Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan telah terjadi inflasi sebesar 0,33 persen pada bulan April 2023 atau usai momen bulan ramadhan dan lebaran. Tapi laju inflasi ini ternyata lebih rendah dibandingkan dengan momen ramadhan dan lebaran tahun lalu.
"Lebaran memang berpengaruh terhadap peningkatan permintaan barang dan jasa dan perubahan harga di konsumen. Tetapi kali ini lebih rendah dibandingkan lebaran 2023," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konfrensi pers virtualnya, Selasa (2/5/2023).
Diketahui pada momen ramadhan dan lebaran tahun lalu, laju inflasi menembus 0,40 persen.
Menurut Margo ada dua faktor yang menyebabkan inflasi pada lebaran kali ini lebih rendah. Pertama karena pasokan komoditas hortikultura yang relatif terjaga. Dia mengatakan kondisi tersebut ditopang oleh aktifitas panen sepanjang Maret sampai April 2023. Hal ini tercermin dari deflasi cabai merah dan cabai rawit yang meredam tingkat inflasi umum.
Kedua, inflasi turun dibandingkan pada Lebaran 2022 lantaran harga komoditas pangan. Ia berujar kenaikan beberapa komoditas pangan pada April 2023 relatif lebih rendah dibandingkan momen Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya.
Diketahui sektor yang menjadi penyumbang terbesar pada inflasi tahunan pada April 2023 adalah transportasi seiring musim mudik Lebaran dengan andil 1,45 persen.
Sementara berdasarkan komoditas, inflasi tahunan pada April 2023 disebabkan kenaikan bensin (0,91 persen), beras (0,37 persen), dan rokok kretek filter (0,21 persen).
Margo mengungkapkan penyumbang inflasi merupakan kelompok transportasi dengan inflasi sebesar 0,84 persen dan andil inflasi sebesar 0,11 persen.
Sedangkan berdasarkan komoditasnya, tarif angkatan udara menjadi penyumbang terbesar pada inflasi bulan ini dengan andil sebesar 0,06 persen. Kemudian diikuti angkutan antarkota (0,03 persen), emas perhiasan (0,02 persen), daging ayam ras (0,02 persen), beras (0,02 persen), dan rokok kretek filter 0,02 persen.
Baca Juga: Atasi Rasa Bosan Pascalebaran, Lakukan 4 Kegiatan Ini agar Tetap Produktif
Dari 90 kota yang dipantau BPS, 77 kota mengalami inflasi dan 13 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi ada di Kota Jayapura sebesar 1,22 persen dan deflasi terdalam Kota Meulaboh yang minus 0,70 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
Terkini
-
Smelter Nikel MMP Matangkan Sistem Jelang Operasi Penuh
-
Dorong Wisatawan Lokal, Desa Wisata Tebara Raup Rp1,4 Miliar
-
OJK Restrukturisasi Kredit 237 Ribu Korban Bencana Sumatera
-
Moodys Pertahankan Rating Indonesia di Baa2, BI Tegaskan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
-
OJK Bentuk Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal
-
Moody's Turunkan Outlook Peringkat Indonesia ke Negatif
-
BCA Wanti-wanti Gen Z: Hati-hati Beli Rumah Pakai KPR
-
Purbaya Datangi Perusahaan China Pengemplang Pajak, Rugikan Negara hingga Rp 5 T
-
Kecelakaan Maut di IUP Bukit Asam, Kementerian ESDM Terjunkan Tim Investigasi
-
Sempitnya Peluang Ekonomi RI, Saat Gelar Sarjana 'Keok' oleh Lulusan SD