Ancaman kepunahan terhadap burung Jalak Bali dimasukkan dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional flora dan fauna.
Menurut CITES burung Jalak Bali masuk kategori Appendix I. Hal itu menyatakan bahwa satwa ini tidak boleh diperdagangkan dan ada larangan untuk mengambil dan menjualbelikannya karena terancam punah.
Sedangkan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) masuk ke dalam kelompok “kritis” (Critically Endangered). Status tersebut memiliki arti bahwa ada risiko besar yang dialami Jalak Bali terhadap kepunahan dalam waktu dekat di alam liar.
Penyebab Langka
Ancaman kepunahan yang dihadapi Jalak Bali dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu alami dan non alami.
Faktor non alami merupakan penyebab yang paling dominan akibat perilaku manusia yang semakin mendesak habitat burung dan menurunkan jumlah individu di alam liar.
Kegiatan perburuan liar terhadap burung endemic ini memperparah keadaan. Jalak Bali banyak diburu untuk menjadi koleksi burung kicauan.
Kegiatan tersebut akan mengubah tatanan dan struktur ekosistem di alam. Perburuan dapat menyebabkan jumpah burung jantan dan betina tidak seimbang sehingga menggagalkan proses reproduksi.
Kegiatan deforestasi yang tidak memperhatikan habitat flora dan fauna juga menyebabkan tempat hidup burung ini semakin sempit dan terdesak sehingga menyulitkannya untuk mencari makanan.
Baca Juga: Foto Bareng Syahnaz, Jeje Disebut Enggak Ada Harga Diri
Salah satu alasan deforestasi adalah alih fungsi lahan untuk tempat mukim penduduk yang kian bertambah.
Data BKSDA Bali Barat menyatakan jika ruang hunian atau home ring Jalak Bali saat ini hanya tersisa kurang dari 1.000 hektar.
Faktor Alam
Faktor alam yang menyebabkan kelangkaan dan ancaman kepunahan dapat dibagi menjadi beberapa kriteria, yaitu peningkatan predator alami (ular dan burung elang), penyakit, hewan pesaing tempat hidup dan makanan, bencana alam serta mortalitas atau laju kematian yang tinggi.
Selain itu, kondisi lingkungan seperti musim kemarau yang panjang menjadikan habitat di Taman Nasional Bali Barat menjadi tidak toleran dan menurunkan kualitas serta harapan hidup Jalak Bali.
Musim kemarau yang berlangsung terlalu lama akan mengurangi sumber air yang menjadi sumber utama kehidupan flora dan fauna.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
Terkini
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
PTBA Tebar Kebahagiaan Idul Adha, 300 Hewan Kurban Disalurkan ke Berbagai Wilayah Operasional
-
Bagasi Mobil Selalu Penuh saat Mudik? Ini Tips Menata Daging Kurban dan Oleh-oleh agar Tetap Muat
-
Timnas Indonesia Resmi Hadir di EA Sports FC 26
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bolehkah Daging Kurban Dibagikan kepada Non Muslim? Ini Penjelasan Ulama yang Menyejukkan
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
-
Bacaan Dzikir di Hari Tasyrik yang Dianjurkan Rasulullah, Pahalanya Besar dan Sangat Dicintai Allah
-
Kasus 3 Ons Sabu Gegerkan Ketapang, Tiga Oknum Polisi Kini Diperiksa