cm di bagian terluas pisau, dan 3,5 cm di bagian terkecil.
Baca Juga: Terkuak! Alasan MA Ungkap Kebohongan Pinkan Mambo ke Publik soal Homeschooling
2. Gayang
Suku Dayak Kadazandusun di Kalimantan Timur memiliki senjata tradisional bernama Gayang.
Gayang terlihat seperti Mandau tetapi perbedaannya dalam segi model bilah dan sarung yang melengkung.
Bahkan ukurannya pun berbeda karena Gayang lebih panjang daripada Mandau.
Kesamaan kedua senjata tradisional ini adalah dalam pembuatannya karena sama-sama melewati ritual-ritual tertentu.
3. Lonjo
Kalimantan Timur memiliki senjata tombak yang khas bernama Lonjo.
Lonjo biasa digunakan untuk berburu atau berperang dengan bentuk yang ujungnya meruncing panjang.
Pegangan dari Lonjo ini menggunakan bambu dan untuk menyatukannya dengan besi dan mambu digunakanlah rotan.
Menurut masyarakat Dayak, anyaman rotan yang digunakan untuk menyambungkan itu tahan lama dan sangat kuat.
4. Bujak
Bujak memiliki bentuk dan fungsi yang mirip dengan Lonjo.
Perbedaannya ada pada tangkai Bujak yang dibuat dari kayu ulin dan mata Bujak terbuat dari besi.
Panjang Bujak sekitar tiga meter dan biasanya digunakan untuk keperluan berburu karena mata Bujak diolesi racun getah pohon ipuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
3 Cara Menghasilkan Uang dari HP Tanpa Modal untuk THR Lebaran, Terbukti Cuan Maksimal
-
Jabat Sekjen Kementan, Harta Mertua Dwi Sasetyaningtyas Tembus Rp3 Miliar Lebih
-
4 Pelembab Bamboo, Perbaiki Skin Barrier Kulit Sensitif yang Mudah Iritasi
-
7 Serum Alpha Arbutin dan Niacinamide Ampuh Hempas Noda Hitam, Siap Glowing saat Lebaran
-
Ambisi Ekspor Kendaraan Komersial Indonesia Melambung di GIICOMVEC 2026
-
Tolak Hukuman Mati ABK Fandi Ramadan di Kasus 2 Ton Sabu, Legislator DPR: Bukan Aktor Dominan
-
Drama Kasus Tual: Kenapa Kapolda Maluku Kejar Tenggat Waktu Pelimpahan Berkas Bripda Siahaya?
-
Terungkap! 4 Fakta Pelarian 8 Tahanan Polres Way Kanan Berawal dari Tukang Kantin
-
Jadwal Imsakiyah Ramadan di Samarinda, Selasa 24 Februari 2026
-
Jadwal Imsakiyah Kota Padang Selasa 24 Februari 2026, Cek Waktu Sahur hingga Berbuka!