Suara.com - Peningkatan volume penjualan bahan bakar khusus (BBK), seperti pertamax dan pertalite merupakan hasil strategi pemasaran PT Pertamina yang terus memperkecil selisih harga keduanya dengan premium, kata seorang pengamat energi.
"Sepanjang setahun terakhir, Pertamina telah menurunkan harga jual pertamax dan pertamax plus sebesar 22-23 persen," ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahean di Jakarta, Minggu.
Ia mengatakan selisih harga tentu sangat berpengaruh dalam peningkatan penjualan pertamax series dan pertalite. "Komponen harga sangat berpengaruh pada masyarakat untuk mengambil keputusan dalam penggunaan BBM," tegas Ferdinand.
Menurut dia, jika melihat fakta di lapangan, mobil-mobil mewah pun sering menggunakan premium yang sebetulnya tidak cocok dengan spesifikasi kendaraan tersebut. Namun karena faktor harga masih sangat dominan, akhirnya banyak yang tetap membeli premiun.
"Dengan selisih harga yang tidak begitu jauh saat ini maka orang lebih memilih BBM dengan kualitas lebih baik," kata dia.
Ferdinand mengatakan peningkatan konsumsi pertamax series saat ini belum bisa dinyatakan sebagai akibat dari kesadaran masyarakat, meski memang faktor itu ada tapi relatif sangat kecil.
Pada 15 Mei 2015, selisih harga pertamax dengan premium tercatat mencapai Rp2.200 per liter. Sementara pada 15 Mei 2016, selisih harga premium dan pertamax tidak lebih hanya Rp900 per liter.
Marwan Batubara, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), menambahkan formula harga yang digunakan Pertamina saat ini sesuai dengan harga keekonomian. Dengan harga sekarang wajar masyarakat sudah bisa memilih BBM yang berkualitas.
"Itu artinya pertamax, yang kita tahu memang lebih bagus dari premium kemudian harga BBK saat ini memang tidak terlalu jauh dari premium," kata dia.
Menurut Marwan, dampak lingkungan juga menjadi perhatian masyarakat sehingga meskipun harga lebih mahal dibanding kualitas yang lebih mahal tapi tidak jadi soal dan masih dianggap menguntungkan. "Kecuali naik lagi dengan signifikan, lain lagi nanti ceritanya," katanya.
Sementara itu anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Rinaldy Dhalimi mengatakan pertamax dan pertalite memang berbeda untuk kerja mesin mobil atau sepeda motor. "Kalau harganya murah, pasti masyarakat nantinya akan beralih ke sana," katanya.
Pertamina sebelumnya mencatat konsumsi pertamax yang memiliki oktan (RON) 92 meningkat dari 8 ribu kiloliter (KL) per hari menjadi 10 ribu KL per hari. Sementara itu, pertalite, BBM beroktan 90 itu juga menunjukkan hal yang positif. Hingga April 2016, konsumsi pertalite sudah mencapai 600 ribu KL.
Pertamina per 15 Mei 2016 menurunkan harga pertamax Rp200 per liter untuk seluruh provinsi di Jawa dan Bali menjadi Rp7.350-Rp7.450 per liter dan menurunkan Rp300 per liter untuk daerah lainnya menjadi Rp7.700-Rp10.650 per liter. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- 5 Rekomendasi Body Lotion Terbaik Mencerahkan Kulit di Indomaret
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Yaqut Diperiksa KPK Pekan Ini Usai Praperadilannya Ditolak, Langsung Ditahan?
-
Dua Kali Blunder Kiper Tottenham Antonin Kinsky Bikin Igo Tudor Kehabisan Kata-kata
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
Terkini
-
Atasi Darurat Sampah, Pemerintah Kejar Setoran 14 Proyek Waste to Energy
-
IHSG Menguat 0,53% di Sesi I, Tapi Banyak Saham Merah
-
Tak Dipotong Pajak! THR Prabowo-Gibran Cair, Segini Besarannya
-
BNI Sekuritas Optimistis Pasar Saham, Proyeksi IHSG Capai 7.800 Didukung Sektor Komoditas
-
Presiden Prabowo: Krisis Global Dorong Indonesia Percepat Swasembada Energi
-
Aturan PP Tunas Terbit, Pelaku Usaha Masih Menanti Kepastian Parameter Risiko
-
Lentera Perempuan Berdaya, Ketika Usaha Mikro Menyalakan Harapan: Dari Iftar Bersama PNM
-
Paripurna DPR Setujui 5 Pimpinan OJK Priode 2026 - 2031
-
Dapat THR Sebaiknya Investasi Apa? Ini 4 Pilihan yang Cocok
-
LPDB Koperasi Dorong Generasi Muda Kembangkan Ekonomi Melalui Koperasi Modern