Suara.com - Bayangkan saja jika tiba-tiba Anda terkena PHK secara mendadak. Rasanya hidup seperti terkena samberan petir yang sangat mematikan. Kebanyakan orang yang terkena PHK tidak akan bisa berbuat apa-apa, kecuali mencari tempat kerja baru supaya kondisi keuangannya tidak kacau. Untuk membantu Anda ketika hal buruk ini terjadi, berikut ini tips mengatur keuangan jika terkena PHK:
1. Gunakan Dana Pesangon Sebijak Mungkin
Jika Anda terkena PHK, untuk sementara mungkin Anda akan bergantung dengan menggunakan dana pesangon untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dana pesangon yang diberikan perusahaan tentu jumlahnya berbeda-beda, hal itu tergantung dari jumlah gaji dan masa waktu Anda bekerja di perusahaan lama.
Menurut UU No. 13 Tahun 20023 tentang Ketenagakerjaan, jumlah besarnya uang pesangon itu antara satu kali sampai sembilan kali dari gaji karyawan biasanya, dan juga tergantung dari masa kerja.
Dalam menggunakan dana pesangon ini, Anda harus menggunakannya dengan tepat guna, tidak boleh sembarangan. Hal itu dilakukan melihat terbatasnya jumlah dana pesangon itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Agar lebih berkualitas, gunakan daftar prioritas ketika ingin belanja kebutuhan.
Perhatikan hal berikut ini dalam mengelola keuangan yang berasal dari pesangon, antara lain: Pertama, ketahui terlebih dahulu berapa total dana pesangon yang Anda dapatkan dari perusahaan tempat bekerja. Kedua, Ketahui juga seberapa besar dana darurat yang Anda miliki. Ketiga, hitung pengeluaran rutin bulanan Anda dan keluarga. Keempat, Usahakan dana pesangon itu bersisa, dan bisa Anda bayarkan utnuk membayar hutang. Nah, selanjutnya Anda bisa menentukan prioritas mana saja yang bisa diselesaikan dengan dana pesangon itu.
2. Prioritaskan Pengeluaran Rutin
Prioritaskanlah penggunaan dana itu untuk pengeluaran rutin sehari-hari. Kalau bisa, dana yang disimpan jika sewaktu-waktu terkena PHK adalah enam kali gaji bulan. Namun apa yag terjadi jika sudah lebih dari 6 bulan Anda belum menemukan pekerjaan baru? Masalah itu bisa diselesaikan dengan cara menurunkan tingkat standar hidup. Maksudnya jika biasanya keluarga Anda menggunakan beras seharga Rp10.000 per kg, maka Anda harus ikhlas untuk menggunakan beras lebih murah, intinya usahakan pengeluaran rutin Anda bisa ditekan seminim mungkin
3. Utamakan Bayar Utang
Dana yang Anda miliki dari dana pesangon sudah sebagian dipakai untuk keperluan sehari-hari. Maka prioritas kedua adalah kewajiban membayarkan hutang. Jika dana pesangon yang didapat berjumlah besar, sebaiknya segera lunasi utang lebih dulu. Bagaimana bila dana pesangon yang diterima tidak mencukupi untuk memenuhi biaya kebutuhan rutin dan pembayaran cicilan utang? Dalam hal ini, ada dua cara yang bisa diambil.
Pertama, Anda terpaksa menjual aset yang Anda miliki. Namun, pastikan agar aset yang dilepas tidak mengganggu kehidupan keluarga. Misalnya, bila tidak benar-benar terpaksa, jangan sampai menjual rumah yang jadi tempat tinggal. Kedua, bila penjualan aset masih tidak mencukupi, Anda terpaksa harus kembali berutang. Namun, jangan cari utang yang berbunga. Anda sebaiknya berutang ke keluarga atau teman.
4. Proteksi Dana Anda dan Mulailah Berinvestasi
Pengeluaran rutin terpenuhi, hutang, dan cicilan lunas semua, dan masih ada sisa, maka sebaiknya sisa ini Anda gunakan untuk berinvestasi atau dibelikan asuransi. Ketika terkena PHK, untuk memproteksi dana, Anda bisa menggunakan proteksi asuransi kematian, sehingga ketika pencari nafkah wafat, dana Anda masih bisa terlindungi dan bisa dinikmati keluarga. Jika dananya masih lebih juga, maka gunakanlah asuransi jiwa yang berguna untuk melindungi biaya pengobatan atas penyakit berat. Sehingga Anda tidak perlu repot lagi memikirkan biaya pengobatan jika suatu saat mengalami sakit berat.
Bagaimana kalau uang yang tersisa Diinvestasikan? Boleh saja, tapi hati-hati dalam berinvestasi, Anda harus cermat memilih investasi yag cocok dengan kondisi keuangan seperti ini. Ketika anda terkena PHK, maka produk investasi yang cocok bagi anda adalah yang memenuhi tiga karakter ini, pertama, Investasinya likuid, sehingga saat nnda memerlukan dana cepat, Anda bisa mencairkannya dengan mudah. Kedua, return harus di atas inflasi. Ketiga, bisa dijadikan sebagai passive income. Sehingga anda bisa menggunakan hasil investasi itu untuk menambal kebutuhan jangka panjang lainnya.
5. Mengubah Gaya Hidup
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Rupiah Tertekan, Dolar AS Terus Naik ke Level Rp17.855
-
Cuan untuk Investor, Buyback Emas Antam Naik Lebih Tinggi dari Harga Jual
-
Tak Hanya Belanja, Pengunjung PRJ Kini Berburu Investasi Emas
-
Jelang Review MSCI, IHSG Dibuka Merah ke Level 6.096
-
Pasar Pantau Kesepakatan AS - Iran, Harga Minyak Dunia Naik Tipis
-
Profil PT Bach Multi Global Tbk (BACH), Jaringan Bisnis 'Grup Djarum' yang Siap IPO
-
Wacana Rokok Murah untuk Masyarakat Bawah Dikritik, Ancam Penerimaan Cukai Negara
-
cashUP Perkuat Ekosistem UMKM Digital, Satukan Pembayaran, Pembiayaan, dan Teknologi
-
IHSG Tertekan! Asing Lepas Saham Blue Chip Senilai Rp1,1 Triliun
-
Tiket Pesawat Gratis PPN dan Diskon Kereta, Ini Rincian Stimulus Ekonomi Rp26,3 Triliun